RM.id Rakyat Merdeka - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tak hanya mengganggu aktivitas penerbangan, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat paparan abu vulkanik.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Imbauan tersebut mendapat perhatian Presiden Federasi Business and Professional Women (BPW) Indonesia, Dr. Ir. Hj. Giwo Rubianto Wiyogo.
Dia mengajak masyarakat tidak melihat erupsi semata-mata sebagai persoalan gangguan perjalanan, tetapi juga kondisi yang harus direspons dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan keluarga.
Giwo sendiri saat ini masih tertahan di Jeddah, Arab Saudi, setelah penerbangan menuju Jakarta dibatalkan. Berdasarkan pengalaman tersebut, Giwo mengimbau masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak untuk mempertimbangkan menunda perjalanan.
Terutama penerbangan dari Jakarta maupun bandara lain yang terdampak sebaran abu vulkanik. Menurutnya, menunda perjalanan merupakan langkah kehati-hatian di tengah kondisi erupsi dan operasional penerbangan yang masih dinamis.
Baca juga : Penutupan Bandara Soekarno-Hatta Diperpanjang Hingga 23.59 WIB
“Kalau perjalanan tidak mendesak, sebaiknya ditunda terlebih dahulu sampai kondisi lebih aman,” ujar Giwo.
Dia juga meminta keluarga memberikan perhatian lebih kepada anak-anak. Selama kondisi udara masih dipengaruhi sebaran abu vulkanik, anak-anak dan anggota keluarga yang tidak memiliki kepentingan mendesak disarankan tetap berada di dalam rumah untuk mengurangi risiko paparan.
“Anak-anak dan keluarga perlu menjadi prioritas untuk dilindungi. Jika tidak ada keperluan yang mendesak, lebih baik tetap berada di dalam rumah,” tegasnya.
Imbauan Giwo sejalan dengan langkah Kemenkes yang meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik bagi kesehatan. Penggunaan pelindung yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan. Selain berdampak terhadap kesehatan, sebaran abu vulkanik juga mengganggu aktivitas penerbangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (7/9/2026), melaporkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak langsung terhadap operasional delapan bandara di Pulau Jawa dan Sumatera. Kondisi tersebut membuat sejumlah bandara ditutup sementara demi keselamatan penerbangan.
Baca juga : Anak Krakatau Erupsi, Puan: Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas
Kementerian Perhubungan juga menyatakan penutupan sejumlah bandara terdampak diperpanjang sebagai langkah mitigasi. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan tersebut.
Dampak erupsi pun tak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Gangguan ruang udara dan sebaran abu vulkanik juga dapat memengaruhi perjalanan masyarakat dari dan menuju sejumlah wilayah.
Sementara itu, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Senin (7/9/2026), pengamatan visual melalui CCTV Pos Pasauran pada pukul 05.47 WIB tidak menunjukkan adanya erupsi saat pengamatan dilakukan.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas gunung api kembali menurun. Namun, pemantauan tetap dilakukan.
Mengingat kondisi gunung api dan sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu, masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga terkait.
Dalam konteks perlindungan keluarga, Giwo kembali mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada. Menunda perjalanan yang tidak mendesak serta membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah dinilai sebagai langkah kehati-hatian selama kondisi belum sepenuhnya stabil.
Baca juga : Ditlantas Polda Metro Bagikan 20.000 Masker untuk Pengemudi Ojol
“Yang terpenting sekarang adalah keselamatan. Jangan mengambil risiko untuk perjalanan yang sebenarnya masih bisa ditunda dan pastikan anak-anak serta keluarga berada dalam kondisi yang aman,” tandas Giwo.
Bagi masyarakat yang tetap harus melakukan perjalanan, informasi mengenai status penerbangan sebaiknya dikonfirmasi terlebih dahulu kepada maskapai atau pengelola bandara. Sementara untuk kondisi vulkanik, masyarakat dianjurkan merujuk pada informasi resmi Badan Geologi/PVMBG dan BMKG.
Dengan langkah tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan sekaligus menghindari perjalanan di tengah kondisi penerbangan yang masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.