Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menguak Tragedi Sintuk: Riset Menyusun Puzzle Pembantaian 1949
Rabu, 22 April 2026 07:47 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tim peneliti dari kalangan akademisi sejarah dan budaya melakukan studi lapangan untuk merekonstruksi tragedi berdarah di Sintuk. Riset yang dilaksanakan pada Jumat (18/4/2026) ini menjadi bagian dari upaya penguatan historiografi lokal sekaligus pelestarian memori kolektif masyarakat.
Tragedi yang terjadi pada awal Juni 1949 bermula ketika serdadu Belanda melakukan penyisiran dari tiga penjuru. Warga sipil yang menjadi korban dikumpulkan di spoorlijn Sintuk, lalu digiring ke Surau Batu. Di tepian surau tersebut, lebih dari 30 orang yang telah disweeping ditembak mati. Dari peristiwa itu, hanya tiga orang yang dilaporkan selamat.
Baca juga : GAPASDAP: Penguatan Dermaga Jadi Kunci Sukses Angkutan Penyeberangan Lebaran
Pembantaian oleh serdadu Belanda di Surau Batu Sintuk dipandang sebagai kejahatan perang dan menjadi bagian dari narasi perlawanan lokal pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), meski hingga kini belum terungkap secara luas. Peristiwa serupa juga tercatat terjadi di Bandar Buat, Padang, serta di Jembatan Batang Agam, Payakumbuh.
Piki S. Pernantah (kiri) bersama Fikrul Hanif Sufyan. [Sumber: Piki S Pernantah]
“Tragedi Sintuk kerap dilupakan, bahkan luput dari catatan sejarah lokal, termasuk dalam narasi sejarah Sumatera Barat. Minimnya dokumentasi akademik dan arsip mendorong kami melakukan rekonstruksi berbasis sumber primer dan sekunder,” ujar Piki S. Pernantah di Museum Perang Sintuk, 18 April lalu.
Baca juga : Gebuk Wrexham di Extra Time, Si Biru Melaju ke Perempat Final Piala FA
Riset yang dilakukan di Nagari Sintuk, Kabupaten Padang Pariaman ini berfokus pada penggalian data historis melalui pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan mencakup wawancara mendalam berbasis oral history, penelusuran sumber primer, serta observasi langsung ke lokasi-lokasi yang menjadi jejak peristiwa tersebut.
Ketua tim peneliti, Piki S. Pernantah, menjelaskan bahwa studi etno-historis ini tidak hanya bertujuan mengungkap kronologi, tetapi juga memahami makna sosial dan kultural yang terkandung di dalamnya. “Sejarah lokal seperti Tragedi Sintuk sering terpinggirkan dalam narasi besar nasional. Padahal, di situlah tergambar dinamika nyata perjuangan masyarakat akar rumput,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya