Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Profil Jay Herdman, Putra Pelatih Timnas yang Jadi Andalan Baru Bali United
- Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
- Fitrah Maulana Bangga Bawa Persib Juara Dewata Challenge Series
- STY Puji Perkembangan Persija Usai Laga Uji Coba Di Thailand
- Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
UNAS-UCSI Gelar Konferensi Internasional, Pertemukan Ahli Berbagai Disiplin Ilmu
Kamis, 20 Agustus 2026 16:32 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Universitas Nasional (UNAS) bekerja sama dengan UCSI University, Malaysia, menyelenggarakan The 1st International Multidisciplinary Conference bertema “The Future of Islamic Civilisation, Sustainability, and Nation Building in The New Multipolarism Era”. Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini berlangsung di Aula Universitas Nasional, Jakarta, pada 13–14 Agustus 2026.
Konferensi internasional ini merupakan salah satu bentuk penguatan kolaborasi akademik antara UNAS dan UCSI University melalui UCSI–UNAS Collaboration Center (UUCC). Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara dan disiplin ilmu untuk bertukar gagasan sekaligus membangun jejaring kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Pada hari pertama, Kamis (13/8/2026), rangkaian kegiatan diawali dengan laporan panitia serta sambutan dari sejumlah pimpinan dan tokoh akademik. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan pemaparan gagasan mengenai keberlanjutan, pendidikan tinggi, kepemimpinan, kolaborasi multidisipliner, serta pembangunan bangsa di tengah perubahan tatanan dunia.
Ketua Panitia Konferensi, Iskandarsyah Siregar, dalam laporannya menyampaikan bahwa konferensi diikuti oleh peserta dari berbagai negara. Sebanyak 42 presenter dijadwalkan mengikuti konferensi secara daring, sementara 14 presenter dari tujuh negara hadir secara luring. Negara-negara tersebut meliputi Indonesia, Malaysia, Australia, Iran, Brunei, China, dan Rusia.
Selain presenter, konferensi juga diikuti oleh 72 peserta non-presenter. Keberagaman peserta tersebut menunjukkan tingginya antusiasme terhadap forum akademik yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu dan perspektif internasional.
Iskandarsyah berharap, seluruh peserta dapat memperoleh manfaat dari konferensi, baik melalui pertukaran pengetahuan maupun terbukanya peluang kerja sama baru. Ia juga berharap, berbagai gagasan yang dibahas selama konferensi dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat kolaborasi akademik di tingkat internasional.
Memperkuat Kolaborasi Akademik UNAS-UCSI
Head of the Indonesia Collaboration Program, Prof. Nangkula Utaberta, menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi bagian penting dari kolaborasi UNAS dan UCSI University. Ia menjelaskan, kegiatan ini memiliki lima fokus utama, yakni pemikiran dan peradaban Islam, keberlanjutan, ketahanan nasional, diplomasi dan interaksi multipolar, serta pendidikan.
Menurut Prof. Nangkula, konferensi memiliki tiga tujuan utama, yaitu mendorong dialog interdisipliner, menghasilkan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti, serta memperkuat jejaring kolaborasi. Ia menilai, pendekatan multidisipliner diperlukan karena persoalan global tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang ilmu.
“Dalam konferensi ini, pembicara dan makalah berasal dari berbagai bidang. Ada ilmu politik, ilmu sosial, arsitektur, teknik, keberlanjutan, dan lingkungan. Karena itu, kami ingin mendorong dialog lintas disiplin untuk menghasilkan gagasan yang lebih komprehensif,” jelasnya.
Baca juga : Karhutla Ganggu Negara Tetangga
Kolaborasi antara UNAS dan UCSI University juga diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan konferensi. Kerja sama tersebut diarahkan untuk berkembang melalui riset bersama, publikasi internasional, mobilitas mahasiswa dan dosen, inovasi, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Direktur UUCC, Prof. Paisal Halim, menegaskan pentingnya menjadikan kolaborasi sebagai fondasi dalam membangun ekosistem akademik yang lebih kuat. Menurutnya, konferensi internasional bukan sekadar tempat untuk bertukar pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan, membangun jejaring, dan membuka peluang kerja sama baru.
Ia menekankan, kerja sama antarperguruan tinggi perlu diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti penelitian bersama, publikasi, mobilitas akademik, inovasi, dan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kolaborasi tidak boleh berhenti pada kesepakatan atau dokumen. Kolaborasi harus diwujudkan melalui tindakan, seperti penelitian bersama, publikasi internasional, mobilitas mahasiswa dan dosen, inovasi, serta kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Prof. Paisal juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan konferensi sebagai ruang untuk bertemu dengan akademisi dari berbagai disiplin dan negara, berbagi gagasan, serta membangun jejaring yang dapat berkembang menjadi kerja sama jangka panjang.
Ia menilai keberagaman latar belakang peserta merupakan kekuatan dalam membangun pengetahuan dan inovasi. “Perbedaan seharusnya tidak memisahkan kita dalam dunia akademik. Ketika perspektif bertemu dengan rasa saling menghormati, pengetahuan menjadi semakin kuat, dan ketika institusi bekerja sama dengan kepercayaan, peluang akan semakin luas,” ujar Prof. Paisal.
Alam Fondasi Masa Depan
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor UNAS Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Prof. Ernawati Sinaga, menyampaikan pemikiran mengenai pentingnya keberlanjutan dan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan masa depan.
Prof. Ernawati menegaskan, alam bukan sekadar salah satu sektor dalam kehidupan manusia, melainkan merupakan fondasi masa depan. Berbagai kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, energi terbarukan, kota pintar, dan pengobatan modern tetap membutuhkan dukungan ekosistem yang sehat.
“Kita membutuhkan udara bersih untuk bernapas, air yang aman untuk kehidupan, tanah yang subur untuk menghasilkan pangan, laut yang bersih dan produktif, serta keanekaragaman hayati agar sistem ekologi dapat berfungsi,” jelasnya.
Ia menjelaskan, alam merupakan infrastruktur kehidupan yang memungkinkan pembangunan berlangsung. Karena itu, pembangunan yang mengabaikan kondisi ekologis tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Baca juga : 450 WNI Ikut Upacara HUT ke-81 RI di KBRI Kuala Lumpur
Prof. Ernawati juga mengangkat konsep One Health, yang menempatkan kesehatan manusia sebagai bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung. Kesehatan manusia, menurutnya, dipengaruhi oleh kesehatan hewan, tumbuhan, lingkungan, serta kondisi ekosistem secara keseluruhan.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, menghormati pengetahuan tradisional masyarakat lokal, menerapkan responsible bioprospecting, serta mengembangkan ekonomi sirkular.
Menurutnya, konservasi tidak seharusnya dipandang sebagai penghambat pembangunan. Sebaliknya, konservasi merupakan investasi dan modal penting untuk pembangunan jangka panjang.
Ia juga menekankan peran perguruan tinggi sebagai agen transformasi. Universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus menghasilkan solusi, membangun kepemimpinan, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Universitas juga harus memberikan contoh bahwa sustainability seharusnya menjadi sesuatu yang dipraktikkan, bukan hanya sesuatu yang diajarkan di ruang kelas,” ujarnya.
Tantangan Kepemimpinan Pendidikan Tinggi
Sementara itu, Prof. Siti Hamisah, Vice-Chancellor UCSI University, sebagai keynote speaker, menyampaikan materi mengenai kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi. Prof. Siti Hamisah menyoroti semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi perguruan tinggi. Pemimpin pendidikan tinggi tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan dalam manajemen, tata kelola, keuangan, komunikasi, strategi, serta membangun hubungan dengan pemerintah, industri, dan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari meningkatnya persaingan, perubahan ekspektasi mahasiswa, perkembangan teknologi, hingga tuntutan dunia industri terhadap lulusan yang siap bekerja.
“Gelar dan kemampuan intelektual saja tidak cukup bagi mahasiswa. Mereka juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi, kolaborasi, dan kompetensi dalam menggunakan AI serta teknologi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan industri. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah memberikan porsi pengalaman industri yang lebih besar kepada mahasiswa sehingga mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Dalam kepemimpinan pendidikan tinggi, Prof. Siti Hamisah menekankan sejumlah aspek penting, antara lain tata kelola, kepemimpinan etis, keunggulan operasional, pertumbuhan, kesiapan menghadapi masa depan, dan penciptaan nilai.
Baca juga : Kado HUT ke-81 RI: Indonesia Ekspor Beras ke Malaysia, Stok Dalam Negeri Aman
Menurutnya, pemimpin perguruan tinggi harus mampu melihat perubahan yang akan terjadi dan mempersiapkan institusinya untuk menghadapi masa depan.
“Pemimpin harus mampu melihat melampaui apa yang ada di depan mata. Mereka harus mampu melihat tren yang belum dimulai dan mempersiapkan institusinya untuk menghadapi perubahan tersebut,” ujarnya.
Prof. Siti Hamisah juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dan pendekatan transdisipliner. Menurutnya, tradisi keilmuan pada masa kejayaan peradaban Islam menunjukkan bahwa berbagai bidang ilmu berkembang secara terpadu.
“Pada masa kejayaan peradaban Islam, ilmu pengetahuan tidak dipisahkan secara ketat. Para ilmuwan mengembangkan berbagai bidang ilmu secara terpadu. Karena itu, saat ini kita perlu kembali mengembangkan pendekatan transdisipliner,” jelasnya.
Konferensi internasional ini menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar dari berbagai negara sebagai keynote speakers, yakni Marek Kozlowski dari Australia, Prof. Mohamad Tajuddin Mohamad Rasdi dari Malaysia, Selamat Ginting dari Indonesia, Mehdi Soltanzadeh dari Iran, serta Associate Professor Sumarni Ismail dari Brunei Darussalam.
Selain keynote speakers, konferensi juga menghadirkan enam invited speakers yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Mereka adalah Associate Prof. Deprizon Syamsunur, Prof. Nangkula Utaberta, Associate Prof. Mahmud Iwan Solihin, Iskandarsyah Siregar, Associate Prof. Irma Indrayani, Prof. Paisal Halim.
Kehadiran para akademisi dan pakar tersebut memperkuat dimensi multidisipliner konferensi sekaligus memperluas ruang pertukaran gagasan dan pengetahuan antara akademisi Indonesia dan Malaysia dalam membahas masa depan peradaban Islam, keberlanjutan, serta pembangunan bangsa di tengah perubahan tatanan dunia menuju era multipolar.
Melalui The 1st International Multidisciplinary Conference, UNAS dan UCSI University menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kerja sama akademik lintas negara dan lintas disiplin. Konferensi ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan, memperluas jejaring akademik, serta mendorong lahirnya kolaborasi riset dan inovasi yang memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Dengan mengusung tema peradaban Islam, keberlanjutan, dan nation building dalam era multipolarisme baru, konferensi ini menjadi momentum bagi UNAS dan UCSI University untuk bersama-sama membangun perspektif akademik yang lebih kolaboratif dalam menghadapi perubahan global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya