Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Memiliki teman itu menyenangkan. Kita bisa berbagi masalah, saling mendukung saat merasa sedih, dan merasa tidak terlalu kesepian. Tetapi pernahkah kamu merasa lelah setelah terlalu sering mendengarkan masalah teman-teman kamu? Rasanya berat di dada, pikiran menjadi terlalu penuh, dan kamu bahkan memiliki lebih sedikit waktu untuk diri sendiri. Namun, kesehatan mental kita juga perlu dijaga.
Banyak siswa mengalami situasi serupa. Setelah seharian belajar dan menyelesaikan tugas, mereka masih harus mendengarkan keluhan teman-teman mereka hingga larut malam. Awalnya, hal itu terasa normal, tetapi seiring waktu, perasaan lelah yang sulit dijelaskan mulai muncul. Beberapa menjadi mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, atau bahkan merasa bersalah jika menolak untuk mendengarkan. Kondisi ini seringkali tidak disadari, meskipun sudah mulai memengaruhi kesejahteraan mereka.
Dalam ilmu kesehatan masyarakat, kesehatan mental merupakan komponen penting dari kesejahteraan seseorang. Ini bukan hanya tentang tidak adanya gangguan mental, tetapi juga kemampuan untuk mengelola emosi dan menjaga keseimbangan hidup. Orang yang stabil secara mental cenderung lebih mampu menjalin hubungan positif dan menghadapi tantangan hidup. Sebaliknya, jika banyak orang mengalami kelelahan emosional, suasana di kampus atau di masyarakat juga dapat terpengaruh.
Baca juga : Malam yang Salah, Hari yang Berantakan: Dampak Bergadang bagi Tubuh dan Pikiran
Kondisi ini sering disebut compassion fatigue, atau kelelahan akibat empati yang berlebihan. Menurut psikolog klinis Virginia Hanny, empati yang tidak diimbangi dengan batasan yang sehat dapat membuat seseorang kewalahan dan menyebabkan mereka menanggung beban emosional orang lain. Hal ini dapat menyebabkan perasaan lelah, cemas, atau bahkan stres berkepanjangan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa dukungan sosial merupakan faktor pelindung bagi kesehatan mental. Namun, dukungan ini perlu diseimbangkan. Jika kita terus-menerus bertindak sebagai "tempat sampah emosional" tanpa merawat diri sendiri, energi kita akan terkuras. Ibaratnya kita tidak bisa terus menuangkan air dari gelas yang kosong. Lalu, bagaimana cara tetap peduli tanpa mengorbankan diri sendiri?
Pertama, sadari batasan kamu. Kamu tidak perlu menyelesaikan setiap masalah yang teman kamu hadapi. Terkadang, sekadar mendengarkan dengan empati sudah sangat membantu. Jika terasa terlalu berat, katakan dengan sopan, "Saya dukung kamu, tetapi saya butuh waktu untuk diri sendiri hari ini."
Baca juga : Belajar di Era Digital: Peluang atau Tantangan?
Kedua, kelola waktu dan energi kamu.Sisihkan waktu khusus untuk aktivitas yang menenangkan pikiran dan tubuh, seperti olahraga ringan, jalan-jalan sore, mendengarkan musik, atau sekadar berbaring tanpa gangguan dari ponsel. Dengan meluangkan waktu secara rutin, kamu memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengisi ulang energi, sehingga tetap bisa peduli pada teman tanpa merasa terbebani.
Ketiga, jangan ragu untuk mengarahkan teman-teman kamu ke bantuan yang lebih tepat. Jika masalahnya serius, sarankan mereka untuk menghubungi konselor kampus, psikolog, atau layanan kesehatan mental seperti yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan. Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian.
Selain itu, penting juga untuk mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional. Misalnya, merasa mudah lelah meski tidak banyak beraktivitas, sulit tidur, atau mulai menghindari teman karena takut dimintai curhat lagi. Jika tanda-tanda ini muncul, itu sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang meminta istirahat. Mengabaikannya justru bisa membuat kondisi semakin berat.
Baca juga : Menjaga Pola Makan di Tengah Tren Kuliner
Peduli pada teman adalah hal yang baik dan patut diapresiasi. Namun, menjaga kesehatan mental sendiri bukanlah tindakan egois. Sebaliknya, itu merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri agar kita tetap mampu hadir dan menjadi teman yang baik dalam jangka panjang, tanpa harus merasa lelah atau terkuras secara emosional.
Jadi, mulai sekarang, belajarlah untuk peduli dengan bijak. Dengarkan temanmu, dukung mereka sebaik mungkin, tetapi jangan lupa untuk mengisi “gelas” kamu sendiri. Karena hanya dengan kondisi mental yang sehat, kita benar-benar dapat hadir secara utuh dan berkelanjutan bagi orang-orang yang kita sayangi.
Artikel ini ditulis oleh Nadra Sufina, Luthfiah Mawar, M.K.M., Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si., dan Dwi Keisya Kurnia. Lalu diedit oleh Latansa Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadilah Pasaribu dari IKM 8 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM8 UINSU Stambuk 2026L
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya