BREAKING NEWS
 

DPR: Serangan Siber Di Jepang Jadi Peringatan Bagi Indonesia

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : FAQIH MUBAROK
Selasa, 13 Oktober 2026 13:43 WIB
Wakil Ketua Komisi I DPR, Sukamta. Foto: DPR RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengingatkan pemerintah Indonesia untuk memperkuat keamanan dan ketahanan siber nasional. Hal ini menyusul serangkaian serangan siber yang menimpa sejumlah perusahaan dan penyedia layanan digital di Jepang.

Menurut Kamta, kejadian tersebut menjadi peringatan bagi Indonesia bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi infrastruktur digital tidak serta-merta membuat suatu negara terbebas dari ancaman siber. Serangan siber bahkan dapat mengganggu aktivitas ekonomi, distribusi barang, hingga pelayanan publik.

“Ini menjadi peringatan bagi kita. Serangan siber sekarang bukan hanya soal pencurian data atau gangguan komputer. Dampaknya bisa merembet ke kegiatan industri, distribusi barang, transaksi ekonomi, bahkan pelayanan publik. Kita harus benar-benar menyiapkan diri menghadapi ancaman seperti ini,” kata Kamta, dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).

Dia menambahkan, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut meningkatkan tantangan keamanan siber. Teknologi ini dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menemukan celah keamanan, membuat penipuan digital yang lebih meyakinkan, hingga mempercepat proses serangan.

Baca juga : Agrinas Palma Gandeng BSSN Perkuat Keamanan Siber Dan Lindungi Data Perusahaan

“Dengan AI, pekerjaan yang dulu memerlukan keahlian teknis tinggi sekarang sebagian bisa dilakukan lebih mudah dan cepat. Ini tentu menambah tantangan bagi keamanan siber kita. Jangan sampai perkembangan ancamannya jauh lebih cepat daripada kemampuan kita menghadapinya,” ungkapnya.

Kamta menegaskan, Indonesia perlu memperkuat ketahanan siber. Bukan sekadar membangun sistem perlindungan untuk mencegah serangan. Kesiapan menghadapi gangguan dan memulihkan layanan juga harus menjadi perhatian.

Menurut politisi PKS itu, sistem digital harus tetap dapat beroperasi atau segera dipulihkan ketika terjadi serangan. Dengan begitu, dampak gangguan dapat dibatasi dan tidak meluas ke berbagai layanan sekaligus.

Adsense

“Yang harus kita siapkan bukan hanya bagaimana mencegah serangan, tetapi juga bagaimana memastikan sistem tetap bisa bekerja ketika terjadi gangguan. Kalau ada sistem yang berhasil diserang, dampaknya harus bisa dibatasi dan pelayanannya segera dipulihkan. Jangan sampai satu serangan melumpuhkan banyak layanan sekaligus,” jelasnya.

Baca juga : BAZNAS Berangkatkan 23 Mustahik Bekerja Ke Jepang, Total 107 Orang

Ia menyoroti ketergantungan perusahaan dan lembaga terhadap penyedia infrastruktur digital yang sama. Kondisi tersebut berpotensi membuat gangguan pada satu penyedia berdampak luas terhadap banyak pengguna.

Karena itu, Kamta mendorong penguatan keamanan infrastruktur digital strategis, peningkatan kemampuan mendeteksi dan menangani serangan, serta penyediaan sistem cadangan dan mekanisme pemulihan layanan.

Kemampuan tenaga ahli keamanan siber dan latihan menghadapi serangan berskala besar juga perlu terus ditingkatkan. Ia mengingatkan, berbagai sektor penting di Indonesia kini bergantung pada sistem digital. Mulai dari telekomunikasi, energi, perbankan, transportasi, kesehatan, hingga pelayanan pemerintahan.

Gangguan pada satu sistem harus diantisipasi agar tidak merembet dan mengganggu aktivitas masyarakat secara luas. Kamta menekankan, penguatan keamanan dan ketahanan siber membutuhkan kolaborasi pemerintah, lembaga keamanan siber, operator infrastruktur, dunia usaha, dan perguruan tinggi.

Baca juga : Ketika Data Lama Tak Pernah Benar-Benar Mati

“Digitalisasi harus terus kita dorong karena manfaatnya besar bagi kemajuan bangsa. Tetapi semakin tinggi ketergantungan kita pada teknologi digital, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaganya. Infrastruktur digital Indonesia harus aman, kuat menghadapi serangan, dan cepat pulih ketika terjadi gangguan,” pungkasnya.

Sekadar informasi, Jepang menetapkan situasi darurat siber. Status ini menyusul gelombang serangan peretasan yang menyasar puluhan perusahaan dan mengancam kebocoran jutaan data pelanggan.

Menurut laporan The Financial Times yang dirangkum PC Mag, lebih dari 20 perusahaan besar di sana melaporkan serangan siber dalam beberapa waktu belakangan.

Beberapa di antaranya mencakup jaringan minimarket Lawson, operator kereta East Japan Railway Company (JR East), perusahaan sekuritas Daiwa Securities, hingga peritel barang bekas BookOff Group.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense