Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Setiap kecelakaan transportasi di Indonesia hampir selalu dimulai dengan pola yang sama. Korban berjatuhan. Video beredar. Medsos ramai. Pejabat datang. Pernyataan belasungkawa keluar. Investigasi dijanjikan. Lalu? Pelan-pelan menghilang. Pelan-pelan dilupakan. Begitulah siklus kita selama ini. Sekarang, saatnya siklus tersebut diputus.
Sebagai pengingat kita perlu menengok kembali tiga tragedi terakhir.
Pertama, 27 April 2026, kecelakaan kereta api di Bekasi Timur. 16 orang meninggal. Pada 1 Mei, kecelakaan di perlintasan kereta di Grobogan. Empat meninggal dunia.
Lima hari kemudian, 6 Mei 2026, peristiwa tragis kembali terjadi. Kali ini di Sumatera Selatan. Bus bertabrakan dengan truk tangki BBM. Korbannya, 17 orang meninggal.
Baca juga : Perang “Selesai”, Ujian Dimulai
Sebelumnya, kecelakaan demi kecelakaan juga terus muncul. Bus pariwisata remnya blong. Truk kelebihan muatan. Kapal tenggelam. Jalan berlubang dan rusak memakan korban.
Pertanyaannya sederhana: mengapa kecelakaan transportasi terus berulang? Salah satu jawabannya. Ini hanya salah satu: kita terlalu sibuk membangun fisik, tetapi belum serius membangun budaya keselamatan. Kita punya jalan tol baru. Terminal baru. Rel baru. Bandara megah. Tetapi keselamatan seolah jadi pelengkap. Bukan budaya. Bukan kesadaran bersama.
Padahal keselamatan tidak berhenti pada proyek fisik. Keselamatan tumbuh dan melekat dalam diri sopir yang tidak dipaksa bekerja melebihi batas. Pada uji kelayakan kendaraan yang benar-benar dilakukan.
Keselamatan hidup dalam pengawasan muatan yang tidak bisa diajak kompromi. Pada rambu yang jelas. Pada jalan yang tidak dibiarkan rusak bertahun-tahun.
Baca juga : “Keberanian” Menantang Maut
Masalahnya, kita terlalu sering bergerak setelah tragedi terjadi. Ketika korban berjatuhan, semua tampak sibuk. Namun, beberapa minggu kemudian, semuanya kembali normal. Atau lebih tepatnya: kembali abai. “Hangat-hangat tahi ayam” seperti ini sangat berbahaya.
Ironisnya, masyarakat juga mulai terbiasa. Marah. Heboh. Jadi bahan pembicaraan di kafe dan warung kopi. Tetapi itu hanya sebentar.
Tragedi kereta di Bekasi misalnya, pelan-pelan meredup. Apalagi yang jauh dari ibu kota, seperti kecelakaan bus di Sumatera, lebih mudah lagi untuk dilupakan.
Di titik inilah kita perlu memberi penegasan dan perhatian sangat serius. Bahwa, infrastruktur tanpa budaya keselamatan hanyalah pembangunan yang setengah jadi.
Baca juga : Alarm Nyaring Dari Bekasi
Bangsa ini tidak cukup hanya membangun jalan. Tapi pastikan juga orang bisa pulang dengan selamat di jalan itu.
Karena, berdasarkan data Polri hingga awal 2026, sepanjang 2025 tercatat 158.508 kejadian kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Dari total tersebut, sebanyak 24.296 orang meninggal dunia. Ini bukan angka statistik. Ini data yang benar-benar hidup dan bermakna.
Sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa ukuran kemajuan bukan hanya seberapa cepat kendaraan melaju di jalan baru. Tetapi seberapa banyak nyawa berhasil dijaga.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 10 Mei 2026 dengan judul "Tragedi: Budaya Yang Hilang"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.