RM.id Rakyat Merdeka - Ketika hiruk-pikuk reshuffle dan konsolidasi politik menjelang tahun 2026 mulai menggema, ruang publik kita kembali dipenuhi wacana elite: siapa yang masuk kabinet, siapa yang layak maju, dan siapa yang bersekutu dengan siapa. Namun, satu hal yang kerap hilang dari perbincangan nasional adalah suara warga di bawah. Demokrasi yang seharusnya menyerap dari bawah justru mengeras di atas.
James C. Scott, dalam bukunya, Seeing Like a State (1998), memperingatkan tentang bahaya pembangunan dan kebijakan yang dirancang “dari atas ke bawah” tanpa memahami logika lokal dan kebutuhan warga. Negara, kata Scott, sering tergoda untuk “merapikan” masyarakat sesuai ke rangka administratif, bukan mendengarkan realitas sosial yang hidup dan kompleks. Inilah yang terjadi saat kebijkan dan politik tidak menderas ke bawah, melainkan mengalir di ruang elite semata.
Baca juga : Birokrasi, untuk Siapa?
Padahal, demokrasi bukan hanya soal pemilu lima tahunan. Demokrasi sejati lahir dan tumbuh dari partisipasi rakyat sehari-hari: dari musyawarah warga, dari forum RW, dari komunitas petani, nelayan, buruh, dan anak muda yang aktif menghidupi nilai-nilai republik. Ketika suara mereka tak terdengar, maka kebijakan kehilangan akarnya, meski diklaim "tepat sasaran".
Pembangunan yang bermula dari pidato, bukan dari pemetaan kebutuhan rakyat, hanyalah proyek kosmetik. Legitimasi bukan datang dari banyaknya tanda tangan pejabat, tapi dari kehadiran dan manfaat nyata di kehidupan warga.Konsolidasi politik yang sehat justru dimulai dengan mengonsolidasi kembali ruang-ruang dengar negara terhadap suara warga.
Baca juga : Anggaran dan Empati
Sudah saatnya kita membalik arah politik. Bukan dari elite untuk elite, tetapi dari rakyat untuk rakyat. Negara perlu belajar membangun dari bawah: bukan sekadar memberi “bansos”, tapi juga ruang berbicara, ruang menyampaikan kritik, dan ruang ikut merumuskan kebijakan.
Amartya Sen, dalam Development as Freedom (1999), menekankan bahwa pembangunan yang benar adalah yang memperluas kebebasan dan partisipasi warga bukan yang menumpuk proyek tanpa mendengar. Tanpa dimensi ini, politik kehilangan fungsi dasarnya: menyatukan, bukan memisahkan; menghidupkan, bukan menindas.
Baca juga : Mengubah Korelasi Kepercayaan
Kepemimpinan dan politik yang ideal adalah seperti air: mengalir ke bawah, menghidupkan akar-akar kehidupan rakyat, dan menyuburkan nilai keadilan sosial. Jika politik terus naik ke atas, rakyat akan terus tenggelam dalam ketidakpedulian. Maka marilah kita dorong politik yang menderas ke bawah politik yang mendengar, memeluk, dan menyuburkan kehidupan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.