Dark/Light Mode

Kinerja Semester I-2026

Penjualan Semen Nasional Naik 10,5%, Oversupply Masih Jadi Ancaman

Rabu, 22 Juli 2026 23:00 WIB
Foto: Antara
Foto: Antara

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) mencatat penjualan semen domestik pada semester I 2026 mencapai sekitar 30,71 juta ton atau meningkat 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 27,78 juta ton.

Ketua ASPERSSI Lilik Unggul Raharjo mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya perbaikan permintaan, meski perlu dicermati karena sebagian dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan (low-base effect) pada semester I 2025.

"Jika dibandingkan dengan semester I 2024, pertumbuhan penjualan hanya sekitar 7,8 persen, sedangkan dibandingkan semester I 2022 sekitar 4,2 persen. Artinya, pertumbuhan saat ini positif, tetapi belum sepenuhnya menunjukkan pemulihan permintaan yang kuat secara struktural," kata Lilik dalam keterangan di Jakarta.

Ia menjelaskan peningkatan penjualan terjadi pada segmen semen kantong maupun semen curah. Penjualan semen kantong tumbuh sekitar 10,3 persen, sedangkan semen curah meningkat sekitar 11,1 persen.

Menurut ASPERSSI, kenaikan permintaan pada paruh pertama 2026 didorong percepatan belanja pemerintah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan di daerah, serta mulai pulihnya aktivitas konstruksi.

Baca juga : Kemenhut Gandeng OceanX Teliti 7 Taman Nasional Laut Sesuai Arahan Presiden

Meski demikian, sektor properti dan daya beli masyarakat masih menjadi faktor yang perlu terus dipantau karena belum sepenuhnya pulih.

Di tengah kenaikan penjualan tersebut, ASPERSSI menilai kelebihan kapasitas produksi (oversupply) masih menjadi persoalan struktural yang membayangi industri semen nasional.

Saat ini kapasitas produksi industri diperkirakan mencapai sekitar 120 juta ton per tahun, sedangkan tingkat utilisasi pabrik pada 2025 hanya sekitar 54 persen.

ASPERSSI memperkirakan utilisasi industri pada 2026 hanya meningkat menjadi sekitar 56 persen, sehingga masih jauh di bawah tingkat utilisasi yang dinilai sehat secara ekonomi, yakni sekitar 80-85 persen.

"Pertumbuhan penjualan pada semester I belum cukup untuk mengubah fundamental industri. Utilisasi masih jauh di bawah tingkat yang lebih sehat secara ekonomi," ujar Lilik.

Baca juga : Menkeu: APBN Semester I-2026 Sehat, Pendapatan Melesat 21,4 Persen

Memasuki semester II 2026, ASPERSSI memperkirakan permintaan semen masih berpeluang tumbuh meski lajunya diprediksi tidak setinggi semester pertama.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan ditopang realisasi proyek pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan kawasan industri, sektor pertambangan, perumahan, serta aktivitas pembangunan dan renovasi masyarakat.

Sementara itu, permintaan semen curah diperkirakan bergantung pada pelaksanaan proyek infrastruktur dan konstruksi berskala besar, sedangkan semen kantong akan dipengaruhi pembangunan rumah dan aktivitas renovasi masyarakat.

Selain kelebihan kapasitas, industri semen juga menghadapi tantangan berupa persaingan harga yang ketat, kenaikan biaya energi dan logistik, serta pemulihan sektor properti dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat.

Untuk mendukung pertumbuhan industri yang lebih sehat, ASPERSSI berharap pemerintah menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar, termasuk mempertahankan kebijakan pengendalian penambahan kapasitas pabrik semen baru di wilayah yang telah mengalami kelebihan pasokan.

Baca juga : Purbaya Beberkan Kinerja APBN Semester I-2026, Pendapatan Negara Menguat

Asosiasi juga mendorong percepatan realisasi belanja infrastruktur, perluasan penerapan pengadaan barang dan jasa ramah lingkungan (green public procurement), penggunaan semen rendah karbon pada proyek pemerintah, serta kebijakan energi dan logistik yang lebih terkoordinasi.

"Industri semen siap mendukung pembangunan nasional dan agenda dekarbonisasi. Namun, dibutuhkan ekosistem kebijakan yang konsisten agar industri dapat tumbuh secara sehat, efisien, dan berkelanjutan," kata Lilik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.