Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
7 Bandara Masih Ditutup, Batuk-batuk Anak Krakatau Mulai Mereda
Selasa, 8 September 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mereda. Aktivitas gunung api di Selat Sunda itu tak lagi sekeras pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Meski aktivitas letusan berkurang, sebaran abu vulkanik masih mengganggu penerbangan. Hingga tadi malam, tujuh bandara masih ditutup.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat episode erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut mencapai puncaknya pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.
Setelah berlangsung sekitar 25 jam, aktivitas letusan kembali ke pola Strombolian. Pola tersebut merupakan karakteristik erupsi Anak Krakatau yang umumnya berupa letusan lebih kecil dan berlangsung secara berkala.
Baca juga : Purbaya Bilang Ada Gangguan, Tapi Sedikit
“Untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut,” ujar Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).
Meski episode erupsi menerus telah berakhir, kondisi gunung belum sepenuhnya aman. Aktivitas vulkanik masih tinggi dan memicu sejumlah gempa sehingga status Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
Lana mencatat, selama periode pemantauan tersebut terjadi tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.
Baca juga : Soal Penyitaan Aset, Kejagung Minta Hakim Tolak Praperadilan Eks Waka BGN
Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya letusan kembali masih cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Badan Geologi juga mengingatkan sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai di sekitar gunung.
“Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” jelas Lana.
Karena itu, masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga yang terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah.
Baca juga : Herman Khaeron: Terlalu Jauh Dan Overestimate Itu
Jika harus keluar rumah, Lana menganjurkan masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu. Masyarakat juga diminta tetap berpedoman pada informasi resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu hoaks terkait erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami,” tandas Lana.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya