Dark/Light Mode

Keberpihakan yang Nyata

Jumat, 24 April 2026 08:22 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Keberpihakan mudah diucapkan, sulit dibuktikan. Ia hadir dalam pidato, tercetak dalam dokumen, dan diulang dalam berbagai forum. Namun warga tidak menilai dari kata, melainkan dari dampak. Siapa yang benar-benar terbantu? Siapa yang tetap tertinggal? Di situlah keberpihakan diuji.

Kelompok rentan tidak membutuhkan deklarasi. Mereka membutuhkan akses yang nyata: bantuan yang tepat waktu, layanan yang mudah dijangkau, dan perlindungan yang tidak diskriminatif. Tanpa itu, keberpihakan hanya menjadi narasi yang indah, tetapi kosong.

Baca juga : Pelayanan yang Berarti

Masalahnya, distribusi manfaat sering tidak sejalan dengan klaim kebijakan. Program dirancang untuk semua, tetapi hasilnya lebih banyak dirasakan oleh yang sudah memiliki akses. Yang kuat bergerak cepat memanfaatkan peluang, yang lemah tertahan oleh syarat dan keterbatasan. Di titik ini, keberpihakan berubah arah.

Keberpihakan yang nyata menuntut keberanian untuk tidak netral. Ia harus melihat ketimpangan dan memutuskan untuk mengoreksinya. Tanpa keputusan ini, kebijakan akan terlihat adil, tetapi sebenarnya tidak setara. Yang rapuh tetap rapuh, meski program berjalan.

Baca juga : Negara yang Mendekat

John Rawls menegaskan bahwa keadilan mengharuskan perhatian khusus pada mereka yang paling tidak beruntung (A Theory of Justice, 1971). Prinsip ini menempatkan kelompok rentan sebagai tolok ukur, bukan sebagai pelengkap. Jika mereka tidak mengalami perbaikan, maka keadilan belum tercapai.

Keberpihakan juga soal desain. Bagaimana syarat dibuat, bagaimana informasi disampaikan, dan bagaimana layanan dijalankan. Hal-hal kecil ini menentukan apakah manfaat benar-benar sampai atau berhenti di tengah jalan. Tanpa perhatian pada detail, kebijakan mudah kehilangan arah.

Baca juga : Elite & Realitas

Keberpihakan bukan retorika, tetapi distribusi manfaat. Ia terlihat dalam siapa yang dilindungi lebih dulu dan siapa yang tidak ditinggalkan. Negara yang mampu mewujudkannya tidak perlu banyak menjelaskan—karena warga sudah merasakannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.