Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- BRI Masuk 3 Besar BUMN Layanan Terbaik di Indonesia Hasil Berorientasi Nasabah
- Kabut Asap di Danau Toba, ASDP Perkuat Kewaspadaan & Optimalkan Navigasi Kapal
- Hajar Man City, PSG Bikin Inggris Merana
- Vinicius Junior Protes Hukuman 4 Laga
- Imin Galang Bantuan Masker dan Air Bersih untuk Warga Terdampak Karhutla
Layani 252 Penyeberangan Perintis, ASDP Jaga Roda Ekonomi Masyarakat 3TP
Senin, 28 September 2026 20:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus memperkuat perannya sebagai tulang punggung konektivitas laut nasional.
Dengan mengoperasikan 343 lintasan penyeberangan di seluruh Indonesia, termasuk 252 lintasan perintis, ASDP tampil sebagai urat nadi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).
Direktur Utama ASDP Indonesia, Heru Widodo menjelaskan, perusahaan saat ini mengelola 27 cabang, 37 pelabuhan, 343 lintasan, dan 225 kapal yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dari total lintasan tersebut, 252 lintasan atau 73,4 persen merupakan layanan perintis, sedangkan 91 lintasan atau sekitar 26,5 persen merupakan layanan komersial.
Komposisi tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab pelayanan publik yang dipikul ASDP. Lintasan komersial tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menopang keberlangsungan jaringan perintis yang memiliki nilai sosial dan ekonomi tinggi.
Heru kemudian menyoroti posisi strategis layanan ASDP di Indonesia timur. Kawasan tersebut memiliki kontribusi sekitar 13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, tetapi masih membutuhkan penguatan konektivitas untuk mendorong kegiatan ekonomi dan memperluas akses masyarakat.
”Katakanlah 1 minggu saja kapal ASDP terjadi gangguan, maka akan ada potensi terjadi gejolak bahkan inflasi di daerah-daerah. Karena wilayah 3 TP ini masih sangat bergantung pada layanan kapal kami yaitu layanan kapal perintisan,” kata Heru Widodo dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Karena itu, lanjut Heru, keberadaan ASDP tidak hanya berkaitan dengan perpindahan penumpang dan kendaraan. Kapal-kapalnya juga menopang distribusi kebutuhan pokok, pergerakan komoditas, dan akses masyarakat terhadap pusat-pusat ekonomi.
Dampak Ekonomi Melampaui Laba
Perusahaan Heru memaparkan, berdasar hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), dampak ekonomi ASDP Group terus meningkat.
Nilai tambah bruto yang dikaitkan dengan aktivitas perusahaan tumbuh dari sekitar Rp 28,8 triliun pada 2019 menjadi Rp 41,74 triliun pada 2025. Dari sisi fiskal, kontribusi langsung ASDP kepada negara tercatat sebesar Rp 1,55 triliun.
Perusahaan juga turut menciptakan sekitar 12.800 kesempatan kerja per tahun, terdiri atas 4.400 tenaga kerja langsung dan 8.400 tenaga kerja di sektor pendukung.
”Angka tersebut memperlihatkan bahwa layanan penyeberangan memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Selain menggerakkan mobilitas masyarakat dan barang, operasional ASDP ikut menopang lapangan kerja, penerimaan negara, serta aktivitas ekonomi di sekitar pelabuhan dan lintasan penyeberangan,” ungkapnya.
Dalam skala korporasi, Heru menyebut ASDP memiliki dua anak usaha, yakni Jembatan Nusantara dan PT Indonesia Ferry Property.
Perusahaan juga menjalankan tiga portofolio bisnis utama, yaitu penyeberangan, pelayanan pelabuhan, serta bisnis penunjang untuk mengoptimalkan aset perusahaan. Berdasarkan data Clarksons, ASDP menempati peringkat pertama dunia berdasarkan jumlah kapal, peringkat ketiga berdasarkan deadweight tonnage, dan peringkat ke-27 berdasarkan gross tonnage.
Baca juga : KMP Hafamati HF Segera Hadir, ASDP Perkuat Konektivitas Kepulauan Nias Selatan
Perusahaan juga menyampaikan peringkat korporasi IdAA+ serta tingkat kesehatan AAA, dengan opini auditor wajar dalam semua hal yang material pada laporan keuangan 2025.
Pendapatan Naik, Laba Bersih Tertekan
Di balik peran strategis tersebut, ASDP menghadapi pekerjaan rumah dalam menjaga kinerja keuangan.
Heru menyampaikan, perusahaan mencatat pencapaian indikator kinerja utama atau key performance indicator (KPI) sebesar 100,33 persen dan pangsa pasar sebesar 39,36 persen pada 2025.
Pendapatan meningkat dari Rp 4,332 triliun pada 2022 menjadi Rp 4,96 triliun pada 2025. Namun, laba bersih justru turun dari Rp585 miliar menjadi Rp285 miliar dalam periode yang sama.
Heru menjelaskan, tekanan laba antara lain berkaitan dengan komitmen perusahaan meningkatkan keselamatan, pelayanan, dan keamanan operasional.
Usia kapal yang semakin tua turut meningkatkan kebutuhan perawatan dan biaya pemeliharaan.
Heru menjelaskan, tekanan terhadap laba tidak terlepas dari meningkatnya biaya pemeliharaan armada yang sudah berusia tua.
Perusahaan tetap harus memperkuat keselamatan, pelayanan, dan keamanan operasional, sehingga kebutuhan perawatan kapal menjadi salah satu beban yang terus meningkat.
”Karena kapal kalau sudah tua pasti cost untuk servisnya akan meningkat. Di satu sisi boros. Kemudian yang kedua untuk maintenance-nya pasti akan semakin menambah biaya,” bilangnya.
Meski menghadapi tekanan tersebut, ASDP memasang target pendapatan Rp 5,6 triliun pada 2026, atau tumbuh 13,2 persen dibandingkan 2025.
Perusahaan juga menargetkan laba minimal sekitar Rp 500 miliar melalui optimalisasi biaya, penguatan sinergi induk dan anak usaha, serta pengembangan bisnis.
Pertumbuhan ditargetkan terjadi pada seluruh lini usaha. Pada bisnis penyeberangan, ASDP membidik kenaikan jumlah perjalanan kapal sebesar 13 persen, penumpang 19 persen, dan kendaraan 16 persen.
Pada bisnis pelabuhan, jumlah penumpang ditargetkan tumbuh 9 persen dan kendaraan 4 persen, sedangkan bisnis penunjang SPBBK ditargetkan tumbuh 13 persen.
Pengembangan fasilitas pelabuhan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas layanan. ASDP juga menyiapkan pembangunan dan pengembangan dermaga di Bangka dan Batam untuk meningkatkan kesiapan infrastruktur menghadapi pertumbuhan permintaan transportasi laut.
Baca juga : ASDP Hadir Dalam Duka Sampaikan Tali Kasih Bagi Keluarga Korban KM Arupadhatu I
Selain itu, perusahaan mencatat kontribusi dalam pelaksanaan stimulus ekonomi pemerintah pada periode puncak mobilitas masyarakat, meliputi libur sekolah, Natal dan Tahun Baru, serta angkutan Lebaran.
Peremajaan Armada Menjadi Pekerjaan Mendesak
Di balik besarnya jaringan layanan dan kontribusi ekonomi tersebut, ASDP menghadapi persoalan mendasar berupa penuaan armada.
Heru mengungkapkan, sekitar 55 persen kapal ASDP Group diproyeksikan berusia lebih dari 30 tahun hingga 2030. Sebanyak 72 persen armada juga masih berukuran di bawah 1.000 gross tonnage (GT).
Perusahaan mengidentifikasi sekitar 116 kapal menghadapi risiko penurunan aspek keselamatan. Selain itu, sebanyak 79 kapal menggunakan mesin yang suku cadangnya sudah tidak lagi diproduksi.
Kondisi tersebut memperberat pemeliharaan dan berpotensi menghambat kesiapan operasional. Biaya perawatan armada pun meningkat hingga 31 persen dalam lima tahun terakhir. Dengan usia kapal yang semakin tua, kebutuhan perbaikan cenderung membesar, sementara perusahaan dituntut menjaga keselamatan dan keandalan layanan di ratusan lintasan.
”Oleh karena itu, kami fokus untuk mempercepat transformasi Amada, kemudian meningkatkan kapasitas pelabuhan dan memperkuat kualitas layanan agar ASDP mampu menjawab tantangan sekaligus peluang pertumbuhan tersebut secara berkelanjutan,” sebutnya.
Heru mengungkapkan, mengacu pada data DNV Maritim Service Trends dan Clarkson Research Study, usia kapal yang semakin tua pasti akan berkolerasi dengan semakin tingginya biaya perawatan, kemudian akan semakin menurunnya tingkat keamanan dan keselamatan.
Oleh karena itu, ASDP memandang peremajaan kapal sebagai suatu yang sangat urgen dan penting sekali.
”Bukan hanya untuk efektivitas operasional, tetapi juga untuk menjaga keselamatan pelayaran dan memastikan demand masyarakat yang harus tumbuh dapat terlayani dengan kapal yang berukuran lebih besar dan lebih aman,” tambahnya.
Investasi Rp 23,49 Triliun untuk 46 Kapal dan 55 Proyek
Pelabuhan Untuk menopang strategi tersebut hingga 2030, ASDP memperkirakan kebutuhan investasi mencapai Rp 23,49 triliun.
Anggaran itu direncanakan mencakup pengadaan 46 kapal baru dan pengembangan 55 proyek di 35 pelabuhan. Dari total kapal yang direncanakan, sebanyak 18 unit akan mendukung pengembangan lintasan jarak jauh, 15 unit memperkuat 14 lintasan eksisting, dan 13 unit digunakan untuk peremajaan armada lama.
Adapun 55 proyek pelabuhan mencakup revitalisasi, pembangunan fasilitas baru, serta kerja sama pengembangan dengan mitra.
Heru menegaskan, nilai Rp 23,49 triliun tersebut merupakan nilai keseluruhan proyek, bukan seluruhnya kebutuhan pengeluaran kas langsung perusahaan, karena sebagian pengadaan dapat menggunakan skema kerja sama atau charter.
”Kami menyampaikan angka ini secara transparan agar Bapak Ibu sekalian dapat memahami segala kebutuhan investasi kami ke depan dan tentunya ini dalam rangka menjawab tantangan luma tahun ke depan.
Keselamatan Tidak Boleh Ditawar
Baca juga : Lari Sore Hingga Konser Musik, ASDP Ajak Warga Ramaikan Bakauheni Harbour City
Sementara anggota Komisi VI DPR RI Kawendra menegaskan bahwa keselamatan pelayaran tidak boleh ditawar. Ia mendorong ASDP membangun budaya keselamatan yang berorientasi pada nol kecelakaan atau zero accident, bukan sekadar memenuhi batas indikator kinerja.
Kawendra menilai perubahan budaya kerja harus berjalan seiring dengan pembaruan armada dan peningkatan standar operasional.
Menurut dia, keselamatan harus menjadi orientasi utama dalam setiap keputusan bisnis, terutama ketika perusahaan mengoperasikan kapal berusia tua pada lintasan yang sangat vital bagi masyarakat.
”Saya kalau bicara soal keselamatan tentu kita tidak boleh ada tawar-menawar. Rasanya kita perlu dorong juga (peremajaan kapal) kalau memang ini demi keselamatan, kita perlu dorong apa yang diharapkan,” ujarnya.
Ketergantungan Merak-Bakauheni Jadi Alarm Diversifikasi
Sementara anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto mendorong agar ASDP dapat lepas dari ketergantungan pendapatan terhadap lintasan tertentu.
Dia menyoroti dominasi lintasan Merak-Bakauheni yang disebut menyumbang sekitar 74 persen pendapatan ASDP.
Darmadi menilai kKetergantungan yang tinggi terhadap satu lintasan dinilai menyimpan risiko bagi keberlanjutan bisnis.
Jika terjadi gangguan operasional, perubahan pola perjalanan, atau tekanan terhadap kinerja lintasan utama tersebut, dampaknya berpotensi langsung memengaruhi pendapatan perusahaan.
”Saya minta strategi konkret. ASDP harus punya strategi breakthrough untuk peningkatan kinerja, peningkatan pelayanan,” seru Darmadi.
Kawendra menambahkan, manajemen tidak hanya mengandalkan lintasan yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama.
Menurut dia, ASDP perlu mengembangkan formula bisnis baru dan memperluas kontribusi dari wilayah lain, terutama Indonesia timur yang kebutuhan konektivitasnya masih besar.
Ia juga menilai peluang pengelolaan lintasan di wilayah Maluku dan kawasan timur lainnya patut dipertimbangkan.
Ekspansi tersebut dapat membuka sumber pertumbuhan baru sekaligus memperkuat konektivitas di daerah yang selama ini belum memperoleh layanan optimal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya