RM.id Rakyat Merdeka - Setelah melalui perjalanan panjang yang sarat tantangan, diiringi doa orang tua serta dukungan kerja bersama kedua kakaknya, Mulyono dan Sugeng Wahono, jalan hidup membawa Tudiono—seorang anak dari Kampung Mbebekan, Sukun, Malang—menjejakkan kaki di Cape Town.
Sejak Agustus 2023 hingga saat ini, ia mengemban amanah dan bertugas sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di kota tersebut. Anak Mbebekan yang dulu gagap teknologi ini pernah gemetar ketika menerima panggilan telepon dari sang kakak, Sugeng Wahono, yang lebih dahulu bertugas di Kementerian Luar Negeri.
"Kok bisa bunyi?" gumamnya keheranan saat mengangkat gagang telepon umum kala itu. Sebuah kenangan jenaka yang kini menjadi refleksi betapa jauhnya perjalanan tersebut.
Jarak antara Jakarta dan Cape Town membentang sejauh 9.470 kilometer. Kota ini didirikan oleh Belanda pada 1652 sebagai pos persinggahan, pembekalan, dan penyegaran (refreshment) dalam rute pelayaran panjang menuju Hindia Belanda (Nusantara).
Kongsi dagang Belanda menguasai Cape Town dan sekitarnya hingga 1808, sebelum akhirnya Inggris mengambil alih kekuasaan melalui Pertempuran Muizenberg (Battle of Muizenberg) pada 1795.
Saat ini, Cape Town dihuni oleh sekitar 4,89 juta jiwa. Komposisi penduduknya terdiri atas 42,4 persen kelompok kulit berwarna (coloured), 38,6 persen kulit hitam (black African), dan 15,7 persen kulit putih (white).
Sebagai ibu kota legislatif Afrika Selatan serta pusat ekonomi dan administrasi Provinsi Western Cape, kota ini menjelma menjadi pusat ekonomi terbesar ketiga di Afrika dan salah satu episentrum keuangan utama di benua tersebut.
Baca juga : Kaesang Nobar Timnas Indonesia Vs Oman dengan Gubernur Sumsel
Cape Town menyumbang sekitar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) Afrika Selatan. Roda perekonomiannya digerakkan oleh berbagai sektor, antara lain industri, teknologi, jasa keuangan dan bisnis, energi, manufaktur, pariwisata, perikanan, hingga pertanian.
Jembatan Diplomasi Dan Diaspora
Hubungan diplomatik Indonesia dan Afrika Selatan resmi terjalin pada 12 Agustus 1994. Pada tahun 2026 ini, persahabatan kedua negara mamasuki usia ke-32 tahun. Berdasarkan Surat Tauliyah dari Presiden RI, wilayah kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town mencakup empat dari sembilan provinsi di Afrika Selatan, yakni Northern Cape, Western Cape, Eastern Cape, dan Free State.
Meskipun jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di wilayah ini tidak terlalu besar, Cape Town merupakan titik singgah utama bagi para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing, seperti dari Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.
Setiap tahun, sekitar 2.000 hingga 4.000 ABK transit di kota ini. Sebagai bentuk pelindungan negara, Pemerintah RI telah menetapkan Cape Town sebagai Rumah Singgah ABK sejak 2018.
Di sisi lain, terdapat ikatan emosional yang kuat dengan sekitar 2,7 juta diaspora Indonesia di Cape Town, yang saat ini lebih dikenal sebagai komunitas Cape Malay.
Jejak hubungan Nusantara dengan Cape Town dan kota-kota sekitarnya telah terukir sejak era 1600-an. Vereenigde Oost-Indische Compagni (VOC) menjadikan Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) tidak hanya sebagai pos perdagangan laut, tetapi juga sebagai lokasi pengasingan bagi musuh-musuh politik dari wilayah koloni seperti India, Sri Lanka, dan Nusantara. Pada rentang 1700-an, VOC membawa banyak tawanan politik, narapidana, dan pekerja paksa ke wilayah ini.
Baca juga : Jepang-WHO Bergandengan Atasi Kesenjangan Imunisasi Indonesia
Banyak ulama dan pendatang Muslim asal Nusantara yang kemudian menjadi poros perjuangan masyarakat Afrika Selatan dalam melawan kolonialisme. Dua sosok yang paling masyhur dan dihormati di sana adalah Syekh Yusuf Al Makassari Al Bantani dan Abdullah bin Qadhi Abdussalam (Tuan Guru).
Syekh Yusuf, yang lahir pada 3 Juli 1626 di lingkungan Kerajaan Gowa, diasingkan oleh Belanda dan tiba di Tanjung Harapan pada 27 Juni 1693 akibat perlawanan gigihnya. Ia tercatat sebagai peletak dasar agama Islam di Afrika Selatan. Dedikasinya diakui luas; sosok Syekh Yusuf bahkan diyakini turut menginspirasi Nelson Mandela dalam perjuangan melawan politik apartheid.
Pada 2005, Pemerintah Afrika Selatan menganugerahkan kepadanya tanda kehormatan tertinggi, The Order of the Companions of O.R. Tambo in Gold.
Tahun 2026 menjadi momentum peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf, yang dirayakan dengan penuh sukacita oleh masyarakat Cape Malay melalui Festival Kramat pada 3–5 April lalu. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Nurul Latief Islamic Association bekerja sama dengan KJRI Cape Town ini berlangsung meriah.
Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kota Makassar, Indonesia tampil memukau menyuguhkan Tari Saman, Dendang Mangkassara, serta Tari Cokek oleh EOAN Group.
Penampilan musik kecapi Makassar dan demonstrasi kuliner khas seperti pisang ijo dan coto Makassar turut dihadirkan. Rangkaian acara juga diisi dengan pemutaran film tentang Syekh Yusuf dalam Indonesian Film Festival, serta kehadiran Indonesia Information Centre yang memfasilitasi informasi beasiswa, kelas bahasa, dan peluang kerja sama.
Menurut sejarawan Afrika Selatan, Ebrahim Rhoda, tradisi Festival Kramat—yang diselenggarakan setiap tahun untuk berziarah, mengenang, dan mendoakan Syekh Yusuf—telah mengakar dan berlangsung selama lebih dari tiga abad.
Warisan Tuan Guru
Sementara itu, Abdullah bin Qadhi Abdussalam atau Tuan Guru, lahir di Tidore pada 1712. Ia adalah ulama besar Nusantara sekaligus penasihat Sultan Jamaluddin di Maluku. Akibat perlawanannya terhadap VOC, Tuan Guru diasingkan dan tiba di Cape Town pada 1780. Ia dipenjara di Pulau Robben (Robben Island)—berjarak 30 menit pelayaran dari Cape Town—pulau yang kelak juga menjadi tempat Nelson Mandela ditahan.
Baca juga : Prancis Tumbang, Spanyol Dan Swedia Tertahan
Selama di balik jeruji besi, Tuan Guru menulis ulang Al-Qur'an murni dari ingatannya. Mushaf yang kini tersimpan di Masjid Auwal tersebut memiliki tingkat akurasi yang mendekati sempurna. Tuan Guru juga menyusun kitab Ma’rifat wal Iman wal Islam (Pengetahuan Iman dan Agama) setebal 613 halaman yang hingga saat ini menjadi referensi penting umat Islam di Cape Town.
Setelah dibebaskan, ia menetap di Cape Town, melanjutkan dakwah, dan mendirikan madrasah pertama di sana. Madrasah ini melahirkan banyak imam besar, seperti Imam Abdol Bazier, Imam Abdol Barrie, Achmat van Bengalen, dan Imam Hadjie. Pada 1794, madrasah tersebut dikonversi menjadi masjid pertama di Afrika Selatan dengan nama Masjid Auwal.
Menghargai jejak panjang sejarah ini, pada 2021 Pemerintah Afrika Selatan menetapkan sejumlah makam (kramat) ulama Nusantara sebagai warisan budaya nasional (national heritage). Makam-makam tersebut meliputi pusara Syekh Yusuf Al Makassari (asal Gowa), Tuan Dea Koasa dan Tuan Ismail Dea Malela (asal Sumbawa), Syekh Mohamed Hassen Ghailbie Shah (pengikut Syekh Yusuf), Tuan Kaape-ti-low (asal Jawa), serta Abdurahman Matebe Shah dan Sayed Mahmud (asal Sumatera Barat).
Kedekatan historis dan persilangan budaya yang telah terjalin ratusan tahun ini bukanlah sekadar catatan masa lalu. Ia adalah fondasi serta jembatan strategis untuk terus membina dan memperkokoh hubungan bilateral antara Indonesia dan Afrika Selatan di masa depan.
Oleh: Tudiono, Konsul Jenderal RI di Cape Town.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.