Dark/Light Mode

UNTIRTA Hidupkan Tradisi Panganten Sunda Lewat Workshop Wiyaga

Sabtu, 9 Mei 2026 20:43 WIB
Foto: Untirta.
Foto: Untirta.

RM.id  Rakyat Merdeka - Workshop “Wiyaga Mapag Komara – Pangantenan Adat Sunda” tingkat Provinsi Banten 2026 sukses digelar di Aula Karakter Jawara, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Serang, Banten, pada 7 Mei 2026.

Kegiatan ini mengusung tema “Hidupkan Seni dan Senimannya untuk Menjaga Kehidupan Seni Budaya Nusantara sebagai Martabat Bangsa” dan menjadi bagian dari Program Hibah Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan kategori Pendayagunaan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan.

Ketua pelaksana kegiatan, Rian Permana, yang juga dosen Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP UNTIRTA, mengatakan workshop ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin bergesernya nilai-nilai kesenian tradisional di tengah masyarakat modern.

Menurut Rian, salah satu perubahan paling terasa dalam prosesi adat mapag panganten Sunda adalah penggunaan musik pengiring yang kini banyak digantikan rekaman digital atau MP3.

Padahal sebelumnya, musik tradisional dimainkan langsung oleh para wiyaga atau pemain musik tradisional.

Baca juga : FIFA-PSSI Dorong Transformasi Sepakbola ASEAN Lewat Workshop Teknologi VAR

“Ketika musik tradisional tidak lagi dimainkan secara langsung, yang hilang bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga mata pencaharian para senimannya. Ini persoalan serius bagi keberlangsungan hidup seni budaya Nusantara,” ujar Rian.

Ia menambahkan, prosesi mapag panganten Sunda di Banten juga mulai kehilangan banyak nilai etis, estetis, dan filosofis.

Bahkan, tidak sedikit peran lengser dan ambu yang dinilai tampil berlebihan hingga mengaburkan makna utama penyambutan pengantin.

“Pengantin seharusnya menjadi pusat perhatian dalam prosesi adat. Kreativitas tetap penting, tetapi harus memahami batas etika, estetika, dan filosofi budaya,” tegasnya.

Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai makna, filosofi, tata cara, hingga unsur musikal dalam upacara adat panganten Sunda.

Baca juga : Hidupkan Semangat Kartini, BRI Dorong Perempuan Berdaya Lewat Srikandi Pertiwi

Peserta juga berkesempatan mempraktikkan langsung permainan alat musik tradisional, seperti suling degung empat lubang.

Rian menghadirkan tiga narasumber, yakni Nanang Jaenudin dan Atang Suryaman dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, serta Idir Dira Suharja dari EMKA 9.

Sebagai tindak lanjut, panitia akan menggelar Festival Lomba Musik Upacara Adat Mapag Panganten Sunda Tingkat Provinsi Banten pada 15 Juli 2026.

Festival ini diharapkan menjadi wadah bagi para seniman tradisional untuk kembali berkarya, berkolaborasi, dan memperkuat identitas budaya daerah.

Workshop ini turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Banten, Swedhi Hananta, serta dibuka secara simbolis oleh Wakil Dekan FKIP UNTIRTA, Enggar Utari.

Baca juga : BNI Berdayakan 430 Perempuan NTT Lewat Program Anyaman Lontar

Peserta kegiatan berasal dari kalangan seniman, sanggar seni, komunitas budaya, guru seni, hingga generasi muda tingkat SD, SMP, dan SMA.

Acara pembukaan dimeriahkan penampilan rampak sekar dari siswa-siswi SD Peradaban Kota Serang yang membawakan dua lagu bertema potensi Banten ciptaan Rian Permana.

Pada sesi siang, peserta juga disuguhi Tari Kreasi Tradisi berjudul Debus Banten, karya Rian Permana.

Rian berharap, melalui dukungan Kementerian Kebudayaan, seni tradisional dan para senimannya dapat kembali hidup, berkembang, dan memiliki daya saing global dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui kekayaan budaya lokal Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.