Dark/Light Mode

Gen Z dan Tantangan Belajar di Era Digital

Selasa, 22 September 2026 16:09 WIB
Ilustrasi Gen Z dan tantangan belajar di era digital. (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi Gen Z dan tantangan belajar di era digital. (Gambar dibuat dengan AI)

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Seiring bertambahnya waktu dan pesatnya perkembangan teknologi, pola serta metode pembelajaran mengalami perubahan yang signifikan. Generasi Z, yaitu kelompok masyarakat yang lahir dalam rentang pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dan berkembang di tengah maraknya arus informasi dan kemajuan teknologi digital. Keberadaan teknologi seperti internet, komputer genggam, dan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini membawa dampak besar terhadap cara mereka berinteraksi, berkomunikasi, serta mengakses ilmu pengetahuan.

Sebagai generasi digital native, Generasi Z memiliki keunggulan alami dalam mengoperasikan berbagai sarana teknologi. Kemudahan akses terhadap platform pembelajaran daring, perpustakaan digital, serta video edukatif memberikan peluang besar bagi mereka untuk memperluas wawasan tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Proses belajar yang sebelumnya didominasi oleh metode konvensional berbasis buku cetak dan tatap muka kini bertransformasi menjadi lebih fleksibel dan interaktif. Namun, keberadaan teknologi yang memfasilitasi proses belajar tersebut juga diiringi oleh berbagai tantangan baru yang memengaruhi efektivitas dan kualitas pembelajaran bagi Generasi Z.

Baca juga : Dampak Merokok terhadap Kesehatan Masyarakat

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Generasi Z dalam proses belajar di era digital adalah fenomena beban informasi berlebih (information overload). Beragamnya informasi yang dapat diakses secara bebas di internet membuat para pelajar sulit memilah antara data yang valid, relevan, dan tepercaya dengan informasi yang salah atau menyesatkan (hoax). Selain itu, dominasi media sosial dan aplikasi hiburan yang dirancang untuk menarik perhatian secara terus-menerus sering kali menurunkan tingkat fokus dan rentang perhatian pelajar. Gangguan ini berpotensi mengurangi kedalaman pemahaman materi serta menurunkan efisiensi waktu belajar.

Selain hambatan dalam pemfokusan pikiran, kemudahan digitalisasi juga membawa tantangan pada aspek kesehatan fisik dan psikologis. Kebiasaan menatap layar dalam durasi waktu yang lama secara berkelanjutan berisiko menimbulkan keluhan fisik seperti kelelahan mata, sakit kepala, hingga gangguan postur tubuh. Di sisi lain, interaksi fisik secara langsung yang berkurang akibat ketergantungan pada komunikasi digital dapat memicu keterasingan sosial, kecemasan, dan peningkatan stres akademik. Keseimbangan antara penggunaan teknologi untuk tujuan edukatif dan menjaga kesehatan jiwa maupun fisik menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Baca juga : Peran Generasi Muda dalam Wujudkan Masyarakat dan Lingkungan Sehat

Tantangan lainnya berkaitan dengan keterampilan berpikir kritis dan tingkat kemandirian dalam proses pemecahan masalah. Kepraktisan mesin pencari dan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence) terkadang membuat sebagian pelajar cenderung mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Kebiasaan ini jika dibiarkan dapat mengurangi daya analisis, kreativitas, serta orisinalitas dalam berpikir. Oleh karena itu, kemampuan literasi digital tidak hanya sebatas mahir menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup pemahaman etika, verifikasi informasi, dan pemanfaatan sarana digital secara bijak dan bertanggung jawab.

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, institusi pendidikan, hingga pemerintah. Peran pengajar dan orang tua sangat krusial dalam memberikan dorongan, pendampingan, serta batasan yang sehat terkait pemanfaatan teknologi. Lembaga pendidikan perlu mengintegrasikan kurikulum literasi digital yang komprehensif, sehingga para pelajar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu mengolah data secara kritis dan konstruktif. Di samping itu, penyediaan fasilitas pendukung serta penciptaan lingkungan belajar yang inklusif akan membantu Generasi Z mengoptimalkan potensi mereka secara maksimal.

Baca juga : Pocari Sweat, Benarkah Mampu Menggantikan Cairan Tubuh?

Sebagai bagian dari elemen masyarakat dan civitas akademika, Generasi Z memiliki peran penting dalam menentukan arah pemanfaatan teknologi di masa depan. Menyadari tantangan belajar di era digital serta berupaya menerapkan pola belajar yang terstruktur, kritis, dan seimbang merupakan langkah nyata untuk mencapai prestasi yang optimal. Dengan mengintegrasikan kemajuan teknologi secara bijaksana tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar pembelajaran dan kesehatan, Generasi Z diharapkan mampu tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing tinggi, serta siap menghadapi dinamika perkembangan zaman.

Artikel ini ditulis oleh Adelia Az zahra Lubis, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisah Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

IKM10 UINSU Stambuk 2026g
IKM10 UINSU Stambuk 2026g
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.