BREAKING NEWS
 

Idul Adha Jadi Momentum Tingkatkan Kesadaran Keamanan Siber

Reporter & Editor :
FAZRY
Rabu, 27 Mei 2026 08:49 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Momentum Idul Adha 1447 Hijriah dinilai relevan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan siber di Indonesia.

Semangat pengorbanan yang menjadi esensi Hari Raya Kurban disebut dapat diterapkan dalam kebiasaan menjaga keamanan data dan identitas digital.

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Dr. Pratama Persadha mengatakan masyarakat perlu memahami perbedaan antara menjadi korban dan berkurban dalam konteks keamanan digital.

Baca juga : Ucapkan Selamat Idul Adha, Menag: Semangat Kurban Energi Kebersamaan

Menurut dia, menjadi korban berarti kehilangan data pribadi, uang, atau identitas digital tanpa kesadaran dan tanpa persetujuan.

Sebaliknya, berkurban dalam keamanan siber berarti rela mengorbankan sedikit kenyamanan demi perlindungan digital yang lebih besar.

Adsense

“Memasang autentikasi dua faktor memang merepotkan. Mengganti password secara berkala memang tidak praktis. Memverifikasi setiap pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank atau lembaga resmi memang memakan waktu. Tapi itu adalah pengorbanan kecil yang justru melindungi aset digital kita,” ujar Pratama dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Dr. Pratama Persadha. (Foto: Dok. Pribadi)

Baca juga : Srikandi Demokrat Dorong Pelatihan Kerja Warga Jakbar

Ia menilai, kesadaran keamanan digital masyarakat Indonesia masih lemah. Banyak pengguna internet masih mudah tergiur tawaran hadiah palsu, mengklik tautan mencurigakan, hingga mengunduh aplikasi yang meminta izin akses berlebihan.

“Pola ini mirip dengan hewan yang digiring ke tempat pemotongan tanpa sadar akan apa yang terjadi. Bedanya, dalam Idul Adha hewan kurban dipilih secara sadar oleh yang berkurban. Dalam dunia digital, rakyat sering menjadi pihak yang tidak pernah diajak berunding ketika data mereka diperdagangkan atau identitas mereka dipalsukan,” kata dia.

Sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026, Indonesia menghadapi berbagai insiden kebocoran data. Mulai dari dugaan jual beli data ratusan juta penduduk di dark web hingga kebocoran pada platform perdagangan elektronik, lembaga keuangan, dan layanan publik.

Baca juga : Kemlu Dorong Peningkatan Standar Layanan Pengunjung Asing Di Sumbar

Modus kejahatan digital terus berkembang, mulai dari phishing hingga pemanfaatan teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan yang semakin sulit dibedakan dari komunikasi asli.

Pratama menilai upaya literasi keamanan siber harus diperkuat dari hulu. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital serta Badan Siber dan Sandi Negara diminta memperluas edukasi keamanan digital yang lebih sederhana, membumi, dan mudah dipahami masyarakat.

“Analogi kurban bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk menjelaskan bahwa setiap pengorbanan kecil dalam menjaga keamanan digital adalah ibadah dalam konteks melindungi diri dan keluarga dari kejahatan siber,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense