RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VIII DPR RI Muhamad Abdul Azis Sefudin menyoroti masih minimnya alokasi anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Tahun Anggaran 2027 di tengah tingginya risiko bencana yang dihadapi Indonesia.
Dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI bersama BNPB, disepakati usulan tambahan anggaran sebesar Rp 941,44 miliar. Namun, menurut Azis, besaran anggaran tersebut masih belum sebanding dengan kebutuhan penanggulangan bencana di Indonesia.
“Indonesia adalah laboratorium bencana dunia. Hampir semua jenis bencana ada di negara kita. Dengan kondisi seperti itu, kita harus jujur mengatakan bahwa anggaran yang tersedia, bahkan setelah mendapat tambahan, masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan riil di lapangan,” kata Azis dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).
Baca juga : DPR Setujui Anggaran PKP 2027, Lasarus: Ara Komposer Program Perumahan Rakyat
Ia mengatakan, Indonesia menghadapi berbagai ancaman bencana, mulai dari bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung api, hingga bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan yang dinilai semakin meningkat akibat perubahan iklim.
Karena itu, legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut meminta BNPB mengubah paradigma penanggulangan bencana dari yang selama ini lebih berfokus pada penanganan setelah bencana terjadi menjadi pendekatan yang mengedepankan mitigasi dan pencegahan.
“Saya mendesak BNPB untuk mengubah sudut pandang penanganan bencana dari reaktif menjadi preventif setelah anggaran ini terealisasi. Saya akan terus mengingatkan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati,” ujarnya.
Baca juga : ESDM Alokasikan 82 Persen Anggaran 2027 Untuk Program Energi Rakyat
Azis, yang mewakili daerah pemilihan Jawa Barat III meliputi Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor, berharap pada Tahun Anggaran 2027 BNPB dapat memperkuat pembangunan infrastruktur mitigasi, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta kapasitas pemerintah daerah di wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Menurut dia, investasi pada upaya pengurangan risiko bencana tidak hanya bertujuan melindungi keselamatan masyarakat, tetapi juga dapat menekan potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat bencana.
“Kita sering kali baru sibuk ketika bencana sudah datang. Padahal negara seharusnya lebih banyak berinvestasi pada pencegahan. Setiap rupiah yang digunakan untuk mitigasi akan menghemat biaya penanganan bencana yang nilainya bisa berkali-kali lipat,” kata Azis.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.