BREAKING NEWS
 

PPM Manajemen Dan KONI Dorong Atlet Siapkan Karier Setelah Masa Kompetitif

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : FAQIH MUBAROK
Jumat, 18 September 2026 13:04 WIB
PPM School of Management bersama KONI Pusat menggelar Webinar Nasional Membangun Entrepreneurial Mindset Atlet dan Pelatih Cabang Olahraga secara daring, Selasa (16/9/2026). Foto: KONI

RM.id  Rakyat Merdeka - Atlet tidak hanya dituntut mengejar prestasi di arena pertandingan, tetapi juga perlu menyiapkan karier untuk menghadapi kehidupan setelah masa kompetitif berakhir.

Hal tersebut menjadi perhatian PPM School of Management bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat melalui Webinar Nasional bertajuk “Membangun Entrepreneurial Mindset Atlet dan Pelatih Cabang Olahraga” yang digelar secara daring, Selasa (16/9/2026).

Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman mengatakan, pembinaan atlet tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian prestasi. Atlet juga perlu mendapatkan dukungan untuk mempersiapkan kehidupan setelah tidak lagi berkompetisi.

“Selain pembinaan tim/atlet menjadi juara, kita juga harus mendukung kegiatan pasca menjadi atlet,” kata Marciano, dalam sambutannya.

Salah satu bekal yang dapat dipersiapkan atlet dan pelatih adalah pola pikir kewirausahaan atau entrepreneurial mindset. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu mereka mengenali peluang, mengembangkan keterampilan, serta menciptakan sumber penghasilan baru.

Associate Professor dan Dosen Entrepreneurship, Marketing, dan Personal Branding PPM School of Management Aprihatiningrum Hidayati mengungkapkan, atlet sebenarnya telah memiliki sejumlah modal yang relevan dengan dunia kewirausahaan.

Baca juga : Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakbar Dapat Bonus dari Hardiyanto Kenneth

Menurut dia, disiplin, daya juang, persistensi, kemampuan bekerja dalam tim, serta keberanian menghadapi risiko secara terukur merupakan karakter yang telah terbentuk melalui pengalaman olahraga.

Namun, karakter tersebut perlu dilengkapi dengan keterampilan bisnis agar dapat dikembangkan menjadi nilai ekonomi.

“Kita terbiasa menyiapkan pertandingan berikutnya. Hari ini kita menyiapkan pilihan karier berikutnya,” ujar Aprihatiningrum.

Dia menuturkan, persiapan karier tidak harus menunggu hingga atlet mengakhiri masa kompetitif. Atlet dapat memulainya dari usaha kecil yang disesuaikan dengan jadwal latihan. Sementara pelatih dapat mengembangkan pengalaman dan keahliannya menjadi layanan atau usaha.

Kewirausahaan, lanjut dia, tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas berdagang. Hal tersebut juga mencakup kemampuan mengenali kebutuhan, menawarkan solusi, serta mengelola sumber daya agar menghasilkan nilai dan pendapatan.

Adsense

Pengalaman atlet maupun pelatih di dunia olahraga dapat menjadi titik awal untuk mengenali peluang usaha. Atlet, misalnya, memiliki pemahaman mengenai kebutuhan perlengkapan dan latihan dalam cabang olahraga tertentu.

Baca juga : Bukan Sekadar Main Gim Atlet Esports Indonesia Siap Buktikan Diri di Asian Games

Sedangkan pelatih memiliki pengalaman dalam menyusun program latihan, memberikan evaluasi, dan memahami kebutuhan peserta didik.

Meski demikian, pengalaman dan reputasi di dunia olahraga bukan jaminan keberhasilan bisnis. Produk maupun layanan yang ditawarkan tetap harus menjawab kebutuhan pelanggan.

Pengelolaan biaya, penentuan harga, operasional, dan kualitas layanan juga perlu dikuasai. Aprihatiningrum juga membahas sejumlah mitos tentang kewirausahaan. Salah satunya anggapan bahwa pengusaha dilahirkan, bukan dibentuk.

Dia menjelaskan, keterampilan kewirausahaan dapat dipelajari, mulai dari memahami kebutuhan pelanggan, menawarkan layanan, menghitung biaya, hingga memenuhi komitmen kepada pelanggan.

Peserta juga diperkenalkan dengan kerangka BRIGHT, yakni Business Oriented, Realistic, Innovative, Genuine, Honest, dan Timely. Kerangka ini dapat digunakan untuk mengembangkan gagasan mulai dari tahap ide, konsep bisnis, rencana bisnis hingga start-up.

Sejumlah atlet Indonesia yang telah memasuki dunia usaha turut menjadi contoh dalam pemaparan, antara lain Liliyana Natsir, Alan Budikusuma dan Susi Susanti, Chris John, Lindswell Kwok dan Achmad Hulaefi, Marcus Fernaldi Gideon, serta Ade Rai.

Baca juga : KONI Klungkung Gelar TC, Perkuat Fisik dan Mental Atlet Jelang Porprov

Pengalaman para atlet tersebut menunjukkan bahwa keterampilan dan jejaring yang dibangun selama berkarier di dunia olahraga dapat dikembangkan ke berbagai bidang usaha, seperti fasilitas olahraga, pelatihan, perlengkapan, hingga layanan kebugaran.

PPM School of Management dan KONI Pusat melalui kegiatan tersebut mendorong komunitas olahraga untuk mulai mempersiapkan pilihan karier sejak masa aktif sebagai atlet.

Pendidikan dan keterampilan manajemen dinilai dapat menjadi pelengkap bagi pengalaman yang telah diperoleh di arena olahraga.

Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari program Lecturer Goes To PPM School of Management untuk memperluas akses pengetahuan manajemen kepada berbagai komunitas, termasuk ekosistem olahraga nasional.

Adapun kegiatan ini diikuti hampir 1.000 atlet, pelatih dan pengurus olahraga dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 300 peserta mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting, sedangkan lebih dari 650 peserta lainnya menyaksikan siaran langsung melalui kanal YouTube KONI Pusat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense