RM.id Rakyat Merdeka - Tradisi tulak bala kembali ditelusuri sebagai bagian pengetahuan lokal masyarakat Sumatera Barat dalam menghadapi ancaman bencana.
Tim riset Badan Riset dan Inovasi Nasional Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (BRIN PR-KKP) melakukan penelitian di Nagari Ladang Laweh, Pasia Laweh, Padang Bintungan, Tandikek Selatan (Kabupaten Padang Pariaman), serta Bukit Gado-gado dan Pantai Air Manis (Kota Padang. Penelitian), sejak 10 Agustus 2026.
Riset dipimpin Zusneli Zubir dengan anggota Ahmad Yunani dan Sugiyarto Wakhid. Dua periset lainnya berasal dari Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, yakni Fikrul Hanif Sufyan dan Dedi Asmara. Mereka menelusuri sejarah, praktik, makna, serta perubahan tradisi tulak bala di tengah komunitas yang memiliki hubungan kuat dengan Tarekat Syattariyah.
Menurut Buya Sofyan, Ketua MUI Kabupaten Padang Pariaman, tradisi Tulak Bala itu bermula dari Syekh Burhanuddin Ulakan. Kemudian diwarisi oleh para khalifah. Khalifah-khalifah yang di Ulakan, baik di Tanjung Medan, Surau Pondok Ketek (Koto Panjang).
"Kemudian disambung oleh Syekh Bintungan Tinggi dan Angku Saliah. Kemudian disambung ke para ulama-ulama, termasuk kami sekarang, ” jelas pemilik gelar Tuanku Bandaro ini, pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Tandikek Selatan.
Baca juga : Via Storytelling, Pelajar Sumbar Hidupkan Kembali Sejarah Lokal
Senada dengan penelusuran tim BRIN PR-KKP, tradisi tulak bala di sejumlah kawasan memiliki kaitan dengan perkembangan Islam dan Tarekat Syattariyah. Praktik itu disebut mula-mula dikenalkan oleh Syekh Burhanuddin, kemudian dikembangkan Syekh Abdurrahman atau Syekh Bintungan Tinggi. Di beberapa kawasan nagari, tradisi tersebut juga turut dirintis oleh Ungku Saliah.
Sejarah tulak bala tersebut tidak berdiri di ruang kosong. Kajian tentang Ratib Tulak Bala di Guguak Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman menunjukkan, ritual telah dilakukan turun-temurun sebagai ikhtiar mencegah bala atau bencana.
“Prosesi dimulai dari masjid, dilanjutkan dengan mengelilingi kampung sambil membaca ratib, lalu ditutup dengan doa bersama” jelas ketua periset Zusneli Zubir pada Kamis, 3 September 2026 di Pariaman.
Bagi tim peneliti, pola tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat tulak bala sebagai fenomena sosial sekaligus keagamaan. Yang hendak dicari bukan pembuktian bahwa ritual dapat menggantikan mitigasi bencana modern, melainkan bagaimana masyarakat memproduksi pengetahuan, kepemimpinan, solidaritas, dan rasa aman ketika berhadapan dengan ketidakpastian.
Ritual yang Menyesuaikan Pengalaman Nagari
Baca juga : 2 Abad Wafatnya Tuanku Pamansiangan, Menjahit Memori Kolektif
Periset dan penulis sejarah, Fikrul Hanif Sufyan dari STKIP Yayasan Abdi Pendidikan mengatakan, keunikan tulak bala justru tampak pada variasi alasan dan waktu pelaksanaannya.
Dia menilai, ritual tradisi tulak bala ini unik dan kerap diselenggarakan di tengah komunitas Tarekat Syattariyah.
"Ada yang menyelenggarakan karena bala atau bencana yang kerap menimpa nagari, dilakukan karena permintaan dari tiap korong/jorong karena gagal panen, ataupun diselenggarakan setiap bulan Muharam, dan dilaksanakan pada Rabu akhir (Raba'a Akia) di setiap akhir bulan Safar,” ujar Fikrul, sebagai bagian tim riset BRIN PR-KKP.
Keterangan itu memperlihatkan bahwa tulak bala tidak memiliki satu bentuk tunggal. Dalam satu komunitas, ia dapat hadir sebagai respons terhadap bencana yang berulang.
Di tempat lain, permintaan dari korong atau jorong menjadi pemicu pelaksanaan, terutama ketika masyarakat mengalami gagal panen. Ada pula pelaksanaan yang mengikuti penanggalan keagamaan, seperti Muharam dan Raba'a Akia pada penghujung Safar.
Baca juga : Menguak Tragedi Sintuk: Riset Menyusun Puzzle Pembantaian 1949
Variasi tersebut penting karena menunjukkan kemampuan tradisi beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Ritual bukan hanya peristiwa seremonial, melainkan ruang tempat pengalaman warga terhadap ancaman diterjemahkan ke dalam bahasa agama dan kebudayaan.
Dalam kerangka itu, bencana tidak hanya dipahami sebagai kejadian fisik, tetapi juga pengalaman sosial yang membutuhkan respons bersama. Ratib tulak bala yang diselenggarakan komunitas Syattariyah di Kabupaten Padang Pariaman, dilakukan melalui prosesi bersama yang berangkat dari masjid, mengelilingi kampung, dan berakhir dengan doa. Artinya, ritual sekaligus menciptakan mobilisasi sosial dan mempertemukan warga dalam satu tindakan bersama.
“Dari kebencanaan, fungsi sosial itu tumbuh. Masyarakat didorong dengan kesadaran untuk tidak terus-menerus dihantui bencana, kemudian berkumpul. Mereka dipandu oleh para tuanku, labai, ataupun urang siak untuk menghadapi bencana lewat serangkaian ritual yang dilakukan,” jelas Dr. Zaim Rais, MA, akademisi dari UIN Imam Bonjol pada 02 September 2026.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.