Sebelumnya
Jaga Laut dari Illegal Fishing dan Sampah
Di sisi lain, Ibas menegaskan bahwa pengembangan ekonomi biru harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem laut. Ia menyoroti ancaman illegal fishing, penggunaan metode penangkapan yang merusak, serta pencemaran dan sampah laut.
“Jangan sampai kita menghalalkan segala cara dengan melakukan pemboman yang akhirnya merusak koral dan ikan yang tidak sepatutnya disakiti,” ujarnya.
Karena itu, Anggota Dapil Jawa Timur VII tersebut mendorong penguatan penegakan hukum dan koordinasi antarlembaga agar sumber daya laut Indonesia dapat dimanfaatkan secara produktif sekaligus dijaga keberlanjutannya.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Ibas menegaskan bahwa pembangunan sektor kemaritiman tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah maupun parlemen. Kolaborasi harus melibatkan pelaku usaha, akademisi, komunitas, organisasi kepemudaan, peneliti, pemerintah daerah, serta masyarakat pesisir.
Baca juga : Edhie Baskoro: Indonesia Emas Harus Tanpa Bandar Narkoba
“Kita butuh kolaborasi. Tidak bisa hanya parlemen, hanya pemerintah, atau hanya swasta. Kita juga membutuhkan komunitas, lembaga terkait, dan pakar kampus agar kita tidak hanya bertemu di kebijakan, tetapi juga bertemu di lapangan,” katanya.
Dia membuka ruang kolaborasi antara Maritim Muda Nusantara dengan anggota Fraksi Partai Demokrat di berbagai daerah untuk mengembangkan kegiatan, pendampingan, riset, maupun program pemberdayaan masyarakat pesisir.
Menurut Ibas Yudhoyono, sinergi tersebut perlu diarahkan pada target yang terukur sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Yang kita butuhkan sekarang adalah hasilnya. Agar pendapatan masyarakat terus naik, UMKM terus naik kelas, dan pemuda-pemuda kita mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.
Laut sebagai Jalan Menuju Indonesia Maju
Dalam sesi tanggapan, Ibas kembali menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program dan konsistensi kebijakan. Ia menyampaikan bahwa tantangan kemaritiman tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu atau dua kebijakan.
Diperlukan kesinambungan dari tingkat pusat hingga daerah serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. “Indonesia yang besar ini tidak bisa ditutup pikirannya hanya kepada mereka yang diwakilkan. Suara dari kalian juga mewadahi pikiran-pikiran rakyat dan komunitas lainnya,” kata Ibas.
Baca juga : Hendri Satrio: Pengisi Dapil Nasional Bukan Pilihan Partai
Ia menilai forum dialog seperti yang digelar bersama Maritim Muda Nusantara merupakan ruang penting untuk mendengar aspirasi masyarakat sekaligus merumuskan langkah konkret.
Dalam kesempatan yang sama, H. Anton Sukartono Suratto menyoroti pentingnya penguatan keamanan dan pengawasan laut. Menurutnya, luasnya wilayah perairan Indonesia membutuhkan dukungan sarana, teknologi, serta pengelolaan yang optimal.
Dia juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendukung nelayan, termasuk penguatan konektivitas di wilayah yang masih mengalami blank spot.
Sementara itu, H. Muhammad Lokot Nasution dari Komisi V menekankan pentingnya konektivitas dan transportasi laut dalam mendukung pembangunan maritim. Ia juga melihat perlunya penguatan edukasi mengenai cuaca dan keselamatan pelayaran bagi masyarakat pesisir dan nelayan.
Dari Komisi IV, Nurwayah membawa perspektif masyarakat pesisir sekaligus latar belakangnya sebagai anak nelayan. Ia menilai suara generasi muda dan masyarakat pesisir perlu terus mendapat ruang dalam pembahasan mengenai masa depan kemaritiman.
M. Zulfikar Suhardi juga mengapresiasi gagasan generasi muda yang menurutnya tidak hanya berbicara mengenai kesejahteraan nelayan, tetapi turut membawa isu keamanan laut, ekonomi biru, dan berbagai persoalan strategis lain bagi kemajuan Indonesia.
Baca juga : Dede Yusuf: Kami Memikirkan Jutaan Suara Hangus
Dari sisi komunitas, Ketua Umum Maritim Muda Nusantara Kaisar Akhir menyampaikan apresiasi atas ruang dialog yang diberikan kepada generasi muda.
Dia menilai forum tersebut menjadi momentum penting karena komunitas yang selama ini bergerak di sektor kemaritiman dapat menyampaikan langsung gagasan dan aspirasi kepada parlemen.
Sementara itu, Ketua Maritim Muda Sulawesi Barat Awaludin mendorong pembentukan sentra pemberdayaan pemuda maritim di daerah. Menurutnya, ruang tersebut dapat menjadi tempat kolaborasi berbagai organisasi, pemerintah, akademisi, media, sekaligus pusat peningkatan kapasitas digital dan pengembangan Duta Ekonomi Biru.
Menanggapi berbagai gagasan tersebut, Edhie Baskoro menegaskan bahwa masa depan maritim Indonesia membutuhkan keberlanjutan, konsistensi, dan kolaborasi dari tingkat pusat hingga daerah.
“Laut ini bukan hanya batas Indonesia. Laut ini juga menjadi jalan untuk menuju Indonesia yang lebih maju dan lebih berdaulat, adil dan makmur,” pungkas Ibas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.