RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang akan digelar 27 September 2027 di Taman Jaya Ancol, Jakarta, muncul isu politik bertajuk ABM atau Asal Bukan Mardiono.
Isu ini digulirkan oleh sebagian pihak yang menolak Plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono kembali memimpin partai. Narasi ini menyebut Mardiono sebagai “ikon kegagalan” PPP karena untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak 1973, PPP gagal yembus parliamentary threshold pada Pemilu 2024.
Namun, pandangan tersebut dinilai berlebihan dan cenderung mengabaikan fakta. Sejumlah pengamat internal menilai bahwa kegagalan PPP tidak bisa dibebankan hanya pada satu figur.
Baca juga : Di Tengah Demo, Panja RUU PPRT DPR Tetap Bekerja
Tren penurunan suara PPP sudah terjadi sejak periode kepemimpinan sebelumnya akibat konflik internal, melemahnya basis massa tradisional, dan pergeseran orientasi politik umat Islam.
"Menuduh Mardiono sebagai penyebab tunggal kegagalan PPP adalah simplifikasi. Justru beliau hadir di saat partai dalam kondisi sulit, dan berupaya menjaga soliditas agar PPP tetap eksis,” ujar seorang kader senior PPP yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, wacana mencari calon ketua umum dari luar kader PPP, seperti nama Dudung Abdurrahman, Amran Sulaiman, hingga Anies Baswedan, dinilai sebagai bentuk ketidakpercayaan diri terhadap kader internal.
Baca juga : Jadi Caketum Tunggal, Adies Kadir Dinilai Sebagai Pemimpin Paripurna untuk MKGR
Menurut para pendukungnya, Mardiono adalah kader tulen PPP yang loyalitas dan pengabdiannya tidak diragukan.
"PPP adalah partai besar yang lahir dari fusi empat kekuatan Islam. Masa depan partai tidak bisa digantungkan pada figur luar. Kader sendiri masih banyak yang layak, dan Mardiono termasuk di antaranya," tambah kader tersebut.
Meski diakui bahwa jalan PPP untuk kembali ke Senayan tidak mudah, peluang bangkit tetap terbuka. Sejarah memang menunjukkan banyak partai yang gagal masuk parlemen sulit kembali, namun bukan berarti mustahil.
"Yang dibutuhkan PPP bukan sekadar wajah baru, tetapi konsistensi, strategi, dan soliditas. Jika partai terus bergonta-ganti kepemimpinan hanya karena tekanan isu politik, publik akan melihat PPP sebagai partai rapuh," tegasnya.
Dengan demikian, narasi ABM dianggap lebih sebagai propaganda politik ketimbang solusi. Jalan terbaik bagi PPP bukanlah “Asal Bukan Mardiono”, melainkan bagaimana seluruh kader bersatu, melakukan evaluasi, dan memperkuat basis elektoral di masyarakat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.