Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pangan adalah kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan hidup manusia. Melalui makanan, tubuh memperoleh energi dan berbagai zat gizi penting untuk beraktivitas, tumbuh, dan menjalankan fungsi organ. Meski demikian, tidak semua makanan yang beredar memiliki mutu, kandungan gizi, dan tingkat keamanan yang sama. Oleh karena itu, diperlukan sikap selektif dan cermat dalam menentukan makanan yang akan dikonsumsi.
Kesehatan tidak hanya ditentukan oleh rasa yang enak atau tampilan yang menarik. Aspek yang jauh lebih penting adalah keseimbangan zat gizi. Tubuh memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk pembentukan sel, lemak sebagai cadangan energi, serta vitamin, mineral, dan air untuk menjaga metabolisme. Jika dikonsumsi secara beragam, berimbang, dan dalam jumlah yang tepat sesuai pedoman Isi Piringku (50% sayur dan buah, 25% makanan pokok, 25% lauk pauk), kebutuhan gizi tersebut dapat terpenuhi secara optimal.
Di era serba instan, godaan makanan tidak sehat semakin besar. Makanan cepat saji, camilan kemasan, gorengan, dan minuman tinggi gula sangat mudah dijumpai di sekitar kampus dan lingkungan tempat tinggal. Makanan tersebut bukan berarti harus dihindari sepenuhnya, namun perlu dibatasi. Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan secara terus-menerus dapat memicu risiko obesitas, diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya.
Baca juga : Terlalu Lama Menggunakan Earphone, Kesehatan Pendengaran Mahasiswa Terancam
Selain aspek gizi, keamanan dan kebersihan pangan juga menjadi kunci. Makanan yang diolah dengan cara yang tidak higienis sangat rentan terkontaminasi bakteri, virus, atau bahan kimia berbahaya. Risiko kontaminasi bisa berasal dari tangan yang tidak dicuci, peralatan masak yang kotor, air yang tidak bersih, atau penyimpanan yang tidak sesuai suhu. Maka, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah mengolah makanan, menggunakan peralatan yang bersih, menyimpan makanan dalam wadah tertutup pada suhu aman <4°C, serta memisahkan bahan mentah dan matang adalah langkah sederhana namun efektif untuk mencegah keracunan pangan.
Bagi konsumen modern, keterampilan membaca label kemasan adalah keharusan. Sebelum membeli, biasakan untuk memeriksa tiga hal: pertama, tanggal kedaluwarsa (EXP/Best Before); kedua, Informasi Nilai Gizi (ING) untuk melihat kadar gula, garam, dan lemak; ketiga, kondisi fisik kemasan dan izin edar BPOM RI. Produk dengan kemasan rusak, bocor, kembung, atau tanpa label yang jelas sebaiknya tidak dipilih.
Lingkungan tempat makanan dijajakan juga tidak boleh diabaikan. Perhatikan kebersihan lapak, cara penyajian apakah tertutup atau terbuka, kebersihan penjual, dan apakah makanan terlindungi dari debu dan lalat. Makanan yang dibiarkan terbuka di pinggir jalan memiliki risiko kontaminasi yang lebih tinggi.
Baca juga : Sampah Menumpuk,DBD Mengancam:Pengelolaan Sampah Sebagai Upaya Pencegahan Primer
Menariknya, makan sehat tidak identik dengan mahal. Bahan pangan lokal seperti bayam, kangkung, wortel, pisang, telur, ikan segar, tempe, tahu, dan ubi merupakan sumber gizi yang terjangkau, mudah didapat, dan mudah diolah menjadi menu bergizi. Kuncinya ada pada variasi, kebersihan, cara pengolahan yang tidak berlebihan, dan pengendalian porsi.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kemampuan memilih makanan secara cerdas merupakan bentuk pencegahan primer (preventif) yang paling murah dan berkelanjutan. Edukasi gizi seimbang perlu terus dilakukan melalui keluarga, sekolah, kampus, posyandu, dan media sosial agar masyarakat mampu menjadi konsumen yang kritis.
Kesehatan masa depan sangat ditentukan oleh kebiasaan yang kita lakukan hari ini, termasuk apa yang kita makan. Dengan menjadi lebih cermat membaca label, memperhatikan kebersihan, memilih bahan segar, dan menerapkan Isi Piringku, kita sedang berinvestasi untuk tubuh yang lebih sehat dan produktif. Cermat memilih makanan hari ini, berarti cerdas menjaga kesehatan untuk masa depan.
Baca juga : JakAntro Dukung Digitalisasi Pelayanan Smart Posyandu di Jakarta
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Rafi, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi. Lalu diedit oleh, Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisah Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan — IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM10 UINSU Stambuk 2026c
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya