BREAKING NEWS
 

Saraswati Fellowship Batch 2 Perkuat Peran Perempuan Jadi Pemimpin

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : SRI NURGANINGSIH
Sabtu, 7 November 2026 18:55 WIB
Para pemenang program Saraswati Fellowship Batch 2 berfoto bersama di Jakarta, Sabtu (7/11/2026). (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Saraswati Fellowship terus memperluas ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kapasitas dan mengambil peran kepemimpinan.

Inisiator program Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mendorong, para peserta berani mengambil kesempatan, keluar dari zona nyaman, dan membuktikan kemampuan melalui karya nyata.

Menurut Rahayu, kepemimpinan perempuan tidak cukup hanya diperjuangkan melalui wacana kesetaraan gender. Perempuan perlu menunjukkan kiprah dan kontribusi nyata di berbagai bidang agar semakin banyak generasi muda melihat bahwa mereka mampu menjadi bagian dari perubahan.

Pesan tersebut disampaikan Rahayu dalam sambutannya pada Saraswati Fellowship Batch 2 yang diselenggarakan di Museum Nasional Jakarta, Sabtu (7/11/2026). 

Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas calon pemimpin perempuan sekaligus mendorong lahirnya perubahan bermakna bagi masyarakat.

Rahayu menegaskan, Saraswati Fellowship berawal dari kegelisahan pribadinya melihat diskusi mengenai keterwakilan perempuan dan kesetaraan gender kerap hanya dihadiri kalangan perempuan.

“Kalau kita hanya bicara di dalam ruangan tentang keterwakilan perempuan dan kesetaraan gender, kita hanya preaching to the choir. Kita membutuhkan lebih banyak lagi yang bisa bergerak dan membuktikan bahwa perempuan merupakan bagian dari komunitas yang membangun,” ujar Rahayu dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).

Dia menegaskan, tujuan program ini bukan sekadar menjangkau sebanyak mungkin peserta. Lebih dari itu, Saraswati Fellowship diharapkan melahirkan perempuan-perempuan yang dapat menjadi contoh nyata atau visual references bagi generasi berikutnya.

Pada Batch 2, sebanyak 30 peserta terpilih dari sekitar 500 perempuan yang mendaftar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Batch 1 yang memilih 30 peserta dari sekitar 300 pendaftar.

Rahayu meminta para peserta percaya terhadap kemampuan diri sendiri. Terlebih, mereka telah melewati proses seleksi dan mendapat kesempatan belajar bersama para mentor yang memiliki pengalaman di berbagai bidang.

Baca juga : Wisuda Pertama, Saraswati Fellowship Lahirkan 30 Calon Pemimpin Perempuan

Dalam sambutannya, Rahayu menitipkan tiga pesan penting kepada peserta, yakni kesempatan (chance), pilihan (choice), dan tujuan hidup (purpose).

Pertama, kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena tidak semua orang memperoleh peluang yang sama. Dia juga mendorong peserta membangun jejaring dan memanfaatkan akses yang dibuka para mentor.

Kedua, perempuan harus berani mengambil pilihan untuk keluar dari zona nyaman.

Menurut Rahayu, perjalanan menuju posisi kepemimpinan tidak selalu mudah. Ada ekspektasi sosial, batasan, hingga pihak-pihak yang meragukan kemampuan perempuan. Namun, setiap orang memiliki kendali atas sikap dan responsnya dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Ketika kalian memilih keluar dari zona nyaman, sering kali itu memang tidak nyaman. Kalian tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kalian, tetapi kalian punya pilihan penuh untuk menentukan bagaimana merespons mereka,” tegasnya.

Ketiga, setiap perempuan harus memiliki tujuan atau purpose dalam hidup. Tujuan tersebut menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah, termasuk ketika menghadapi kelelahan atau burnout.

“Ketika kalian tahu bahwa kalian punya tujuan dalam hidup, kalian akan terus berjalan. Kalian mungkin belum tahu persis apa tujuan itu, tetapi kalian tahu ada alasan mengapa dilahirkan dan berada di tengah masyarakat saat ini,” tuturnya.

Rahayu juga menekankan pentingnya sistem dukungan atau support system bagi perempuan yang ingin berkembang dan mengambil peran kepemimpinan. Dukungan itu tidak hanya berasal dari keluarga, tetapi juga mentor, lingkungan pertemanan, dan komunitas yang saling menguatkan.

Adsense

Dia berharap peserta Saraswati Fellowship tidak merasa berjalan sendiri. Mereka kini menjadi bagian dari komunitas yang dapat saling mendukung dan membuka jalan bagi perempuan lainnya.

Para peserta Batch 2 berasal dari beragam latar belakang, mulai dari kesehatan, kewirausahaan, kecantikan, hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan teknologi.

Baca juga : Industri Ulos Jadi Peluang Perempuan Perkuat Kemandirian Ekonomi

Keragaman tersebut diharapkan melahirkan calon pemimpin perempuan di berbagai sektor.

Komitmen memperluas kesempatan bagi perempuan dan anak muda juga disampaikan Chair of Shandri Foundation, Andika Deni Prasetya.

Dia mengatakan, yayasan tersebut akan terus membangun ekosistem dukungan yang inklusif melalui berbagai program pengembangan kapasitas dan kepemimpinan.

Andika menyebut, Shandri Foundation ingin membuka lebih banyak akses bagi generasi muda, salah satunya dengan mempertemukan tokoh-tokoh yang menjadi teladan dengan anak-anak muda yang memiliki semangat membawa perubahan.

“Ke depannya, Shandri Foundation akan terus berusaha menjadi ekosistem dukungan yang inklusif. Kita akan membantu membuka lebih banyak akses bagi anak-anak muda di Indonesia,” ujar Andika.

Dia mengungkapkan, pada 2027 Shandri Foundation menargetkan penyelenggaraan tiga batch Saraswati Fellowship.

Program tersebut akan menghadirkan lebih banyak tokoh besar agar semakin banyak anak muda mendapat kesempatan belajar dan melihat langsung kiprah para figur inspiratif.

“Kita akan hadirkan lebih banyak tokoh-tokoh besar agar lebih banyak lagi anak-anak muda yang bisa melihat bahwa Indonesia masih berjaya dan akan terus tumbuh besar,” katanya.

Selain mengembangkan Saraswati Fellowship, Shandri Foundation juga menyiapkan program baru bertajuk Scene Program. Program ini akan berfokus pada pengembangan intensif dan pendampingan virtual bagi ratusan ribu mahasiswa tingkat akhir agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Menurut Andika, perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat, terutama di era kecerdasan buatan atau AI, menuntut anak muda memiliki kesiapan sejak masih menempuh pendidikan tinggi.

Baca juga : Desa Migran Emas Jadi Pertahanan Benteng PMI

Mahasiswa, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah. Mereka juga perlu diperkenalkan dengan kebutuhan dan dinamika dunia kerja sejak dini.

“Kita tidak bisa lagi berharap anak-anak muda langsung memahami bagaimana dunia kerja yang berubah sangat cepat. Kita harus hadirkan dunia kerja ketika mereka masih berkuliah sehingga mereka bisa memahami dengan tepat dan siap untuk benar-benar berkontribusi," ujarnya.

Andika menegaskan, berbagai program yang dijalankan Shandri Foundation tidak terlepas dari dukungan banyak pihak.

Dia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dan memastikan manfaat dukungan tersebut akan terus dikembangkan agar menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

“Kami berterima kasih dan akan memastikan manfaat yang diberikan terus diputar dan dilipatgandakan. Hingga akhirnya tidak ada lagi pemuda Indonesia yang tidak mendapatkan kesempatan untuk lebih baik,” pungkas Andika.

Rahayu pun mengajak para peserta untuk meneruskan kesempatan yang telah mereka peroleh dengan membuka jalan bagi perempuan lainnya.

“Kalau kita sudah membuka jalan untuk kalian, kami berharap kalian juga membuka jalan bagi orang lain. Percaya pada diri sendiri. Rise, lead, inspire,” ujarnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense