BREAKING NEWS
 

CKG Normalkan Tekanan Darah 45% Penderita Hipertensi

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 25 Agustus 2026 22:17 WIB
Petugas kesehatan melayani warga yang melakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (10/2/2025). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hasil pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tengah dijalankan pemerintah mulai terlihat. Program ini tidak hanya sukses mendiagnosa penyakit masyarakat sejak dini, tapi juga mampu menanganinya sebelum menjadi lebih parah. Salah satu, dalam mengatasi penyakit hipertensi, yang saat ini semakin banyak diderita masyarakat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sampai pekan keempat Agustus 2026, cakupan CKG telah menjangkau 82 juta jiwa. Angka ini mencapai 63 persen dari target tahun ini yang sebesar 130 jiwa.

Dalam pelaksanaan tahun kedua ini, Kemenkes memfokuskan tindak lanjut CKG pada tiga faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM), yakni hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Ketiga penyakit ini menjadi pemicu utama penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat melakukan pemeriksaan di CKG. Pemeriksaan itu sangat krusial untuk mendeteksi penyakit dan faktor risiko sebelum berkembang menjadi komplikasi fatal.

“Melalui Cek Kesehatan Gratis, kita berharap penyakit dapat ditemukan lebih cepat sehingga segera ditangani. Jangan menunggu sampai muncul keluhan atau komplikasi,” ujar Menkes Budi, dalam Media Briefing Evaluasi CKG, di Kemenkes, Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Menkes menjelaskan, sebagian besar PTM tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Tanpa pengecekan, penyakit tersebut sulit terdeteksi oleh penderitanya.

Baca juga : Menkes Fokus Pada Pasien, Faskes Dan Trauma Healing

Khusus untuk hipertensi, berkat adanya CKG, potensi risiko di masyarakat bisa dikurangi secara signifikan. Dalam data Kemenkes, sudah ada 2,4 juta penderita hipertensi yang memeriksakan diri di CKG di 2025 kembali mengecek kesehatannya di CKG 2026. Hasilnya, 1,1 juta penderita atau hampir 45,8 persen berhasil mengontrol tekanan darahnya ke rentang normal.

Keberhasilan serupa juga terjadi pada pencegahan potensi risiko diabetes. Dari 340 ribu penderita diabetes yang menjalani CKG ulang, sebanyak 235 orang mampu mengontrol gula darahnya.

Menkes melanjutkan, program CKG tidak berhenti pada pemeriksaan awal kondisi kesehatan masyarakat. Pelaksanaannya dilanjutkan dengan memberikan edukasi, pengobatan, pemantauan, hingga rujukan.

"Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani," terang Menkes.

Adsense

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus memastikan, setiap temuan PTM seperti hipertensi dan diabetes, akan langsung ditindaklanjuti. Masyarakat yang teridentifikasi mengalami kedua penyakit ini dalam CKG, akan langsung mendapatkan penanganan.

Di tahap awal, penderita itu akan diberi obat dan diarahkan ke Puskesmas untuk pengobatan selanjutnya. “Jika puskesmas mengalami kesulitan, bisa dilanjutkan dirujuk ke rumah sakit," jelas Wamenkes Benjamin, saat memantau pelaksanaan Program CKG di Gedung Serba Guna (GSG) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten, Kamis (20/8/2026).

Baca juga : PSI Apresiasi CKG Prabowo: Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati

Wamenkes Benjamin meminta masyarakat tidak mengabaikan hipertensi dan diabetes. Untuk hipertensi, jika penyakit ini tidak ditangani dengan baik, dapat memicu gagal jantung dan stroke. Sementara, diabetes melitus berisiko menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Bahkan, jika sudah parah, bisa membuat pasien membutuhkan terapi cuci darah.

Ia menerangkan, saat ini, sudah amat banyak masyarakat yang membutuhkan terapi cuci darah karena ginjalnya rusak. “Hari ini ada 156.000 orang cuci darah," ujarnya.

Untuk itu, ia menekankan, CKG sangat penting. Program CKG menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mendeteksi penyakit-penyakit tersebut sejak dini. Dengan begitu, masyarakat dapat segera memperoleh pengobatan sehingga risiko penyakit lebih berat dapat ditekan.

"Saat ketahuan ada hipertensi, langsung kita obati. Sehingga mereka bisa usia panjang dalam keadaan sehat," kata dia.

Dalam kesempatan berbeda, Wamenkes Dante Saksono Harbuwono mengingatkan, pola penyakit di masyarakat telah mengalami pergeseran. Jika dahulu penyakit infeksi menjadi pemicu utama kerawanan, kini PTM semakin dominan dan kerap berkembang tanpa gejala (silent killer).

Ia menerangkan, penderita hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Penderita diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes. “Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan. CKG penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi,” ucap Wamenkes Dante.

Baca juga : Tangani Korban Gempa, Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan di NTT

Wamenkes Dante melanjutkan, deteksi dini harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara konsisten. CKG tidak cukup dilakukan sekali. Ia mendorong masyarakat melakukan CKG setiap tahun.

Ia pun memastikan akan terus memperbaiki CKG. “Agar masyarakat yang ditemukan berisiko dapat lebih cepat diobati dan tetap sehat,” lanjutnya.

Wamenkes Dante mengajak masyarakat menjadikan CKG tahunan sebagai gaya hidup baru yang didukung pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense