Dark/Light Mode

Tugure Soroti Perang Harga Di Industri Reasuransi

Selasa, 1 September 2026 08:14 WIB
Foto: Tugure
Foto: Tugure

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyoroti pentingnya disiplin dalam penetapan harga atau pricing di tengah kondisi pasar reasuransi yang masih mengalami soft market.

Direktur Operasional Tugure Erwin Basri mengatakan, kondisi pasar retrosesi hingga saat ini secara umum masih relatif stabil. Namun, pelaku industri tetap perlu mencermati berbagai dinamika, termasuk risiko bencana besar atau catastrophe (CAT), seperti gempa bumi, serta tekanan terhadap harga akibat kondisi pasar yang melunak.

“Melalui kegiatan ini, Bapak dan Ibu dapat berinteraksi langsung dengan kami untuk berdiskusi mengenai berbagai isu yang saat ini dihadapi industri. Di tengah risiko gempa dan kondisi softening market, tentunya kita perlu bersama-sama mencermati perkembangan yang terjadi agar dapat menjaga kondisi bisnis tetap sehat,” ujar Erwin dalam Tugure Sharing Session: Reinsurance Pricing Assessment di Melbourne, Australia, Jumat (21/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Tugure Academy yang menjadi forum berbagi wawasan bersama mitra usaha mengenai dinamika industri reasuransi, perkembangan penetapan harga reasuransi, serta berbagai tantangan dalam kondisi soft market.

Dalam kondisi tersebut, tingginya kapasitas pasar dapat mendorong penurunan harga sekaligus pelonggaran persyaratan dan ketentuan atau terms and conditions.

Technical Analytic & Development Group Head Tugure Andriansyah mengatakan disiplin pricing menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan industri, terutama ketika kompetisi pasar semakin ketat.

Baca juga : Kinerja Moncer, Tugure Sabet Penghargaan Reasuransi Terbaik 2026

Menurut dia, kondisi pasar saat ini dapat mendorong perusahaan menetapkan harga di bawah tingkat harga teknis atau technical pricing. Situasi tersebut, kata dia, berpotensi meningkatkan risiko bagi industri ketika siklus pasar berubah.

“Hal ini menjadi pengingat bahwa pricing merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan seluruh pelaku industri. Ketika pasar menetapkan harga di bawah technical pricing, pada dasarnya industri sedang menabung risiko yang lebih tinggi untuk masa depan,” ujar Andriansyah dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Ia mengatakan, kondisi soft market saat ini turut dipengaruhi oleh kinerja industri asuransi dan reasuransi global yang relatif baik, termasuk di Eropa. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kompetisi dan memberikan tekanan terhadap harga maupun terms and conditions.

Karena itu, pelaku industri perlu mencermati potensi terbentuknya portofolio dengan tingkat risiko yang lebih tinggi akibat penurunan harga dan pelonggaran persyaratan ketika pasar masih berada dalam fase soft market.

Dalam sesi tersebut, Tugure juga mengangkat studi kasus HIH Insurance, perusahaan asuransi asal Australia yang mengalami keruntuhan pada 2001 dan menjadi salah satu kegagalan korporasi terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Kasus itu menjadi pembelajaran mengenai risiko pertumbuhan bisnis yang agresif di tengah soft market apabila tidak diimbangi dengan disiplin pricing, kecukupan cadangan, dan tata kelola yang kuat.

Baca juga : Klaim Kesehatan Melonjak, Tugure Andalkan AI Dan Machine Learning

Sejumlah pola kegagalan yang berulang dalam industri juga menjadi perhatian, antara lain pertumbuhan agresif selama soft market, kekurangan pencadangan atau under-reserving, lemahnya tata kelola, serta konsentrasi risiko ketika terjadi perubahan siklus pasar.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Tugure menerapkan technical pricing integrity sebagai acuan utama dalam penetapan harga. Setiap penyimpangan dari acuan harga teknis harus melalui persetujuan Underwriting Committee dengan justifikasi teknis yang terdokumentasi.

Selain itu, penerapan PSAK 117 atau IFRS 17 turut mendorong peningkatan disiplin dalam pencadangan dan pengelolaan kecukupan cadangan teknis.

“Yang akan mampu bertahan dalam kondisi soft market adalah perusahaan yang tetap disiplin dalam pricing, memiliki governance yang kuat dalam pricing dan cadangan teknis, serta terus mempersiapkan diri menghadapi siklus berikutnya,” kata Andriansyah.

Tugure juga terus mengembangkan fungsi penetapan harga melalui Underwriting Committee, peningkatan kualitas data dan pemodelan portofolio, serta pengembangan sumber daya manusia dan keterlibatan aktuaris dalam proses underwriting.

Dalam sesi diskusi, peserta turut membahas perkiraan titik terendah siklus atau bottom of the cycle dari kondisi soft market. Menurut Andriansyah, berdasarkan pengalaman historis, perubahan arah pasar umumnya dipengaruhi oleh terjadinya sejumlah peristiwa bencana besar berskala luas.

Baca juga : Tugure Sabet Penghargaan Tata Kelola Perusahaan Terbaik 2026

Diskusi juga menyoroti risiko bencana di Indonesia. Meski pada 2025 terjadi sejumlah peristiwa CAT yang cukup besar, dampaknya terhadap harga di pasar reasuransi domestik dinilai belum sepenuhnya terasa karena pasar reasuransi global masih berada dalam fase soft market dengan kapasitas yang melimpah.

Kondisi tersebut dinilai dapat menahan combined operating ratio (COR) pada tingkat yang belum sepenuhnya mencerminkan eksposur risiko yang ditanggung, sehingga berpotensi menambah kerentanan pasar ketika siklus kembali berbalik arah.

Melalui forum tersebut, Tugure berharap dapat membangun pemahaman bersama dengan mitra usaha mengenai dinamika pasar reasuransi, pentingnya disiplin pricing, serta pengelolaan risiko dan cadangan teknis dalam menghadapi perubahan siklus industri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.