Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sidang Gus Yaqut, Saksi Ceritakan Evaluasi Pelayanan Haji 2024
- KPK Lantik 7 Pejabat, Achmad Taufik Husein Jadi Direktur Penyidikan
- Ditelepon Teddy, Dirut KAI Merapat ke Istana
- Gunung Semeru 6 Kali Batuk-Batuk, Hindari Radius 13 Km Dari Pusat Erupsi
- Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Dimulai, Pendaftaran 5-10 November 2026
Menengok IT Wayame, Nadi Energi Maluku-Papua
Jaga BBM Aman, Stok SPBU Dipantau Real-Time
Rabu, 30 September 2026 06:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Panas terik terasa menyengat ketika rombongan jurnalis tiba di Integrated Terminal (IT) Wayame PT Pertamina Patra Niaga, Ambon, Maluku. Di fasilitas ini, rombongan diajak melihat dari dekat proses penerimaan, penyimpanan dan penyaluran BBM ke berbagai wilayah di Maluku dan Papua. Fasilitas dengan standar keselamatan kerja kelas dunia ini juga memiliki sistem untuk memantau stok BBM di SPBU secara real-time. Dengan sistem tersebut, kondisi persediaan dapat dipantau setiap saat sehingga pengiriman BBM bisa segera dilakukan saat stok mulai menipis.
PT Pertamina (Persero) mengajak tiga media nasional di Jakarta untuk mengunjungi IT Wayame, Ambon, Selasa (29/9/2026). Rakyat Merdeka turut dalam rombongan tersebut.
Kompleks IT Wayame berada di Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Ambon, Maluku. Kawasannya membentang di sepanjang pesisir Teluk Ambon. Lokasinya sekitar 11 kilometer dari Bandara Pattimura dan tak jauh dari Jembatan Merah Putih yang menjadi salah satu ikon Kota Ambon. Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIT. Hari sebenarnya masih pagi. Namun, terik matahari sudah terasa menyengat kulit.
IT Wayame adalah salah satu objek vital nasional. Tidak sembarang orang bisa masuk ke area ini. Apalagi memasuki kawasan zona terlarang. Zona yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Saat akan masuk area operasional, setiap pengunjung wajib mengenakan alat pelindung diri (APD). Pengunjung harus mengenakan pakaian khusus atau wearpack, helm, sepatu keselamatan, dan tanda pengenal. Rombongan tidak diperkenankan membawa barang-barang. Tas, handphone, kamera, dompet, korek api dan barang lainnya harus disimpan di tempat yang telah disediakan.
Pemeriksaan keamanan juga sangat ketat. Satu per satu pengunjung diperiksa menggunakan tongkat pendeteksi logam. Handphone dan alat elektronik tidak diperkenankan dibawa masuk. Alasannya demi keselamatan kerja. Area IT Wayame penuh dengan uap BBM yang sangat mudah terbakar. Sinyal frekuensi radio atau elektromagnetik dari barang elektronik berpotensi memicu bunga api.
Dari seluruh rombongan, hanya dua kamera yang diperbolehkan dibawa masuk. Satu kamera milik petugas dan satu lagi milik jurnalis foto yang telah diperiksa oleh tim HSSE (Health Safety Security & Environment). Keduanya berjenis mirrorless. Penggunaannya pun tetap diawasi dan tidak diperbolehkan menggunakan lampu kilat atau flash.
Setelah clear, rombongan dipersilakan masuk area operasional. Integrated Terminal Manager Wayame Gege Kahutama Gigan dan Supervisor Fuel & LPG Distribution Fahriza Ahmad turut mendampingi rombongan. Dua petugas sekuriti mengikuti dari belakang. Matanya tajam mengawasi gerak-gerik rombongan.
Gerbang masuk Integrated Terminal (IT) Wayame PT Pertamina Patra Niaga di Ambon, Maluku, yang menjadi pusat penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran BBM. FOTO: BAMBANG TRISMAWAN/RM
Sebelum masuk area operasional, Fahriza memberikan briefing singkat mengenai prosedur keselamatan. Kata dia, hari itu tidak ada simulasi keadaan darurat. "Jadi, jika sewaktu-waktu terdengar bunyi sirene, seluruh rombongan harus segera bergerak menuju titik kumpul," kata Fahriza. Titik kumpul yang dimaksud berada di dekat gerbang masuk.
Baca juga : Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh MotoGP 2026
Rombongan kemudian berjalan berbaris menyusuri jalur hijau khusus pengunjung. Aktivitas pagi itu terpantau cukup sibuk. Sejumlah mobil tangki keluar masuk untuk mengisi BBM. Lalu membawanya ke berbagai lembaga penyalur.
Area pertama yang kami tuju adalah filling shed. Tempat mobil tangki mengisi BBM. Sekilas, aktivitas di area ini mirip dengan mobil saat mengisi BBM di SPBU. Bedanya, skala dan kapasitasnya jauh lebih besar. Filling shed Wayame dilengkapi empat jalur pengisian atau loading bay. Ada jalur khusus avtur dan LPG. Ada juga jalur untuk melayani berbagai jenis BBM. Seperti Pertalite, Pertamax, dan Biosolar.
Setiap jalur terhubung dengan sistem pengisian otomatis. Sistem tersebut membuat proses pengisian berlangsung cepat. Untuk mobil tangki berkapasitas 5.000 liter misalnya, pengisian hanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 menit. Untuk tangki ukuran 1600 liter waktu yang dibutuhkan sekitar 20-25 menit.
Setelah terisi, mobil-mobil tangki kemudian bergerak membawa BBM menuju SPBU atau badan usaha lain. Di wilayah Ambon, terdapat 8 SPBU yang mendapat pasokan dari IT Wayame.
Distribusi juga menjangkau wilayah yang lebih jauh, termasuk Pulau Seram. Pengiriman ke Pulau Seram harus menggunakan kapal dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari. "Jadi total perjalanan 5 hari. Lama perjalanan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan gelombang laut," kata Fahriza.
Petugas mengisi BBM ke mobil tangki di Integrated Terminal (IT) Wayame, Ambon, Maluku, Selasa (29/9/2026) Dok. BAMBANG TRISMAWAN/RM
Setelah itu, rombongan bergerak menuju area lainnya. Dari area ini, terlihat deretan tangki timbun. Total ada 16 unit tangki timbun BBM dan 2 unit tangki LPG yang bentuknya seperti bola raksasa. Tangki timbun digunakan untuk menyimpan berbagai jenis BBM. Seperti Pertalite, Pertamax. Namun, rombongan tidak diperkenankan mendekat area tangki timbun. Hanya bisa mengamati dari jauh.
IT Wayame juga memiliki fasilitas dermaga (jetty) kapal tanker. Lokasinya persis berada di seberang jalan. Pasokan utama IT Wayame berasal dari kilang V Balikpapan. Jika terdapat kendala, Pertamina memiliki cadangan dengan mengambil pasokan dari kilang Cilacap. Sementara untuk produk gasoline seperti Pertalite dan Pertamax, pasokan masih didominasi impor dari Singapura dan Malaysia.
Selain menyalurkan BBM untuk SPBU, IT Wayame juga memasok BBM untuk 20 Depot BBM. Terminal-terminal tersebut tersebar di sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia. Mulai dari Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, hingga Papua Selatan.
Sejumlah tangki timbun terlihat di area Integrated Terminal (IT) Wayame, Ambon, Maluku, yang digunakan untuk menyimpan stok BBM sebelum didistribusikan. DOK: BAMBANG TRISMAWAN/RM
Integrated Terminal Manager Wayame Gege Kahutama Gigan mengatakan, posisi IT Wayame sangat strategis. Karena menjadi terminal penyangga BBM untuk wilayah Maluku dan Papua. Kata dia, menjaga distribusi BBM di kawasan kepulauan bukan perkara mudah.
Baca juga : PDC Perluas Penerapan CMS ISO 37301, Kepatuhan Jadi Bagian dari Proses Bisnis
"Kondisi geografis menjadi tantangan utama karena distribusi antarpulau sangat bergantung pada keandalan moda transportasi, kondisi cuaca, dan jarak tempuh yang jauh," kata Gege.
Untuk memastikan distribusi tetap aman dan lancar, Pertamina melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik di internal maupun eksternal.
Di saat yang sama, Pertamina mengembangkan sistem berbasis digital untuk memantau ketersediaan BBM hingga tingkat lembaga penyalur. Sistem tersebut memungkinkan stok di SPBU, SPBU Nelayan, maupun Agen Premium Minyak Solar (APMS) dipantau secara real-time.
Dengan sistem tersebut, Pertamina dapat mengetahui kondisi stok di lapangan dan segera mengirimkan BBM apabila terdapat kebutuhan mendesak atau stok di lembaga penyalur mulai terbatas.
"Harapannya, kami bisa memantau stok di lembaga penyalur, baik itu di SPBU, SPBU Nelayan, maupun APMS secara real-time," katanya.
Untuk ketahanan stok, Gege mengatakan ketersediaan seluruh produk dalam kondisi optimal berada di kisaran 17-20 hari. Namun, angka tersebut terus diperbarui karena pasokan tetap berjalan.
Terkait fenomena antrean di sejumlah SPBU, Gege mengatakan salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kuota Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), termasuk Biosolar dan Pertalite. Menurutnya, Pertamina tidak dapat bekerja sendiri dalam persoalan kuota BBM. Koordinasi diperlukan dengan BPH Migas, pemerintah daerah, maupun pemerintah kota.
"Kewenangan terkait dengan kuota BBM itu berada di tangan BPH Migas dengan usulan dari Pemda ataupun Pemkot setempat," jelasnya.
Jika berdasarkan proyeksi kuota di suatu kota atau SPBU mulai mendekati batas, Pertamina akan melakukan koordinasi secara intensif dengan para pemangku kepentingan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketahanan stok dan kontinuitas distribusi BBM kepada masyarakat.
Integrated Terminal Manager Wayame PT Pertamina Patra Niaga Gege Kahutama Gigan memberikan keterangan kepada jurnalis di IT Wayame, Ambon, Maluku, Selasa (29/9/2026). FOTO: BAMBANG TRISMAWAN/RM.
Konsumsi Bergeser
Baca juga : Pertamina Optimalkan Fasilitas Penyangga Tayan Untuk Jaga Pasokan BBM di Sintang
Gege juga menyebut perubahan harga minyak dunia turut memengaruhi pola konsumsi BBM. Sementara harga BBM subsidi tetap, terjadi sedikit pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.
Karena itu, Pertamina terus mendorong penggunaan BBM nonsubsidi bagi masyarakat yang mampu. Langkah tersebut dilakukan agar BBM subsidi dapat lebih tepat sasaran dan dinikmati masyarakat yang membutuhkan.
"Kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang sebetulnya mampu, agar mulai beralih menggunakan BBM atau energi nonsubsidi," katanya.
Pertamina juga mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan produk nonsubsidi, seperti Pertamax, Dexlite, dan Pertamina Dex. Untuk memperkuat penggunaan subsidi secara tepat sasaran, Pertamina berkoordinasi dengan aparat, pemerintah daerah, dan pemerintah kota. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan, terutama agar masyarakat yang mampu menggunakan BBM nonsubsidi.
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan, pemantauan konsumsi dan distribusi BBM secara real time di SPBU penting untuk menjaga ketersediaan pasokan. Apalagi ada disparitas harga yang cukup tinggi antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Hal ini berpotensi memicu pergeseran konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite.
“Apabila pergeseran konsumsi tersebut terjadi dalam skala besar, permintaan terhadap BBM bersubsidi berpotensi meningkat dan menambah tekanan terhadap distribusi di sejumlah wilayah,” kata Satya, kepada Rakyat Merdeka.
Menurutnya, pemantauan secara real time diperlukan agar pemerintah dan badan usaha penyalur dapat mendeteksi perubahan permintaan lebih cepat. Dengan begitu, penyesuaian pasokan dan distribusi bisa dilakukan sesuai kebutuhan di setiap wilayah. Sekaligus menjaga penyaluran subsidi tetap tepat sasaran.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan distribusi energi yang beragam. Mulai dari kondisi geografis hingga keterbatasan infrastruktur. Ketahanan energi nasional tidak cukup dinilai berdasarkan ketersediaan sumber daya atau besarnya cadangan energi. "Kemampuan menyalurkan BBM secara merata hingga ke daerah juga menjadi indikator penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi,” jelasnya.
Satya menambahkan, evaluasi distribusi dan keterbukaan informasi mengenai kondisi pasokan BBM juga perlu diperkuat. Data yang akurat dan terkini dapat membantu pemerintah mengambil langkah penanganan secara cepat, memberikan kepastian kepada masyarakat, serta mencegah kepanikan akibat informasi yang tidak tepat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya