Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pembinaan Atlet Muda
- Persija Alihkan Fokus ke Persiapan Musim 2026/2027
- Pramono Siapkan 1.000 Mushaf Al-Quran Untuk Peringatan ke 500 Tahun Kota Jakarta
- KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim SAR Evakuasi Penumpang
- Shin Tae-yong Fokus Benahi Fisik dan Taktik Persija
AI di Farmasi: Menjinakkan Teknologi, Memanusiakan Layanan
Rabu, 12 Agustus 2026 21:29 WIB
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di sektor farmasi bukan lagi isu masa depan. Ini adalah realitas yang sedang berlangsung, mengubah cara kita menemukan obat, memproduksinya, dan melayani pasien. Kementerian Perindustrian bahkan telah memfasilitasi uji coba teknologi AI untuk predictive maintenance di PT Kalbe Farma Tbk, sebuah langkah nyata yang menunjukkan bahwa adopsi AI di industri farmasi nasional adalah keniscayaan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita harus menggunakan AI, tetapi bagaimana kita menggunakannya secara bijak, etis, dan berdaulat.
Saya melihat setidaknya ada tiga dimensi krusial dalam pemanfaatan AI di dunia farmasi: sebagai katalis inovasi, sebagai asisten cerdas bagi apoteker, dan yang terpenting sebagai alat yang harus tetap berada di bawah kendali manusia untuk menjaga etika dan keamanan pasien.
AI: Mesin Pencari Obat Masa Depan
Salah satu sumbangsih AI yang paling menggembirakan adalah dalam riset dan pengembangan (R&D) obat. Bayangkan, biaya untuk mengembangkan satu molekul obat baru bisa melampaui 2,2 miliar dolar dan memakan waktu hingga satu dekade. Di sinilah AI berperan sebagai akselerator. Algoritma pembelajaran mesin dapat menyaring jutaan senyawa kimia, memprediksi struktur protein, dan mengidentifikasi kandidat obat potensial dalam hitungan hari, bukan tahun .
Di Indonesia, langkah ini juga mulai terlihat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah menguji coba pemanfaatan AI untuk membantu komparasi dokumen dalam proses perizinan obat, sebuah terobosan yang diharapkan dapat memangkas waktu evaluasi tanpa mengorbankan mutu dan keamanan produk. Ini adalah kabar baik bagi kemandirian farmasi nasional.
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Menjanjikan Kemajuan, Menuntut Tanggung Jawab Etis.
Apoteker 5.0: Bukan Digantikan, Namun Diberdayakan
Kekhawatiran terbesar yang saya dengar adalah AI akan menggantikan peran apoteker. Saya berpendapat sebaliknya. Sebuah pernyataan resmi dari ASHP (American Society of Health-System Pharmacists) justru menegaskan bahwa AI adalah alat untuk memperkuat, bukan menggantikan, penilaian klinis seorang apoteker. AI akan melahirkan "Apoteker 5.0" yang lebih berdaya. Tugas-tugas administratif dan analisis data rutin akan diotomatisasi, memberi ruang bagi apoteker untuk fokus pada kompetensi yang tidak bisa digantikan mesin: pengambilan keputusan klinis, empati, dan komunikasi terapeutik dengan pasien .
Bayangkan, AI dapat membantu skrining resep untuk mendeteksi potensi interaksi obat, memprediksi efek samping, atau mengingatkan pasien untuk minum obat . Namun, tanggung jawab akhir untuk memastikan terapi yang aman dan tepat tetap berada di tangan apoteker. Seorang apoteker tetap harus mampu memverifikasi, mempertanyakan, dan bahkan mengesampingkan rekomendasi AI jika dirasa tidak sesuai dengan kondisi pasien.
Human-in-the-Loop: Mengelola Risiko dan Menjaga Etika
Di sinilah letak tantangan terbesarnya: etika dan tata kelola. Penggunaan AI di bidang kesehatan, termasuk farmasi, harus dilandasi prinsip keadilan, transparansi, dan tanggung jawab . Kita tidak boleh membiarkan AI beroperasi sebagai "kotak hitam" yang keputusannya tidak bisa dijelaskan.
Baca juga : Apoteker di Ujung Tanduk? Menimbang Ulang Peran Manusia di Tengah Gemuruh AI
Dua risiko utama yang perlu diwaspadai adalah shadow use, di mana AI digunakan tanpa pengawasan dan dokumentasi yang memadai, dan overreliance atau ketergantungan berlebihan yang berujung pada penurunan kompetensi (deskilling) tenaga kesehatan. Prinsip human-in-the-loop (manusia dalam kendali) harus menjadi fondasi. Artinya, setiap keputusan penting yang dihasilkan oleh AI harus selalu dapat ditinjau, diverifikasi, dan diintervensi oleh apoteker atau tenaga kesehatan yang kompeten .
Kita perlu membangun literasi AI yang kuat, tidak hanya bagi para profesional farmasi, tetapi juga bagi mahasiswa farmasi sebagai calon praktisi. Pendidikan harus diarahkan pada bagaimana menggunakan AI secara kritis dan etis, bukan sekadar sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
Kesimpulan: Menuju Kedaulatan Farmasi Berbasis AI
Indonesia memiliki kesempatan emas untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengembang solusi AI di bidang farmasi. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi seperti yang digagas Kemenperin dan BPOM adalah langkah awal yang sangat positif. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi lokomotif inovasi, meningkatkan efisiensi, dan pada akhirnya, membantu kita mewujudkan kedaulatan obat dan kemandirian di sektor kesehatan. Kuncinya adalah menjinakkan teknologi agar tetap berada di rel kemanusiaan, di mana AI adalah mitra, bukan penguasa.
Daftar Rujukan
Baca juga : Farmasi di Era AI: Antara Efisiensi Revolusioner dan Tanggung Jawab Etis
Kharde, P., & Kharde, Y. (2026). Critical appraisal of the “ASHP Statement on the Use of Artificial Intelligence in Pharmacy”. American Journal of Health-System Pharmacy, 83(10), 461–462.
(2026). Artificial Intelligence in the Pharmaceutical Industry: Applications, Future of Clinical Pharmacy Challenges and Technology Drug Delivery Design. Zenodo.
de Ruiter, E. J., Eimermann, V. M., Rijcken, C., Taxis, K., & Borgsteede, S. D. (2025). The extent and type of use, opportunities and concerns of ChatGPT in community pharmacy: A survey of community pharmacy staff. Exploratory Research in Clinical and Social Pharmacy, 100575.
(2025). Memanfaatkan Kecerdasan Buatan dan Pembelajaran Mesin dalam Inovasi Farmasi. MEDICINUS, 28(2).
(2025). Human-in-the-loop reconsidered: Shadow use and reliance management in drug development. CiNii Research.
SRI AYU RISWANA
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya