RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menegaskan bahwa nasib pengembangan kilang nasional dan jaminan ketahanan energi sepenuhnya berada di tangan pemerintah.
Ia menekankan perlunya kepastian arah kebijakan energi nasional sesuai bauran energi yang disepakati.
Menurut Sugeng, masalah utama dalam ketahanan energi bukan hanya pada pengembangan kilang, tetapi juga pada kebijakan pengendalian konsumsi BBM.
“Kalau sudah merumuskan bauran energi, sudah fix lalu tentukan pemenuhannya dengan cara apa, misalnya apakah minyak kita biarkan seperti hari ini? pemakaian BBM linear dengan pertambahan mobil tanpa ada pengendalian. Sekarang ada Electric Vehicle (EV) dengan insentif. Tapi antara pertambahan mobil EV dan kendaraan BBM tidak seimbang. EV baru 12 persen per tahun. Artinya kendaraan BBM tetap naik lebih tinggi dari EV,” jelas Sugeng di Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Baca juga : Penghargaan Bagi Ibunda Bayu Satria Dorong Penguatan Gerakan Inklusi Nasional
Sugeng menambahkan, meski amanat penambahan kapasitas kilang diberikan kepada PT Pertamina (Persero), pemerintah tidak bisa lepas tangan tanpa arahan kebijakan energi yang jelas.
Ia mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk melanjutkan roadmap pengembangan kilang yang sempat terdampak kondisi global dan pandemi.
Selain kapasitas, fleksibilitas kilang juga harus ditingkatkan agar Indonesia tidak bergantung pada satu jenis minyak mentah.
“Harus diperbaharui RDMP tidak hanya kapasitas dan tapi juga fleksibilitas,” ujar Sugeng.
Baca juga : Pertamina Dorong Kemandirian Siswa Lewat Program Ganti Oli Gratis Nasional
Proyek RDMP dan NGRR Tuban Saat ini Pertamina tengah menggarap Refinery Development Master Plan (RDMP) melalui revitalisasi kilang Balikpapan, Balongan, Cilacap, Dumai, dan Plaju.
Proyek terbesar adalah Kilang Balikpapan dengan target kenaikan kapasitas dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari, yang ditargetkan rampung akhir tahun ini.
Sementara Kilang Balongan telah selesai revamping dan kapasitasnya naik dari 125.000 menjadi 150.000 barel per hari. Kilang lainnya difokuskan pada peningkatan fleksibilitas, termasuk kemampuan mengolah sour crude.
Lebih lanjut, Sugeng menyoroti pentingnya pengembangan kilang untuk kebutuhan industri petrokimia, di mana Indonesia masih sangat kekurangan pasokan.
Baca juga : Perkuat Perfilman Medan, Kementerian Ekonomi Kreatif Dorong Kearifan Lokal
Ia memuji konsep New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban. “NGRR Tuban bagus konsepnya kalau bangun kilang untuk sustain secara ekonomi. Kemudian kembangkan jadinya petrochemical industry complex. Supaya nilai keekonomianm kilang sustain ubah jadi petrochemical,” jelas Sugeng.
Khusus untuk kelanjutan NGRR Tuban yang terhambat akibat dampak perang Rusia-Ukraina, Sugeng mengatakan pemerintah wajib turun tangan melalui diplomasi antar-pemerintahan.
“Harus ada G to G, Prabowo harus lobi Amerika Serikat. Ini harus jalan, Pertamina sudah investasi sekian ratus juta dollar. Harus jadi, kalau nggak jadi, proyek mangkrak,” tegas Sugeng.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.