Dark/Light Mode

Bertanya Obat kepada AI: Kemudahan Baru atau Risiko Baru?

Kamis, 13 Agustus 2026 19:11 WIB
Ilustrasi pemanfaatan AI dalam memberikan informasi obat dan mendukung pelayanan kefarmasian. (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi pemanfaatan AI dalam memberikan informasi obat dan mendukung pelayanan kefarmasian. (Gambar dibuat dengan AI)

Pernahkah kita membayangkan bahwa untuk mengetahui informasi tentang obat, kita cukup bertanya kepada artificial intelligence (AI)? Saat ini, AI dapat memberikan penjelasan mengenai fungsi obat, cara penggunaan, efek samping, dan berbagai pertanyaan kesehatan dalam hitungan detik. Kemudahan ini membuat AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai mahasiswa Farmasi, saya melihat perkembangan ini sebagai sesuatu yang menarik, tetapi juga perlu disikapi dengan hati-hati. Menurut saya, AI dapat menjadi alat yang membantu dunia farmasi, tetapi tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti tenaga kefarmasian. Dalam bidang yang berhubungan dengan obat dan keselamatan pasien, jawaban yang cepat belum tentu merupakan jawaban yang tepat.

AI Mempermudah Mencari Informasi Obat

Salah satu manfaat AI adalah membantu mencari dan merangkum informasi. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk memahami materi yang sulit, membuat latihan soal, atau mencari penjelasan awal mengenai suatu topik. Tenaga kefarmasian juga dapat memanfaatkannya untuk membantu mengolah informasi dan data.

Dalam praktik kefarmasian, AI berpotensi membantu pengelolaan obat, mendeteksi kemungkinan interaksi obat, menganalisis data pasien, dan mendukung keputusan klinis. Kajian mengenai AI dalam praktik kefarmasian menunjukkan bahwa teknologi ini dapat membantu berbagai pekerjaan, tetapi tetap membutuhkan pengawasan tenaga profesional.

Cepat Menjawab Belum Tentu Benar

Di sisi lain, saya melihat risiko ketika masyarakat terlalu percaya kepada jawaban AI. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi informasi tersebut belum tentu selalu benar atau sesuai dengan kondisi seseorang.

Pertanyaan seperti “berapa dosis obat ini?” atau “bolehkah obat A diminum bersama obat B?” tidak selalu dapat dijawab secara umum. Usia, berat badan, penyakit, alergi, fungsi ginjal dan hati, serta obat lain yang digunakan dapat memengaruhi keputusan terapi.

Karena itu, informasi dari AI sebaiknya menjadi informasi awal, bukan dasar untuk melakukan pengobatan sendiri. Jawaban AI perlu diperiksa menggunakan sumber ilmiah dan, jika menyangkut kondisi pasien, dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Baca juga : Peran AI di Balik Percepatan Riset dan Pengembangan Obat

Penelitian mengenai mahasiswa Farmasi menunjukkan bahwa AI dipandang bermanfaat, tetapi terdapat kekhawatiran mengenai akurasi, bias, dan keterbatasan teknologi. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kritis tetap dibutuhkan.

Apakah Apoteker Masih Dibutuhkan?

Jika AI dapat memberikan informasi obat dengan cepat, apakah apoteker nantinya masih dibutuhkan? Menurut saya, tetap sangat dibutuhkan.

Apoteker tidak hanya memberikan informasi mengenai nama dan dosis obat. Dalam pelayanan kefarmasian, apoteker perlu memahami kondisi pasien, mempertimbangkan keamanan terapi, memberikan edukasi, memantau penggunaan obat, serta berkomunikasi dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi apoteker memiliki tanggung jawab profesional dalam menilai apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi pasien. AI juga tidak dapat menggantikan seluruh aspek komunikasi, empati, dan pertimbangan manusia dalam pelayanan kesehatan.

AI dan Perkembangan Dunia Farmasi

AI juga mulai digunakan dalam penelitian dan pengembangan obat. Kemampuannya mengolah data dalam jumlah besar dapat membantu peneliti menemukan pola dan mendukung penelitian. WHO dan FDA sama-sama menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pengembangan produk obat terus berkembang.

Hal ini membuktikan bahwa AI bukan sekadar tren, tetapi mulai menjadi bagian dari dunia farmasi. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan keamanan, mutu, efektivitas, dan pengawasan manusia.

Perkembangan ini sebenarnya dapat menjadi peluang. Jika pekerjaan yang bersifat rutin dapat dibantu oleh teknologi, tenaga kefarmasian dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kemampuan manusia, seperti memberikan edukasi, berkomunikasi dengan pasien, dan melakukan pertimbangan profesional.

Baca juga : Bertanya Obat kepada AI: Kemudahan Baru atau Risiko Baru?

Tantangan bagi Mahasiswa Farmasi

Sebagai mahasiswa Farmasi, saya merasa perkembangan AI menjadi tantangan sekaligus kesempatan. Kita tidak cukup hanya menguasai ilmu farmasi, tetapi juga perlu memahami teknologi yang nantinya digunakan dalam dunia kerja.

Menurut saya, mahasiswa Farmasi tidak harus menjadi ahli komputer. Yang lebih penting adalah memiliki literasi AI, yaitu mengetahui cara menggunakan AI, memahami keterbatasannya, dan mampu memeriksa kembali informasi yang diberikan.

AI dapat membantu menjelaskan materi yang belum dipahami. Namun, jika setiap jawaban langsung disalin tanpa diperiksa, kita justru kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir. Karena itu, AI harus membantu proses belajar, bukan menggantikannya.

Jangan Melupakan Etika dan Privasi

Penggunaan AI dalam kesehatan juga memiliki persoalan etika dan privasi. Data pasien merupakan informasi yang harus dijaga kerahasiaannya. Kita tidak boleh sembarangan memasukkan identitas atau informasi kesehatan seseorang ke dalam platform AI tanpa mempertimbangkan keamanan datanya.

WHO menekankan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan perlu memperhatikan keamanan, privasi, kesetaraan, tata kelola, dan hak manusia. Menurut saya, prinsip ini sangat penting dalam bidang farmasi karena tenaga kefarmasian berhubungan langsung dengan informasi kesehatan pasien.

AI sebagai Partner, Bukan Pengganti

Pada akhirnya, saya tidak melihat AI sebagai musuh bagi dunia farmasi. AI dapat membantu tenaga kefarmasian bekerja lebih efektif. AI unggul dalam mengolah data dan melakukan pekerjaan tertentu dengan cepat, sedangkan manusia memiliki kemampuan untuk memahami konteks, berkomunikasi, menunjukkan empati, dan bertanggung jawab terhadap keputusan.

Baca juga : Adopsi AI dalam Pelayanan Kefarmasian: dari Manual Menuju Otomatis

Menurut saya, masa depan farmasi bukan tentang manusia melawan AI, tetapi tentang manusia yang mampu bekerja bersama AI. Apoteker yang memahami teknologi sekaligus tetap kuat dalam ilmu kefarmasian akan lebih siap menghadapi perubahan.

Sebagai mahasiswa Farmasi, saya percaya bahwa kita tidak perlu takut terhadap AI, tetapi juga tidak boleh terlalu bergantung kepadanya. Kita harus mampu menggunakan AI sebagai alat bantu, memeriksa informasi yang diberikan, dan tetap menjadikan ilmu serta etika sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

AI boleh memberikan informasi, membantu penelitian, dan mendukung pekerjaan tenaga kefarmasian. Namun, ketika menyangkut keselamatan pasien, tanggung jawab tetap membutuhkan manusia. Bagi saya, teknologi yang baik bukanlah teknologi yang menggantikan manusia, melainkan teknologi yang membantu manusia memberikan pelayanan yang lebih baik.

Daftar Rujukan

Chalasani, S. H., Syed, J., & Ramesh, M. (2023). Artificial intelligence in the field of pharmacy practice: A literature review. Exploratory Research in Clinical and Social Pharmacy, 12, 100346.

Zhang, X., Tsang, C. C. S., Ford, D. D., & Wang, J. (2024). Student pharmacists' perceptions of artificial intelligence and machine learning in pharmacy practice and pharmacy education. American Journal of Pharmaceutical Education, 88(12), 101309.

Hasan, H. E., et al. (2024). Knowledge, attitude and practice among pharmacy students and faculty members towards artificial intelligence in pharmacy practice. PLOS ONE, 19(3).

World Health Organization. (2024). Benefits and risks of using artificial intelligence for pharmaceutical development and delivery.

U.S. Food and Drug Administration. Artificial Intelligence for Drug Development.

Ellsy Octarina
Ellsy Octarina
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.