RM.id Rakyat Merdeka - Partai Gema Bangsa menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah banjir di Pulau Sumatera, yang meliputi Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh.
Partai baru ini menekankan bahwa musibah ini tidak boleh dianggap sebagai bencana kecil atau biasa saja. “Atas nama Partai Gema Bangsa, kami menyampaikan doa, empati, dan solidaritas,” ujar Ketua DPP Partai Gema Bangsa Bidang Sosial dan Kebencanaan, Adin Denny, kepada RM.id, Rabu (3/12/2025).
Berdasarkan data yang dihimpun partainya hingga Rabu (3/12/2025), Adin merinci bahwa tercatat sudah 753 jiwa meninggal dunia, 650 jiwa masih hilang, 2.600 jiwa terluka, 3,2 juta jiwa terdampak, dan 1,1 juta jiwa terpaksa mengungsi.
Adin menilai, banjir dahsyat yang memporak-porandakan wilayah Sumatera ini merupakan peringatan keras bahwa kerusakan lingkungan telah mencapai titik kritis. Jalan keluarnya, menurutnya, adalah melakukan tobat ekologi atau menata ulang pengelolaan sumber daya alam.
Baca juga : Suplai BBM Aceh-Sumatera Aman, Pertamina Kebut Distribusi Ke Daerah Terisolir
“Tobat ekologi bukan sekadar ajakan moral, tapi kebutuhan mendesak agar tragedi seperti ini tidak terus berulang. Kita harus berhenti merusak dan mulai merawat bumi sebagai rumah bersama,” tegasnya.
Adin menambahkan, pola pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta lemahnya pengawasan terhadap eksploitasi sumber daya telah memperburuk risiko bencana.
Karena itu, tobat ekologi harus diwujudkan melalui langkah nyata: penataan ruang yang taat aturan, perlindungan kawasan resapan, rehabilitasi hutan, dan pengembangan budaya lingkungan yang lebih bertanggung jawab.
Selain pesan moral tersebut, Adin menekankan pentingnya desentralisasi kebijakan kebencanaan agar penanganan di lapangan tidak lambat dan tidak terhambat birokrasi pusat.
Baca juga : Atasi Bencana Alam Sumatera, DMI Serukan Masjid Jadi Shelter Pengungsi
“Bencana terjadi di daerah, bukan di pusat. Maka daerah harus menjadi garda terdepan dengan kewenangan penuh, anggaran memadai, dan kapasitas yang kuat. Desentralisasi bukan pilihan, tapi kebutuhan mutlak untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia berada di wilayah “Ring of Fire” (Cincin Api), yaitu pertemuan tiga lempeng tektonik besar: Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Posisi ini membuat Indonesia sering mengalami gempa bumi dan memiliki banyak gunung berapi aktif, sehingga menjadi salah satu wilayah paling aktif secara vulkanik dan seismik di dunia.
Adin menyoroti fakta bahwa banyak pemerintah daerah memiliki keterbatasan sumber daya, sementara ancaman bencana semakin sering dan ekstrem.
Dengan desentralisasi yang lebih kuat, daerah dapat membangun sistem mitigasi, peringatan dini, dan respons cepat sesuai karakter lokal masing-masing wilayah.
Baca juga : Banjir Melanda Sumatera, Gema Bangsa Ingatkan Pembangunan Berkelanjutan
Ia menegaskan, Partai Gema Bangsa akan terus mendorong reformasi tata kelola lingkungan dan kebencanaan, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
“Tobat ekologi adalah titik awal. Desentralisasi adalah jalannya. Dan keberanian kita hari ini akan menentukan apakah Indonesia menjadi bangsa yang tangguh menghadapi krisis iklim, atau terus menjadi korban dari kelalaian kolektif kita sendiri,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.