Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- UGM Pastikan Penanganan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online Adil & Transparan
- Hati-Hati Penipuan Jalur Masuk UI, Warga Semarang Rugi Rp 380 Juta
- Tiga Singa Terkam Narodak, Harry Kane Ikut Cetak Gol
- Marko Dugandzic Jadi Rekrutan Terakhir Bali United
- Jeda Liga Dimanfaatkan Persebaya Buat Genjot Fisik Pemain
Syahrini, Pestapora 2026, dan Nilai yang Tak Bisa Diukur Akuntansi
Senin, 28 September 2026 18:58 WIB
Ada kalanya sebuah panggung bukan sekadar tempat seseorang kembali tampil, melainkan ruang yang mempertemukan kembali waktu, ingatan, dan nilai yang telah dibangun. Pestapora 2026 menghadirkan momen semacam itu ketika Syahrini kembali menyapa publik setelah cukup lama memilih berada di luar sorotan panggung hiburan.
Kehadirannya bukan sekadar tentang seorang penyanyi yang kembali tampil. Ia juga menghadirkan pertanyaan menarik: mengapa seseorang yang lama tidak terlihat masih mampu memiliki daya tarik ketika kembali hadir?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada satu konsep yang sangat akrab dalam akuntansi, tetapi sesungguhnya jauh lebih kompleks ketika diterapkan dalam kehidupan: nilai. Kita terbiasa melihat nilai melalui angka: pendapatan, laba, aset, arus kas, hingga pertumbuhan bisnis. Angka-angka tersebut penting karena membantu kita memahami kondisi dan kinerja suatu entitas.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang layak direnungkan: apakah semua nilai yang penting selalu dapat diukur dan dicatat dalam laporan keuangan? Jawabannya, tidak selalu.
Ketika Jeda Dianggap sebagai Kehilangan
Ketika seseorang cukup lama tidak tampil di panggung, secara sederhana kita mungkin menghitung berbagai peluang ekonomi yang tidak diperoleh: pendapatan pertunjukan, kontrak komersial, kerja sama bisnis, maupun eksposur publik. Jika dilihat semata-mata dari perspektif jangka pendek, sebuah keputusan untuk berhenti memang mudah dipersepsikan sebagai kehilangan kesempatan. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dengan logika laporan laba rugi.
Baca juga : Tingkatkan Literasi Finansial, Kemenkeu Gelar LIKE IT di Unpam
Ada keputusan yang secara finansial tampak seperti pengorbanan hari ini, tetapi sesungguhnya merupakan investasi untuk masa depan. Waktu yang digunakan untuk keluarga, pendidikan, kesehatan, pengembangan diri, atau membangun kehidupan yang lebih seimbang mungkin tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. Tetapi bukan berarti waktu tersebut kehilangan nilai. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi modal yang menentukan kualitas kehidupan pada masa mendatang.
Di sinilah konsep value creation menjadi relevan. Dalam dunia bisnis, penciptaan nilai tidak hanya terjadi melalui transaksi yang menghasilkan pendapatan hari ini. Perusahaan juga melakukan investasi yang manfaatnya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang. Investasi pada sumber daya manusia, inovasi, teknologi, tata kelola, reputasi, dan keberlanjutan, misalnya, tidak selalu langsung tercermin dalam laba periode berjalan. Namun, tidak tercermin secara langsung bukan berarti tidak bernilai.
Nilai yang Tidak Masuk Neraca
Kembalinya Syahrini ke panggung memberikan ilustrasi menarik mengenai persoalan tersebut. Ia tidak kembali sebagai seseorang yang harus membangun identitas dari awal. Ada nama, pengalaman, karakter, dan persepsi publik yang telah terbentuk melalui perjalanan panjang. Dalam bahasa bisnis, semua itu memiliki nilai. Reputasi, misalnya, dibangun melalui proses yang tidak singkat. Ia tumbuh dari pengalaman, konsistensi, kepercayaan, serta hubungan yang terjalin dengan publik.
Namun, reputasi tidak serta-merta dapat dicantumkan sebagai aset dalam laporan posisi keuangan hanya karena seseorang atau perusahaan merasa memiliki reputasi yang tinggi. Di sinilah salah satu keterbatasan sekaligus tantangan menarik dalam akuntansi.
Sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan keuangan bukan berarti tidak memiliki nilai. Kepercayaan, loyalitas konsumen, brand equity, pengalaman pelanggan, budaya organisasi, kompetensi sumber daya manusia, dan reputasi merupakan sumber daya yang dapat berkontribusi terhadap penciptaan nilai. Persoalannya, pengukuran terhadap nilai-nilai tersebut tidak selalu sederhana. Angka memberikan informasi yang penting. Namun, angka bukanlah keseluruhan cerita.
Baca juga : Berani Bicara, Berani Berkembang: Alasan Public Speaking Penting di Dunia Kerja
Belajar dari Sebuah Jeda
Pelajaran tersebut sesungguhnya tidak hanya relevan bagi seorang artis. Banyak orang dalam dunia profesional mengalami situasi serupa. Ada yang mengambil jeda untuk menyelesaikan pendidikan. Ada yang memilih mendampingi keluarga. Ada yang berhenti sementara untuk membangun bisnis. Ada pula yang sengaja memperlambat langkah untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup. Dalam budaya kerja yang sangat menekankan produktivitas, jeda sering kali dipandang sebagai kemunduran. Padahal, tidak semua jeda adalah kehilangan. Ada jeda yang justru merupakan investasi.
Persoalannya, investasi semacam ini sering kali tidak terlihat dalam angka. Tidak ada kolom khusus dalam laporan keuangan yang dapat mencatat nilai dari waktu yang digunakan seorang ibu atau ayah untuk mendampingi anaknya. Tidak ada pula neraca yang secara sederhana mampu menghitung nilai pengalaman, ketenangan, relasi, kepercayaan, atau kualitas hidup.
Namun, ketika seseorang kembali bekerja dengan perspektif yang lebih matang, kemampuan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih seimbang, kita dapat melihat bahwa jeda tersebut tidak selalu sia-sia. Kadang-kadang, seseorang memang perlu berhenti sejenak bukan untuk meninggalkan perjalanan, tetapi untuk mempersiapkan langkah berikutnya.
Bisnis Juga Membutuhkan Kesabaran
Logika yang sama berlaku dalam dunia korporasi. Perusahaan yang hanya mengejar laba jangka pendek berpotensi mengabaikan investasi yang sesungguhnya penting bagi keberlanjutan bisnis. Pengembangan sumber daya manusia mungkin meningkatkan biaya hari ini. Riset dan inovasi membutuhkan dana sebelum menghasilkan produk baru. Investasi keberlanjutan dapat membutuhkan biaya sebelum manfaat ekonominya terlihat. Penguatan tata kelola pun tidak selalu langsung menghasilkan tambahan pendapatan.
Baca juga : Abu Vulkanik Menyelimuti Negeri, Saatnya Kita Menundukkan Hati
Namun, semuanya dapat menjadi bagian dari proses penciptaan nilai jangka panjang. Karena itu, melihat kinerja perusahaan hanya dari satu angka atau satu periode tidak selalu memberikan gambaran yang utuh. Akuntansi memang membutuhkan pengukuran. Tanpa pengukuran, pengambilan keputusan ekonomi akan kehilangan pijakan. Tetapi akuntansi juga terus berkembang seiring perubahan dunia bisnis. Ketika sumber penciptaan nilai semakin kompleks, informasi keuangan perlu dibaca bersama informasi nonkeuangan yang relevan. Dalam konteks inilah isu keberlanjutan, modal intelektual, reputasi, tata kelola, dan berbagai bentuk intangible value menjadi semakin penting untuk memahami bagaimana organisasi menciptakan dan mempertahankan nilai.
Jangan Terlalu Cepat Menghitung yang Hilang
Kisah kembalinya Syahrini di Pestapora 2026 dapat dibaca sebagai sebuah refleksi sederhana tentang cara kita memandang nilai. Kita sering terlalu cepat menghitung apa yang hilang ketika seseorang berhenti. Berapa pendapatan yang tidak diperoleh? Berapa kesempatan yang dilewatkan? Berapa banyak waktu yang terbuang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sah. Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang sedang dibangun selama jeda itu?
Sebab, nilai tidak selalu lahir dalam bentuk pendapatan. Nilai juga dapat tumbuh melalui pengalaman, relasi, kepercayaan, keluarga, kompetensi, reputasi, dan kualitas hidup. Semua itu mungkin tidak langsung terlihat dalam laporan keuangan. Namun, ketika waktunya tiba, nilai tersebut dapat memberikan kontribusi nyata. Pada akhirnya, akuntansi mengajarkan kita untuk disiplin dalam mengukur. Kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua yang bernilai dapat dengan mudah diukur. Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menyebut sebuah jeda sebagai kehilangan.
Bisa jadi, apa yang terlihat seperti berhenti sebenarnya adalah investasi. Dan ketika seseorang kembali, seperti Syahrini di Pestapora 2026, publik mungkin baru menyadari bahwa selama ini bukan nilainya yang hilang. Nilainya sedang dibangun di tempat yang tidak terlihat oleh angka.
Holiawati
Dosen Magister Akuntansi Universitas Pamulang
Dosen Magister Akuntansi Universitas Pamulang
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya