RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah percepatan dekarbonisasi global, Indonesia dinilai tidak lagi sekadar pemilik sumber daya, melainkan tengah bertransformasi menjadi pusat rantai pasok energi hijau dunia.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dave Akbarshah Fikarno Laksono, menilai strategi hilirisasi terintegrasi yang dijalankan pemerintah menjadi kunci lompatan tersebut.
Menurut Dave Laksono, di bawah kepemimpinan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Indonesia melakukan transformasi besar dari sekadar pemilik cadangan nikel terbesar dunia menjadi pemain utama industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global.
“Indonesia muncul bukan lagi sebagai penonton, melainkan pusat gravitasi baru. Transformasi ini adalah lompatan kuantum dari eksportir bahan mentah menjadi ‘raja’ baterai kendaraan listrik yang disegani dunia,” ujar Dave dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).
Baca juga : Basuki Hadimuljono Tinjau Operasi PHM, Pastikan Pasokan Energi IKN Aman
Dave menilai, visi hilirisasi terintegrasi yang diusung Bahlil bukan sekadar jargon, melainkan strategi presisi yang menggabungkan dua tujuan besar sekaligus, yakni komitmen menuju Net Zero Emission dan penguatan fondasi ekonomi nasional menuju target pertumbuhan 8 persen.
Selama ini, kata dia, narasi kekayaan alam Indonesia identik dengan ekspor bahan mentah. Namun melalui diplomasi energi yang agresif, kebijakan tersebut diubah dengan memperluas larangan ekspor nikel menjadi pembangunan ekosistem industri hijau terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Dengan mendorong konsorsium internasional membangun fasilitas pemurnian (smelter) hingga manufaktur sel baterai di dalam negeri, Indonesia dinilai berhasil mengunci posisi strategis dalam rantai pasok global.
“Ini diplomasi yang mengandung kekuatan. Kita tidak lagi meminta investasi, tetapi menawarkan kemitraan strategis kepada dunia yang haus energi bersih. Indonesia kini menjadi jantung industri kendaraan listrik dunia,” tegas Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 tersebut.
Baca juga : Percepat Penyediaan Hunian Terjangkau, Perumnas Kembangkan Rusun Samesta Alonia
Dave juga menyoroti komitmen pemerintah dalam memastikan transisi energi berjalan secara berkeadilan. Menurutnya, peralihan menuju energi bersih tidak boleh mengorbankan ketahanan energi nasional maupun membebani ekonomi rakyat.
Ia menyebut fokus pada optimalisasi Energi Baru Terbarukan (EBT) dan integrasi teknologi hijau dalam proyek strategis nasional sebagai bukti keseriusan Indonesia menjadi pemimpin pasar energi hijau.
“Setiap dolar investasi hijau yang masuk harus mampu menciptakan lapangan kerja berteknologi tinggi bagi generasi muda Indonesia,” ujarnya.
Dave menilai langkah strategis tersebut telah mengangkat martabat Indonesia di mata dunia. Jika sebelumnya Indonesia dipandang sebatas penyedia bahan baku, kini Indonesia diposisikan sebagai mitra teknologi masa depan dan penentu arah kebijakan energi regional.
Baca juga : Proyek Hilirisasi BAI Dorong Ekonomi dan Serap Tenaga Kerja di Mempawah
Di tengah transisi kepemimpinan nasional, stabilitas kebijakan energi dinilai menjadi sinyal positif bagi investor global bahwa Indonesia adalah tempat masa depan hijau sedang dibangun.
“Dengan menjadikan Indonesia sebagai jantung rantai pasok hijau, kita tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi menuliskan sejarah baru sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan memimpin dunia menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.