Sebelumnya
Namun, tulak bala tetap perlu ditempatkan secara proporsional: ritual merupakan bagian budaya dan spiritualitas masyarakat, sedangkan mitigasi teknis tetap membutuhkan pemetaan risiko, sistem peringatan dini, tata ruang, jalur evakuasi, dan kesiapsiagaan.
“Selain itu, riset mengenai ritual tulak bala ini juga bersumber dari manuskrip yang pernah ditulis oleh Syekh Bintungan Tinggi, termasuk doa yang dibacakan oleh tuanku ataupu labai dalam acara tulak bala,” papar Ahmad Yunani dari BRIN PR-KKP.
Karena itu, penelitian BRIN PR-KKP berpotensi menjembatani dua ranah yang selama ini kerap dibicarakan secara terpisah: pengetahuan lokal dan ilmu kebencanaan.
Pengetahuan lokal dapat membantu peneliti memahami bagaimana masyarakat membaca lingkungan dan mengorganisasi respons, sementara pendekatan kebencanaan modern dapat membantu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam strategi keselamatan yang terukur.
Dari Tradisi ke Model Lokalitas
Baca juga : Via Storytelling, Pelajar Sumbar Hidupkan Kembali Sejarah Lokal
Riset di Padang Pariaman dan Pantai Air Manis juga memungkinkan tim membandingkan komunitas dengan latar ekologis dan sejarah yang berbeda. Padang Pariaman memiliki tradisi nagari dan korong yang kuat, sementara kawasan pesisir Kota Padang menghadapi karakter risiko yang berbeda.
Perbandingan lokasi tersebut dapat memperlihatkan unsur tulak bala yang bersifat umum sekaligus unsur yang khas di setiap komunitas. Di sinilah tradisi tulak bala dapat dibaca sebagai arsip hidup.
Ritual tulak bala dan Raba’a Akia itu memori tentang bencana, pola kepemimpinan dalam Islam tradisional, waktu ritual, tempat berkumpul, hingga membentuk kesadaran sosial di tengah bencana.
“Ketika sebuah ritual dilakukan berulang kali, masyarakat sesungguhnya sedang memelihara memori kolektif mengenai bagaimana menghadapi keadaan yang dianggap mengancam," papar Dedi Asmara periset STKIP Yayasan Abdi Pendidikan.
Kajian akademik tentang ratib tulak bala memperkuat pembacaan tersebut. Riset dari Nursaid, Rahman, dan Ningsih (2023) tidak hanya mendokumentasikan prosesi, tetapi juga menempatkan tradisi itu sebagai praktik yang diwariskan turun-temurun untuk mencegah bala.
Baca juga : 2 Abad Wafatnya Tuanku Pamansiangan, Menjahit Memori Kolektif
Dengan demikian, kesinambungan tradisi merupakan bagian penting dari makna sosialnya. Jika temuan lapangan tim dapat mengidentifikasi pola yang konsisten, model lokalitas yang menjadi salah satu target penelitian dapat diarahkan pada dokumentasi, mekanisme pelaksanaan, ruang ritual, memori bencana, serta bentuk solidaritas warga.
Model semacam itu tidak harus mengubah ritual menjadi program kebencanaan, tetapi dapat menjadi perangkat untuk memahami kapasitas sosial yang telah lama dimiliki komunitas.
“Luaran penelitian nantinya diharapkan berupa artikel jurnal internasional, model untuk lokalitas, dan laporan penelitian menjadi penting agar pengetahuan yang ditemukan tidak berhenti sebagai dokumentasi,” jelas Ketua Peneliti dari BRIN PR-KKP Zusneli Zubir.
Riset Ritual Tulak Bala dan Raba’a Akia ini, lanjut Zusneli, terselenggara sebagai bagian kerjasama antara lembaganya dengan STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh.
Sementara bagi Fikrul Hanif Sufyan, tradisi tulak bala dan Raba’a Akia menjadi bagian kearifan lokal dari kalangan tarekat Syattariyah.
Baca juga : Menguak Tragedi Sintuk: Riset Menyusun Puzzle Pembantaian 1949
“Dimulai dari membaca kalimat tahlil bersama-sama, mengelilingi kampung, membaca pawatiah dan doa tulak bala, hingga massa yang mengambil paureh yang sudah dibacakan oleh tuanku ataupun labai” katamembaca, engakhiri penjelasannya.
Riset yang dijadwalkan berakhir 9 September 2026 itu pada akhirnya membawa satu pertanyaan penting: apa yang dapat dipelajari masyarakat modern dari tradisi yang telah lama digunakan komunitas untuk menghadapi rasa takut terhadap bencana?
Jawabannya mungkin bukan pada kemampuan ritual untuk menghentikan bencana, melainkan pada kemampuan tradisi mempertemukan warga, menghidupkan ingatan, menghadirkan pemimpin lokal, dan mengubah kecemasan menjadi tindakan kolektif.
Dengan cara pandang tersebut, tulak bala tidak semata-mata menjadi warisan masa lalu. Ia dapat menjadi bahan penting untuk memahami ketangguhan sosial masyarakat Minangkabau—sekaligus pengingat bahwa menghadapi bencana selalu membutuhkan lebih dari sekadar teknologi: diperlukan pula ingatan, kepercayaan, kepemimpinan, dan gotong royong. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.