Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Apakah orang Indonesia benar-benar berani? Atau sekadar terbiasa meremehkan risiko?
Lihat saja di perlintasan kereta api Pondok Jati, Jakarta Timur. Rakyat Merdeka, akhir pekan lalu, membuat video pendek yang menggambarkan “keberanian” itu. Judulnya, “Menantang Maut di Pondok Jati”.
Perlintasan Pondok Jati seperti mencerminkan wajah kita. Palang sudah turun. Sirene berbunyi. Tapi motor tetap menyelip. Pejalan kaki tetap melintas. Seolah maut bisa ditawar.
Apakah ini keberanian? Nekat? Lalai? Nganggap enteng? Kebiasaan? Dampak dari “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”? Atau apa?
Baca juga : Alarm Nyaring Dari Bekasi
Puluhan tahun perilaku ini jadi pemandangan yang lumrah. Cenderung dibiarkan. Pelanggaran menjadi tontonan sehari-hari. Ketika semua orang melanggar, rasa takut menguap. Yang tersisa hanyalah logika sederhana:“Kalau yang lain bisa, saya juga bisa.”
Masalahnya bukan hanya individu. Ini soal sistem. Aturannya ada. Tapi tidak ditegakkan konsisten. Tanpa sanksi, hukum berubah jadi imbauan. Tanpa ketegasan, risiko terasa seperti opsional saja. Di titik ini, di jalanan, negara seperti kehilangan otoritas.
Siapa yang harus bertanggung jawab? Para “pelintas batas”? Tidak sesederhana itu. Sistem transportasi kita masih menyisakan banyak perlintasan sebidang.
Konflik antara kereta dan kendaraan berlangsung setiap hari. Waktu tunggu cukup lama. Tekanan hidup tinggi. Bagi sebagian orang, waktu adalah cuan. Menunggu berarti kehilangan uang. Risiko tertabrak terasa jauh. Kebutuhan hari ini terasa dekat. Di sisi ini, perlintasan memperlihatkan wajah ekonomi rakyat.
Baca juga : Di Dalam Tetap Galak?
Di perlintasan, kesehatan telinga juga dipertaruhkan. Pengendara dan pejalan kaki ada yang menutup telinganya ketika sirine berbunyi.
Apakah desibel suara sirine tersebut aman untuk pendengaran, terutama bagi yang sering terpapar? Bisakah nadanya divariasikan dengan nada lainnya, misalnya lagulagu daerah, atau lagu penyemangat dengan desibel tertentu?
Itu hanya “pikiran nakal”. Tapi membenahi perlintasan kereta memang butuh langkah terobosan dan keberanian. Rencana pemerintah menggelontorkan anggaran empat triliun rupiah untuk memperbaiki 1.800 perlintasan, perlu diakselerasi.
Program perbaikan perlintasan hanya satu aspek. Aspek lainnya yang tak kalah penting, yakni keteladanan. Contoh dari atas.
Baca juga : Bukan Sekadar Dua Periode
Karena, pelanggaran aturan oleh elite, dalam bentuk kebijakan atau apa pun, akan mengirim pesan diam-diam: aturan bisa dilanggar. Dari sini lahirlah generasi yang tidak takut aturan. Hanya takut sial.
Solusinya tidak bisa setengah hati. Penegakan hukum harus nyata. Kamera otomatis. Denda yang tegas. Tanpa negosiasi. Infrastruktur harus diperbaiki. Flyover, underpass. Juga keteladanan. Bukan sekadar rambu atau imbauan.
Bisakah? Bisa! Buktinya, wajah perkeretaapian bisa diubah oleh seorang Dirut. Kalau untuk perlintasan mestinya sangat bisa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.