Sebelumnya
Generasi Muda Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Menutup diskusi, Ibas menyoroti pentingnya membangun keterlibatan generasi muda dalam kehidupan publik, kebijakan, dan pembangunan nasional.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini tidak ringan. Mereka menghadapi persaingan dunia kerja, biaya hidup, perubahan teknologi, ketidakpastian ekonomi, dan perubahan cara masyarakat mengakses informasi. Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang mampu menjembatani aspirasi generasi muda dengan proses pengambilan keputusan publik.
Politik dan kebijakan publik perlu hadir sebagai instrumen untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, membuka kesempatan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Ibas mendorong generasi muda untuk terus belajar, membangun kapasitas, berani berinovasi, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Baca juga : AQUA Rayakan Juara Timnas di FIFA ASEAN Cup, Buah Penantian 35 Tahun
Ia juga menekankan pentingnya memperluas akses pendidikan, program pengembangan kompetensi, dan peluang beasiswa bagi talenta Indonesia.
“Generasi muda tidak boleh kehilangan harapan. Kita harus membuka lebih banyak ruang bagi mereka untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi. Masa depan Indonesia bukan hanya tentang apa yang dapat dilakukan pemerintah hari ini, tetapi juga tentang kesempatan yang kita siapkan bagi generasi yang akan melanjutkan perjalanan bangsa,” tegasnya.
Ibas berharap dialog di RSIS dapat menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan akademik dan strategis Indonesia–Singapura, memperkaya pertukaran gagasan, dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Bagi Dr. EBY, pengalaman kembali ke RSIS juga memiliki makna tersendiri. Sekitar 19 tahun lalu, dirinya pernah belajar di institusi tersebut. Karena itu, pertemuan kali ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai isu strategis, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali hubungan dengan lingkungan akademik yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya.
Baca juga : Baila Fauri, Dipeluk Ivar Jenner
“RSIS selalu ada di hati saya. Sekitar 19 tahun lalu saya pernah belajar di sini. Karena itu, bagi saya, kembali ke RSIS bukan sekadar menghadiri pertemuan, tetapi juga kembali ke tempat yang memiliki arti dalam perjalanan pendidikan saya,” ungkap Ibas.
Baginya, pembangunan nasional memerlukan kepemimpinan yang bijaksana, kebijakan yang berkesinambungan, tata kelola yang baik, dan kerja sama yang kuat.
Dengan fondasi tersebut, Indonesia dapat terus memperkuat daya saing, menjaga ketahanan nasional, dan mewujudkan pertumbuhan yang lebih inklusif bagi seluruh rakyat.
Dalam agenda tersebut, turut hadir mendampingi Wakil Ketua MPR RI Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, yakni H. Fathi; Dr. Hillary Brigita Lasut, Andry Hakim, Founder & CIO Stockwise; Dr. David Sutyanto, Ilham Mendrofa; Renanda Bachtar; Jansen Sitindaon; serta Gana Febrana, Tenaga Ahli Edhie Baskoro Yudhoyono.
Baca juga : FIFA ASEAN Cup Jadi Momentum Baru Sepakbola ASEAN
Sementara dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), hadir H.E. Ambassador Ong Keng Yong, Executive Deputy Chairman RSIS; Nicholas Lim, Senior Fellow sekaligus Coordinator of Defence and Military Relations, RSIS; Alexander A. Arifianto, Senior Fellow sekaligus Coordinator of Indonesia Programme, RSIS; Leonard C. Sebastian, Senior Fellow, Indonesia Programme, RSIS; Adhi Priamarizki, Senior Associate Fellow, Indonesia Programme, RSIS; serta Muhammad Faizal Bin Abdul Rahman, Research Fellow, Regional Security Architecture Programme, RSIS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.