RM.id Rakyat Merdeka - Ada satu kalimat yang makin sering terdengar di tengah masyarakat hari ini: yang penting bisa bertahan.
Kalimat itu sederhana. Tetapi menyimpan kegelisahan besar. Rakyat sedang masuk mode bertahan hidup. Mode survival.
Kita ambil contoh yang ada di tengah: kelas menengah. Kelas yang tidak cukup miskin namun juga tidak cukup kaya ini, mulai mengurangi nongkrong. Belanja ditahan. Liburan ditunda. Banyak orang kini lebih akrab dengan promo dan diskon dibanding rencana masa depan.
Memang, banyak yang terlihat bergerak. Tetapi tidak sedikit yang sesungguhnya sedang memasang mode bertahan hidup. Tampaknya, saat ini perubahan mentalitas sosial sedang berlangsung. Ini positif.
Baca juga : Rem Tangan Birokrasi
Inilah kelebihan bangsa ini: bisa menyesuaikan diri. Bahkan, lebih mudah bahagia. Kita selalu punya kalimat ajaib yang melebihi obat penenang: “untung masih begini, tidak sampai begitu”. Selalu untung walau pun dilanda musibah dan cobaan.
Namun, kita berharap, kondisi “mode bertahan hidup” ini tidak berlangsung lama. Karena, dampaknya bisa serius. Orang menjadi mudah cemas. Mudah marah. Mudah terbakar dan dibakar.
Untuk itulah, kalau sekarang ada indikator-indikator keuangan dan ekonomi yang belum membaik, itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Harus segera dibenahi dan diperbaiki.
Indikator ini tidak boleh hanya dibaca sebagai angka statistik ekonomi atau keuangan. Ini soal suasana batin sosial yang sulit diukur.
Baca juga : Virus, Waspada Dan Trauma
Di tengah semua tekanan itu, sesungguhnya masih ada harapan besar. Karena, salah satu yang luar biasa dari rakyat Indonesia yakni daya tahan.
Dalam situasi sulit, masyarakat kita tetap bergerak. Berbagai macam upaya dilakukan demi dapur ngebul dan bayar cicilan. Artinya energi bangkit itu masih ada.
Tugas negara dan semua pemangku kepentingan adalah memastikan energi itu tidak padam. Ciptakan ekosistem sehat yang memberi peluang, bukan hanya persaingan tanpa ujung. Jangan kecewakan rakyat.
Selain itu, harus ada pesan yang tersampaikan bahwa “Indonesia akan tetap berdiri kokoh, melangkah maju. Dan, kita akan melewati masa sulit bersama-sama”.
Baca juga : Tragedi: Budaya Yang Hilang
Kalau pun masyarakat Indonesia “lebih mudah bahagia”, jangan juga diekspoitasi atau dimanfaatkan. Standar kebahagiaan harus dinaikkan.
Dan yang paling penting: masyarakat perlu kembali diberi rasa percaya dan harapan. Karena, sekuat apa pun rakyat bertahan, sebuah bangsa tidak boleh terlalu lama hidup dalam mode survival. Manusia tidak diciptakan hanya untuk bertahan hidup. Manusia juga membutuhkan harapan.
Ibarat kapal yang diterpa badai, bertahan memang penting agar tidak tenggelam. Tetapi kapal tidak dibuat untuk terus dihantam ombak. Kapal dibuat untuk sampai ke tujuan.
Begitu pula sebuah bangsa: jangan terlalu lama sibuk bertahan, sampai kelamaan atau bahkan lupa caranya maju.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.