BREAKING NEWS
 

Kebijakan HPP Gabah Dan Turunnya Harga Pupuk Bikin Petani Lebih Terlindungi

Reporter : HAIKAL AMIRULLAH
Editor : FAQIH MUBAROK
Rabu, 3 Desember 2025 22:32 WIB
Rombongan Komisi IV DPR saat kunjungan kerja ke Palembang, Selasa (2/12/2025). Foto: DPR

 Sebelumnya 
Sebagaimana diketahui, perumusan dan penetapan HPP merupakan kewenangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2021. Spirit melindungi petani tersebut pun telah termaktub dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 14 dan 16 Tahun 2025. Kemudian diperkuat dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025.

Bagi Pemerintah, HPP juga berperan sebagai jaring pengaman harga dalam bentuk HPP Rp 6.500 per kilogram (kg) tanpa rafaksi harga. HPP ini dapat membuat para tengkulak berpikir dua kali tatkala ingin membeli harga murah dari petani. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya mengangkat kesejahteraan petani pangan dalam negeri.

Adsense

Salah satu indikator kesejahteraan petani yang digunakan pemerintah adalah pergerakan Nilai Tukar Petani (NTP), terutama NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTP dan NTPP pada April 2025 yang merupakan puncak panen raya memiliki indeks tertinggi dalam 7 tahun terakhir atau sejak tahun 2019.

NTP di April 2025 dicatat BPS berada di 121,06. Sementara NTP sejak 2019 pada setiap bulan April berkisar di angka 100,32 sampai 116,79 saja. Selanjutnya NTPP di April 2025 berada di 106,51. Sementara NTPP sejak 2019 di setiap April berada di angka 96,24 sampai 105,54.

Baca juga : PSI Salurkan Bantuan Darurat untuk Warga Terdampak Banjir di Langkat

Dengan itu, terbukti tingkat kesejahteraan petani senantiasa terjaga saat panen raya berlangsung. Adanya akselerasi produksi beras nasional di tahun ini yang diperkirakan mencapai 34,79 juta ton turut mendongkrak indeks harga yang diterima padi secara nasional.

Mengutip data BPS, indeks harga yang diterima padi di November 2025 terus meningkat dibandingkan awal tahun 2025. Di Januari 2025 indeks tersebut masih berada di 136,78. Lalu di November 2025 meningkat menjadi 144,59. Bahkan indeks harga yang diterima petani padi di September 2025 sebesar 146,28 menjadi rekor tertinggi sejak 7 tahun terakhir.

Hal ini menandakan kesejahteraan petani padi Indonesia terus meningkat seiring prestasi produksi beras nasional yang mengalami eskalasi.

Lebih lanjut, fokus pembahasan RUU Pangan hari ini terdapat 5 fokus. Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menjabarkannya antara lain untuk penguatan sistem ketahanan pangan nasional dan daerah serta diversifikasi sumber pangan lokal, seperti sorgum dan jagung. Lalu penanganan food waste.

Baca juga : Trump Pastikan Gugatan Terhadap BBC Tetap Berlanjut

Kemudian perlindungan petani, nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku pangan lokal serta penguatan kelembagaan sektor pangan dalam menjamin ketersediaan pangan pokok dan stabilitas.

"Saya juga ingin mengapresiasi Pemerintah Sumatera Selatan ini, walaupun tidak semua lahan bisa panen dua kali, tapi sudah bisa surplus. Mudah-mudahan semua lahan yang ada di Sumatera Selatan ini bisa panen dua kali setahun," ucap Titiek.

"Jika saluran irigasi ini diperbaiki, hasil panen bisa meningkat hingga dua kali lipat. Ini akan kami perjuangkan di pusat agar perbaikannya segera direalisasikan, sehingga produksi pertanian Sumatera Selatan semakin meningkat," tambah Titiek Soeharto.

Dalam data BPS terkini, produksi beras Sumatera Selatan tercatat meningkat pesat. Proyeksi produksi beras Januari-Desember 2025 dapat mencapai 2,059 juta ton atau berkontribusi 5,92 persen terhadap produksi beras nasional. Ini juga meningkat 23,27 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang berada 1,67 juta ton.

Baca juga : Petani Perlu Diedukasi Teknik Kerek Produksi

Terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa seluruh instrumen kebijakan pangan untuk meningkatkan produksi, kebijakan HPP, kebijakan turunnya harga pupuk hingga penguatan stok Cadangan Pangan Pemerintah ditujukan untuk memastikan Indonesia mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan.

"Alhamdulillah tahun ini kita kembali berada di jalur swasembada beras. Produksi meningkat, harga di tingkat petani baik, harga pupuk turun dan kesejahteraan petani terus naik. Ini adalah hasil kerja keras petani kita serta sinergi seluruh pihak terkait. Kalau petaninya kuat, negaranya pasti kuat. Dan itu arah yang terus kita jaga," pungkas Kepala Bapanas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense