RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah anggapan bahwa singkong hanyalah komoditas bernilai rendah, Nurlaela, Binaan Desa Emas Program kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek, berhasil membuktikan bahwa bahan pangan sederhana dapat menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi masyarakat desa.
Melalui inovasi produk keripik singkong presto dan nori daun singkong, Nurlaela tidak hanya membangun usaha, tetapi juga menciptakan peluang hidup yang lebih baik bagi perempuan, petani, dan keluarga prasejahtera disekitarnya.
“Terimakasih Bapak Sandiaga Uno, Masha Allah saya bersyukur sekali, dapat pelatihan dari 0 sampai pelatihan ekspor, dari perbaikan kemasan, fotografi produknya jadi lebih bagus, desain kemasan dibuatkan yang baru, dan diberikan alat bantu produksi. Alhamdulilah saya juga bisa ikut pameran di jakarta, bisa ketemu dengan buyer-buyer yang luar biasa hebatnya, dan sampai saat ini banyak sekali konsumen yang mau beli produk-produk saya dari luar kota, karena mungkin produk saya masih jarang di pasaran," ujar Nurlaela.
Berawal dari keprihatinannya melihat hasil panen singkong petani yang sering tidak laku dan hanya dihargai sekitar Rp300 per kilogram, Nurlaela mulai bereksperimen mengolah singkong menjadi produk bernilai tambah.
Baca juga : Petani Hingga Mahasiswa Gelar Aksi Damai Dukung Program Kerakyatan Prabowo
Dari dapur rumahnya, ia berhasil mengembangkan keripik singkong presto dan kemudian menciptakan nori berbahan daun singkong yang memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai.
Namun, dampak terbesar yang dihadirkan Nurlaela bukan hanya pada produk yang dihasilkan, melainkan pada kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kapasitas produksi yang awalnya hanya sekitar 5 kilogram singkong per hari kini mencapai 1 kuintal per hari, sementara produksi nori daun singkong terus meningkat berkat dukungan pelatihan dan pendampingan dari Desa Emas Yayasan Indonesia Setara.
Bagi Nurlaela, keberhasilan usaha bukan sekadar soal keuntungan. Ia memiliki mimpi yang lebih besar, yakni menghadirkan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desanya.
Baca juga : DPR Setujui Anggaran PKP 2027, Lasarus: Ara Komposer Program Perumahan Rakyat
"Saya ingin menambah karyawan lagi dan semakin mensejahterakan teman-teman di KUB," ungkapnya.
Melihat banyak ibu rumah tangga yang mengeluhkan keterbatasan ekonomi keluarga, ia mengajak mereka membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki sebagai wadah pengolahan pangan lokal dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Dampak sosial yang dirasakan masyarakatpun sangat nyata. Para anggota KUB yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp 20.000–Rp 25.000 per hari kini memiliki kesempatan memperoleh pendapatan lebih baik melalui kegiatan produksi keripik singkong dan nori, dengan upah mencapai Rp 50.000–Rp 60.000 per hari.
Bagi banyak keluarga, tambahan penghasilan tersebut menjadi penopang kebutuhan sehari-hari. Sejumlah anggota mengaku sangat terbantu karena pendapatan dari KUB dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga hingga biaya sekolah anak-anak mereka, terutama ketika suami yang bekerja sebagai buruh proyek atau pekerja serabutan tidak memperoleh pekerjaan tetap.
Baca juga : Bertemu Menkeu China, Purbaya Perkuat Kerja Sama Pembiayaan Pembangunan
Selain memberdayakan perempuan, Nurlaela juga berhasil menciptakan dampak positif bagi petani lokal. Kebutuhan bahan baku yang terus meningkat mendorong semakin banyak petani menanam singkong. KUB Sari Rejeki membeli singkong petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding harga pasar yang sebelumnya hanya berkisar Rp500 per kilogram.
Kondisi ini mendorong peningkatan pendapatan petani sekaligus menghidupkan kembali minat masyarakat untuk membudidayakan singkong. Hingga saat ini, usaha yang dirintis dari skala rumahan tersebut telah berkembang pesat.
Saat dikonfirmasi terpisah, Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno menyebutkan kisah Nurlaela menjadi bukti bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi jalan lahirnya perubahan sosial yang nyata.
"Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga Uno.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.