RM.id Rakyat Merdeka - Ancaman kubu pasangan calon Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) untuk melaporkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) mendapat sorotan tajam.
KPU dituding tidak professional lantaran penyebaran formulir C6 atau surat undangan pemungutan suara kepada pemilih yang tidak merata.
Namun langkah tersebut, dinilai tidak tepat dan kurang berdasar. RIDO dituding sedang memainkan jurus mabok.
Pengamat politik, Adib Miftahul menilai, tudingan kalau KPU DKI Jakarta tidak profesional sangat tidak mendasar. Dan laporan ke DKPP soal formulir C6 tak merubah hasil.
"Langkah kubu RIDO ini terkesan emosional dan salah sasaran. Mereka seperti memainkan jurus mabok untuk menarik simpati publik," kata Adib kepada wartawan, Selasa (3/12).
Menurutnya, sepanjang pemilih itu terdaftar sebagai pemilih, bisa mencoblos dengan membawa KTP. Terkait partisipasi rendah di Pilkada DKI Jakarta, menurut dia, bukan hanya KPU, tapi juga menjadi tugas bersama seluruh pasangan calon untuk mengajak pendukungnya ke TPS.
Baca juga : Pengamat: Kenaikan UMP 2025 Bisa Dongkrak Daya Beli Masyarakat
"Partisipasi pilkada serentak 2024 disemua daerah memang banyak yang turun. Artinya ada indikasi kejenuhan rakyat terhadap pesta demokrasi yang berbarengan," bebernya.
Kabar beredar, orang yang melaporkan tidak dapat undangan formulir C6 ke Timses RIDO hanya sekitar 100 orang.
"Nyatanya banyak yang menerima C6 ketimbang tidak. Kalau partisipasi rendah di Jakarta atau golput itu adalah alasan politik dan bukan soal adiministrasi," ungkap Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN).
Pengamat yang juga analis politik dan dosen UNIS ini menambahkan, kalau memang mau melakukan evaluasi kepada KPU setelah penyelenggaraan selesai.
Dia menduga tudingan yang dilontarkan hanya untuk menutupi kegagalan dan lemahnya kerja para Timses RIDO.
"Mungkin para timses tidak mau malu karena kalah, jadi cari cara untuk menutupi kesalahan dengan alasan partisiapsi (golput)dan profesionalitas. Atau memang anggaran seret jadi mereka duduk manis," tambahnya.
Baca juga : Para Hakim Yang Mulia, Carilah Rezeki Yang Halal
Seperti diberitakan, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya menduga rendahnya partisipasi warga diduga karena jenuh yang bedampak pada partisipasi pemilih di Pilkada Serentak 2024 rendah.
Menurutnya, pemilih jenuh karena jarak antara pilpres, pileg, dan pilkada terlalu berdekatan. Pilpres dan pileg baru digelar pada Februari 2024 lalu.
Diketahui, Timses RIDO menuding KPU DKI Jakarta tidak profesional. Sekretaris Timses RIDO, Basri Baco, mengatakan tidak profesionalnya KPU Jakarta terlihat dalam penyebaran formulir C6 atau surat undangan pemungutan suara kepada pemilih.
Dia mengatakan, banyak warga yang tidak mendapatkan surat undangan di hari pemungutan suara. Menurutnya, warga yang tidak mendapatkan undangan tersebut akhirnya gagal menggunakan hak suaranya.
"Banyak warga yang tidak menerima formuli C6. Sedangkan yang menerima rata-rata terimanya adalah satu atau dua minus H atau sebelum Pilkada. Harusnya 3 atau 4 hari sebelum nyoblos ," kata Basri Baco di Kantor DPD Golkar Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2024).
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ini mengancam, pihaknya akan melaporkan KPU Jakarta kepada Dewan Kehormatan Penyelanggara Pemilu (DKPP) buntut dari tudingan tidak profesional dalam penyebaran formulir C6 atau surat undangan pemungutan suara.
Baca juga : Pakar Hukum Sarankan Perkara Mardani Maming Dikaji Ulang
Golput Tinggi
Saat Pilkada DKI Jakarta partisipasi pemilih hanya 57,6 persen. Jumlah ini mencetak rekor tertinggi dalam sejarah pilkada di ibu kota, di mana jumlah golput sanggat tinggi.
Berdasarkan pemantauan via Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU pada Jumat sore, dari 98,5 persen data yang masuk terlihat tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak 2024 hanya 68,16 persen.
Angka ini jauh di bawah partisipasi Pilpres 2024 yang mencapai lebih dari 80 persen. Partisipasi pada Pilkada Sumatera Utara hanya 55,6 persen, sedangkan DKI Jakarta hanya 57,6 persen, terendah sepanjang sejarah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.