RM.id Rakyat Merdeka - Warisan pemikiran Frans Seda dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan kebijakan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, rivalitas geopolitik, dan tekanan terhadap perekonomian nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda bertajuk "Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural" yang digelar Frans Seda Foundation bersama Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Forum tersebut digelar menjelang peringatan 100 tahun kelahiran Frans Seda pada 4 Oktober 2026. Kegiatan dihadiri sekitar 500 peserta yang terdiri atas pembuat kebijakan, akademisi, pelaku usaha, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara. Di antaranya Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu. Diskusi juga menghadirkan ekonom politik dan praktisi diplomasi Dinna Prapto Raharja serta ekonom dan mantan Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya A. Prasetyantoko.
Baca juga : Aksi Plogging Ajak Warga Peduli Lingkungan
Ketua Frans Seda Foundation, Steve Ginting mengatakan, peringatan 100 tahun Frans Seda menjadi momentum untuk merefleksikan keteladanan dalam menghadapi situasi penuh ketidakpastian.
"Seratus tahun Frans Seda merupakan momen penting bagi bangsa saat ini, di mana dalam situasi ketidakpastian saat ini kita membutuhkan teladan pemimpin bangsa," kata Steve.
Menurut dia, warisan Frans Seda tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu dihidupkan melalui refleksi dan pembelajaran dalam perumusan kebijakan publik.
Sebagai Menteri Keuangan pada 1966-1968, Frans Seda memimpin upaya stabilisasi ekonomi ketika Indonesia menghadapi hiperinflasi, keterbatasan cadangan devisa, serta beban utang luar negeri yang besar.
Baca juga : Unika Atma Jaya Pastikan Mahasiswa Disabilitas Bisa Belajar Dengan Setara
Dia juga terlibat dalam penataan utang dan pembukaan investasi asing melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing 1967.
Mari Elka Pangestu mengungkapkan, pengalaman Frans Seda dalam menghadapi krisis ekonomi dapat menjadi pelajaran bagi pembuat kebijakan saat ini, terutama dalam menjaga ruang fiskal di tengah perubahan ekonomi global.
"Pada 1966, Indonesia menghadapi kondisi yang sangat berat. Defisit mencapai 128 persen dari penerimaan dan inflasi berada pada tingkat yang sangat tinggi," ujar Mari.
Ia menyebut setidaknya ada tiga pelajaran dari kepemimpinan Frans Seda yang masih relevan, yakni keberanian mengambil keputusan, disiplin fiskal, dan integritas.
Baca juga : Menghidupkan Spirit Bandung, Menjawab Tantangan Abad 21 Untuk Generasi Muda
Menurut Mari, disiplin fiskal tidak semata-mata berarti membatasi belanja, tetapi memastikan sumber daya dialokasikan secara tepat untuk kepentingan jangka panjang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.