Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin banyak digunakan dalam bidang kesehatan, termasuk farmasi. AI dapat membantu mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, memberikan informasi, serta mendukung pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual.
Menurut Anastasya dan Khairinisa (2024), AI memiliki berbagai potensi dalam bidang farmasi, mulai dari manajemen obat, pelayanan pasien, pemantauan keamanan dan efektivitas obat, hingga meningkatkan efisiensi pekerjaan di apotek. AI juga dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi potensi interaksi obat dan mengolah informasi pasien.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan hanya teknologi untuk bidang komputer. Dalam dunia farmasi, AI mulai memiliki peran dalam mendukung pekerjaan tenaga kefarmasian dan penelitian.
Membantu Pelayanan Kefarmasian
Pelayanan kefarmasian membutuhkan ketelitian karena berkaitan langsung dengan obat dan pasien. Apoteker harus memperhatikan berbagai informasi seperti nama obat, dosis, aturan penggunaan, interaksi, efek samping, dan kondisi pasien.
Menurut Setiadi et al. (2025), penggunaan aplikasi berbasis AI dapat membantu pemantauan terapi obat di rumah sakit. AI dapat digunakan untuk membantu menemukan masalah terkait obat, seperti interaksi obat, regimen dosis, dan beberapa parameter pasien.
Dengan adanya teknologi tersebut, pekerjaan apoteker dapat menjadi lebih efisien. AI dapat membantu menyaring informasi sehingga apoteker dapat lebih fokus pada pemeriksaan dan pengambilan keputusan.
Namun, hasil dari AI tetap harus diperiksa. Informasi yang diberikan teknologi tidak seharusnya langsung diterapkan kepada pasien tanpa pertimbangan tenaga kefarmasian.
AI dalam Farmakovigilans
AI juga dapat dimanfaatkan dalam farmakovigilans atau pemantauan keamanan obat. Kegiatan ini membutuhkan pengolahan banyak informasi mengenai efek samping obat yang berasal dari berbagai sumber.
Menurut Azali et al. (2025), pemanfaatan big data dapat memberikan peluang untuk meningkatkan farmakovigilans di Indonesia. Data seperti rekam medis elektronik, laporan efek samping, media sosial, dan data lainnya dapat dimanfaatkan untuk membantu pemantauan keamanan obat.
AI dapat membantu menganalisis data tersebut dan menemukan pola tertentu dengan lebih cepat. Hal ini dapat membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan lebih lanjut.
Walaupun demikian, kualitas data tetap penting. Data yang tidak lengkap atau tidak akurat dapat memengaruhi hasil yang diberikan oleh sistem AI.
AI dalam Pendidikan Farmasi
Selain pelayanan, AI juga mulai digunakan dalam pendidikan farmasi. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk membantu memahami materi, mencari penjelasan, membuat latihan soal, dan mengembangkan ide.
Menurut Zhang et al. (2024), mahasiswa farmasi memiliki pandangan yang secara umum positif terhadap penggunaan AI dan machine learning dalam pendidikan serta praktik farmasi. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai penerapan AI.
Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa farmasi perlu memahami cara menggunakan AI secara tepat. AI dapat membantu proses belajar, tetapi tidak seharusnya membuat mahasiswa berhenti membaca sumber ilmiah.
Jawaban yang diberikan AI tetap perlu dibandingkan dengan jurnal, buku, farmakope, pedoman, atau sumber resmi lainnya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh jawaban, tetapi juga belajar menilai apakah informasi tersebut benar.
AI Tidak Selalu Benar
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan AI adalah ketepatan informasi. AI dapat memberikan jawaban dalam waktu singkat, tetapi bukan berarti semua jawabannya selalu benar.
Menurut van Nuland et al. (2024), ChatGPT mampu memberikan jawaban akurat pada 79% dari 264 pertanyaan mengenai pengetahuan farmasi klinis yang diuji dalam penelitian mereka. Hasil tersebut menunjukkan kemampuan AI yang cukup baik, tetapi masih terdapat jawaban yang tidak tepat.
Dalam bidang farmasi, kesalahan informasi harus diperhatikan dengan serius. Kesalahan mengenai dosis, interaksi, kontraindikasi, atau penggunaan obat dapat berpengaruh terhadap keselamatan pasien.
Oleh karena itu, AI lebih tepat digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti sumber ilmiah atau tenaga profesional.
Apakah AI Akan Menggantikan Apoteker?
Kemajuan AI mungkin menimbulkan pertanyaan apakah pekerjaan apoteker nantinya akan digantikan oleh teknologi. Menurut saya, AI lebih tepat dilihat sebagai teknologi yang membantu pekerjaan apoteker daripada menggantikannya.
AI dapat melakukan pengolahan data dengan cepat dan membantu pekerjaan yang bersifat rutin. Namun, apoteker tetap dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan pasien, memberikan edukasi, memahami kondisi pasien, serta mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan.
Penerapan AI justru dapat menjadi kesempatan bagi tenaga kefarmasian untuk meningkatkan kemampuan. Apoteker tidak hanya perlu memahami obat, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menggunakan dan mengevaluasi teknologi.
Tantangan Penggunaan AI
Meskipun memberikan banyak peluang, penggunaan AI dalam farmasi juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah keamanan data pasien. Informasi kesehatan merupakan data yang harus dijaga kerahasiaannya sehingga penggunaannya dalam teknologi AI perlu dilakukan secara hati-hati.
Selain itu, AI juga dapat menghasilkan informasi yang kurang tepat. Karena itu, pengguna harus memiliki kemampuan untuk memeriksa dan menilai hasil yang diberikan.
Menurut Anastasya dan Khairinisa (2024), selain memberikan berbagai manfaat, penerapan AI dalam farmasi juga menghadapi tantangan seperti privasi data dan kemungkinan bias dalam algoritma.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi harus diikuti dengan pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab penggunaannya.
AI sebagai Peluang bagi Dunia Farmasi
Menurut saya, kehadiran AI tidak perlu dianggap sebagai ancaman bagi dunia farmasi. Teknologi ini justru dapat menjadi peluang apabila digunakan dengan tepat.
AI dapat membantu berbagai kegiatan, mulai dari pelayanan pasien, pemantauan terapi obat, farmakovigilans, pendidikan, hingga penelitian. Namun, penggunaan AI harus tetap disertai pengawasan manusia.
Mahasiswa farmasi juga perlu mulai mengenal teknologi ini karena perkembangan AI akan menjadi bagian dari perubahan dalam dunia kesehatan. Kemampuan menggunakan AI dengan kritis dapat menjadi salah satu keterampilan tambahan yang bermanfaat bagi calon tenaga kefarmasian.
Kesimpulan
AI memiliki peluang besar untuk mendukung perkembangan dunia farmasi. Teknologi ini dapat membantu mengolah data, meningkatkan efisiensi pekerjaan, mendukung pemantauan terapi, membantu farmakovigilans, serta menunjang pendidikan dan penelitian.
Namun, AI tidak dapat digunakan secara sembarangan. Akurasi informasi, keamanan data, etika, dan keselamatan pasien tetap harus menjadi perhatian utama. AI sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti apoteker, tetapi sebagai alat yang dapat membantu apoteker bekerja lebih efektif. Dengan penggunaan yang tepat dan tetap berada dalam pengawasan tenaga profesional, AI dapat menjadi salah satu teknologi yang membantu membawa dunia farmasi menuju pelayanan yang lebih efisien dan berkembang.
siskanurfanila
Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya