BREAKING NEWS
 

Abu Vulkanik Menyelimuti Negeri, Saatnya Kita Menundukkan Hati

Writer : Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 9 September 2026 17:14 WIB
Dr. Suripto, S.E., M.Ak., CSRS (Foto: Dok. Pribadi)

Ada kalanya manusia harus berhenti sejenak. Bukan karena kehabisan tenaga. Bukan pula karena kehilangan semangat. Tetapi karena alam mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas kehidupan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu pengingat itu. Abu vulkanik mengganggu penerbangan, sejumlah bandara harus ditutup sementara, perjalanan masyarakat terganggu, dan aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pada 7 September 2026, gangguan akibat abu vulkanik berdampak pada hampir 3.000 penerbangan dan sekitar 341 ribu penumpang. Sejumlah bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, sempat terdampak penutupan akibat kondisi yang membahayakan penerbangan.

Di Banten dan Jakarta, Pemerintah Daerah juga menerapkan PJJ sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik. Anak-anak yang biasanya belajar di ruang kelas harus kembali belajar dari rumah.

Sekilas, semua ini mungkin hanya terlihat sebagai gangguan aktivitas. Namun, bagi kita yang mau merenung, ada pesan yang jauh lebih dalam.

Ketika Alam Membuat Kita Berhenti

Manusia telah menciptakan pesawat terbang, satelit, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi canggih. Tetapi ketika abu vulkanik memenuhi udara, pesawat harus berhenti mengudara.

Sekolah yang biasanya ramai harus dikosongkan dan pembelajaran dipindahkan ke rumah. Di sinilah kita belajar bahwa sehebat apa pun teknologi manusia, tetap ada batas yang tidak dapat kita lampaui.

Baca juga : 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda, Polda Banten Lanjutkan Pencarian Pagi Ini

Manusia boleh merencanakan, tetapi Allah yang menentukanAl-Qur'an mengingatkan: “Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra: 44)

Gunung, laut, angin, hujan, dan seluruh alam berada dalam ketetapan Allah. Karena itu, erupsi tidak cukup hanya dipandang sebagai fenomena geologi. Bagi orang beriman, setiap peristiwa dapat menjadi ibrah, sebuah pelajaran untuk memperbaiki diri.

Bukan berarti setiap bencana harus dianggap sebagai hukuman Allah. Ilmu pengetahuan tetap harus menjadi dasar dalam memahami dan menangani bencana.

Sains menjelaskan bagaimana gunung erupsi. Iman mengajarkan bagaimana manusia mengambil hikmah darinya.

PJJ Mengajarkan Kita tentang Prioritas

PJJ akibat erupsi juga memberikan pelajaran penting. Pendidikan memang penting, tetapi keselamatan anak jauh lebih penting. Kurikulum harus berjalan, tetapi kesehatan peserta didik tidak boleh dikorbankan.

Karena itu, ketika kondisi lingkungan tidak aman, keputusan memindahkan pembelajaran ke rumah bukan berarti pendidikan berhenti. Justru di situlah negara menunjukkan bahwa keselamatan manusia adalah prioritas.

Momentum PJJ juga dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kebencanaan kepada anak-anak. Mereka tidak hanya perlu mengetahui bahwa gunung dapat meletus. Mereka perlu memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana menyaring informasi, dan bagaimana tetap tenang dalam situasi darurat. Lebih jauh lagi, anak-anak perlu diajarkan bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan alam secara bijaksana.

Jangan Hanya Takut kepada Gunung

Baca juga : Batuk Anak Krakatau Mereda, Aktivitas Bandara Sudah Normal Lagi

Erupsi Anak Krakatau tentu harus kita waspadai. Masyarakat harus mengikuti informasi resmi pemerintah dan petugas kebencanaan. Tetapi ada hal lain yang juga perlu kita waspadai: kesombongan manusia.

Kita sering merasa mampu mengendalikan semuanya. Kita merasa teknologi dapat menyelesaikan seluruh persoalan. Kita merasa harta dapat membeli segala sesuatu. Padahal satu fenomena alam saja dapat membuat aktivitas jutaan manusia berubah dalam hitungan jam.

Allah SWT berfirman:“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.” (QS. Al-Isra: 37)

Pesan ini sangat relevan. Erupsi mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Kita boleh memiliki jabatan, ilmu, kekayaan dan teknologi. Tetapi semua itu adalah amanah, bukan alasan untuk menyombongkan diri.

Saatnya Menundukkan Hati

Sebagai akademisi, saya melihat bahwa peristiwa ini juga mengingatkan pentingnya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi. Dunia pendidikan perlu memperkuat literasi kebencanaan. Masyarakat harus disiplin mengikuti arahan. Dan lembaga keagamaan dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran bahwa menjaga kehidupan adalah bagian dari tanggung jawab keimanan.

Masjid, sekolah, kampus, pesantren, dan keluarga dapat menjadi ruang untuk mengajarkan satu pesan sederhana: alam bukan musuh manusia. Alam adalah amanah Allah yang harus dihormati.

Karena itu, jangan biarkan erupsi hanya menghasilkan kepanikan sesaat. Jadikan ia momentum untuk memperbaiki diri. Ketika abu vulkanik menyelimuti udara, mungkin yang perlu kita bersihkan bukan hanya rumah dan kendaraan. Tetapi juga hati kita.

Baca juga : Felicya Angelista Erupsi Krakatau, Solo Ke Jakarta Lewat Darat

Bersihkan hati dari kesombongan. Bersihkan pikiran dari kepanikan. Bersihkan perilaku dari ketidakpedulian. Dan kuatkan kesadaran bahwa manusia hanyalah makhluk yang diberi amanah untuk menjaga kehidupan.

Bandara pada akhirnya akan kembali dibuka. Sekolah akan kembali dipenuhi suara anak-anak. Pesawat akan kembali mengudara. Abu vulkanik pun akan hilang bersama waktu. Tetapi jangan sampai hikmah dari peristiwa ini ikut hilang bersama abu yang tertiup angin.

Sebab, boleh jadi, ketika Gunung Anak Krakatau menggelegar, sesungguhnya kita sedang diingatkan untuk mendengar suara yang lebih dalam: bahwa di balik kedahsyatan alam, ada kebesaran Allah; di balik keterbatasan manusia, ada pelajaran tentang kerendahan hati; dan di balik sebuah bencana, ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Abu vulkanik menyelimuti negeri. Saatnya kita menundukkan hati.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense