Dark/Light Mode

Unika Atma Jaya Pastikan Mahasiswa Disabilitas Bisa Belajar Dengan Setara

Jumat, 28 Agustus 2026 12:09 WIB
Mahasiswa tunanetra Unika Atma Jaya Michael Cipta Oey mengikuti kegiatan Inisiasi Student Life Journey (INI-SLJ) 2026 di kampus UAJ. Dok. UAJ
Mahasiswa tunanetra Unika Atma Jaya Michael Cipta Oey mengikuti kegiatan Inisiasi Student Life Journey (INI-SLJ) 2026 di kampus UAJ. Dok. UAJ

RM.id  Rakyat Merdeka - Unika Atma Jaya (UAJ) terus memperkuat komitmennya dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. Kampus memberikan kesempatan yang setara bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk belajar, beradaptasi, serta mengembangkan potensi secara mandiri.

Komitmen tersebut salah satunya terlihat dari kehadiran Michael Cipta Oey, mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2026. Sebagai mahasiswa tunanetra, Michael mendapat dukungan untuk mengikuti kegiatan akademik sekaligus beradaptasi dengan lingkungan kampus.

Michael memilih UAJ untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan minatnya di bidang Bimbingan dan Konseling. Ia mengetahui UAJ dari teman dan kenalan sesama penyandang disabilitas yang mengenalkan kampus tersebut sebagai lingkungan pendidikan yang terbuka bagi mahasiswa disabilitas.

“Pendidikan itu adalah hak semua orang. Semua orang bisa belajar meskipun memiliki kondisi yang berbeda. Belajar adalah sesuatu yang universal dan bisa dilakukan siapa saja, termasuk teman-teman dengan disabilitas,” kata Michael saat mengikuti Inisiasi Student Life Journey (INI-SLJ) 2026, dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).

Menurut Michael, kondisi disabilitas bukan alasan untuk berhenti belajar. Ia pun mengajak penyandang disabilitas untuk terus menempuh pendidikan dan mengembangkan kemampuan.

“Jadi, jangan menyerah untuk belajar. Kondisi disabilitas bukan berarti kemampuan untuk belajar menjadi terbatas,” ujarnya.

Didukung Fasilitas dan Teknologi

Baca juga : Dari Kampus ke Dunia Kerja, UPJ Perkuat Talenta & Pengalaman Industri Mahasiswa

Untuk mendukung proses belajar, UAJ menyediakan fasilitas dan akses lingkungan kampus yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Dukungan tersebut diharapkan membuat mahasiswa dapat menjalani aktivitas di kampus secara lebih mandiri.

Dalam proses perkuliahan, Michael akan memanfaatkan perangkat digital dan teknologi pembaca layar untuk membantu mengikuti kegiatan belajar.

Namun, pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas. Dukungan dari lingkungan sosial juga menjadi bagian penting agar mahasiswa penyandang disabilitas dapat merasa diterima dan nyaman dalam menjalani aktivitas perkuliahan.

Hal tersebut dirasakan Hana Isabel Nirvana, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2023 yang mendampingi Michael selama kegiatan INI-SLJ 2026.

Hana mengatakan, Michael tidak mengalami kesulitan berarti ketika berinteraksi dengan mahasiswa lainnya. Bahkan, menurut dia, Michael mampu membangun komunikasi dengan percaya diri.

“Saya tidak kesulitan untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan Michael. Yang paling berkesan, Michael seorang yang percaya diri. Ia bisa mengajak bicara teman-temannya lebih dulu dan teman-temannya juga welcome, sehingga Michael bisa menyatu dengan kelompoknya,” ujar Hana.

Hana juga mengatakan, lingkungan akademik di Program Studi Bimbingan dan Konseling selama ini memberikan dukungan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.

Baca juga : Mahasiswa Tuntut Pemberantasan Korupsi dan RUU Perampasan Aset

Hal itu, kata dia, terlihat dari keberadaan alumni tunanetra serta dukungan dosen dan mahasiswa terhadap mahasiswa disabilitas.

“Dosen-dosen sangat mendukung teman-teman disabilitas, mereka dibantu dan dituntun. Teman-teman dan kakak tingkat juga sangat menerima. Jadi, saya yakin Michael bisa beradaptasi,” katanya.

Menurut Hana, penerimaan dari lingkungan kampus menjadi modal penting bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk menjalani proses pendidikan dengan lebih percaya diri.

Dukungan tersebut juga membuat Rachmat Cipta Oey, ayah Michael, merasa lebih tenang melepas anaknya menempuh pendidikan tinggi.

Menurut Rachmat, pengalaman UAJ dalam mendampingi mahasiswa penyandang disabilitas menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih kampus untuk Michael.

“Unika Atma Jaya sebagai salah satu universitas swasta nasional yang sudah berpengalaman membuat saya cukup tenang untuk mendaftarkan kuliah anak saya di UAJ,” tutur Rachmat.

Ia berharap Michael dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar, mengembangkan diri, dan menjadi pribadi yang semakin mandiri.

Baca juga : Rektor Unsoed Tersandung Korupsi, Pengamat Ingatkan Evaluasi Sistem Pendidikan

“Harapan saya, Michael dapat belajar dan mengembangkan diri bersama Unika Atma Jaya, menjadi semakin mandiri, dan tidak perlu malu dengan kondisi sebagai seorang disabilitas,” ujarnya.

Kisah Michael menjadi salah satu gambaran upaya UAJ dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. Dukungan tidak hanya diberikan melalui fasilitas dan penyesuaian pembelajaran, tetapi juga melalui lingkungan sosial yang mendorong mahasiswa untuk saling menerima dan menghargai keberagaman.

Ketersediaan teknologi pendukung, penerimaan dari teman sebaya, serta dukungan dosen menjadi bagian yang saling melengkapi dalam menciptakan ruang belajar yang setara.

Bagi Michael, kesempatan memperoleh pendidikan merupakan hak yang tidak seharusnya dibatasi oleh kondisi fisik seseorang.

Dengan lingkungan pendidikan yang inklusif, UAJ berupaya memastikan perbedaan kondisi tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk belajar, mengembangkan potensi, membangun kemandirian, dan meraih cita-cita.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.