RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya dialog dan kolaborasi tiga sektor, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil, dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Hal itu disampaikan Lestari dalam pidato pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bosphorus ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis (5/11/2026), yang dihadiri para pemimpin dan pakar di sejumlah bidang dari berbagai negara.
Dalam pidatonya, Lestari mengajak dunia menjadikan dialog sebagai jalan utama menyelesaikan perbedaan. Menurutnya, stabilitas yang dipaksakan akan rapuh, sedangkan stabilitas yang tumbuh dari kepercayaan akan kokoh.
"Stabilitas bukanlah ketiadaan peluang, melainkan kehadiran kepercayaan di tengah perubahan itu sendiri," ujarnya.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Literasi Digital Fondasi Anak Ekspresikan Budaya
Rerie, sapaan akrab Lestari, menekankan bahwa perbedaan tidak seharusnya diselesaikan oleh suara yang paling lantang, melainkan melalui musyawarah hingga mencapai konsensus.
Ia merujuk pada tradisi musyawarah MPR serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menegaskan keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan ancaman.
Dalam forum tersebut, Rerie memaparkan tiga pilar kolaborasi yang dinilainya krusial. Pemerintah, termasuk parlemen, berperan memberikan kepemimpinan publik dan kebijakan yang melindungi semua pihak. Dunia usaha menyumbangkan sumber daya, inovasi, dan peluang ekonomi.
Sementara itu, masyarakat sipil membawa partisipasi komunitas serta kepercayaan yang menghubungkan institusi dengan rakyat.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Data TKA 2026 Jadi Peta Jalan Pendidikan Nasional
"Ketiga sektor ini dapat membantu masyarakat dan memberikan masa depan yang stabil dan damai bagi rakyat," tegasnya.
Anggota Komisi X DPR RI itu juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai investasi perdamaian. Menurutnya, konflik dapat diredakan di ruang kelas, jauh sebelum mencapai meja perundingan.
Ia mendorong penguatan kerja sama antarnegara dalam ketahanan bencana, peringatan dini, mitigasi, dan pemulihan. "Bangsa-bangsa yang berbagi garis patahan yang sama seharusnya juga berbagi kebutuhan yang sama," ucapnya.
Tak hanya itu, Rerie menekankan penempatan perempuan dan generasi muda di jantung solusi. Ia menilai, stabilitas yang mengabaikan separuh penduduknya tidak akan pernah lengkap.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Tanpa Catatan, Jejak Perempuan Akan Hilang Dari Sejarah
Dalam pidatonya, Rerie juga mengenang hubungan panjang Indonesia–Turki yang telah terjalin sejak abad ke-16 melalui perdagangan, agama, dan solidaritas. Ia menyebut ikatan kedua bangsa semakin kuat saat menghadapi duka bersama, seperti tsunami Aceh 2004 dan gempa bumi di Turki.
"Persahabatan kita tidak dibangun di ruang konferensi, tetapi dibangun pada saat-saat ketika satu bangsa berdiri di samping bangsa lain dalam duka," ujar Rerie.
Di akhir pidato, Rerie mengajak seluruh peserta forum, memimpin bukan hanya dengan gagasan bersama, tetapi juga dengan harapan dan tujuan bersama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.