Dark/Light Mode

IHSG Kembali Jatuh

Jumat, 16 Oktober 2026 07:40 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh lagi. Setelah terkoreksi pada perdagangan sehari sebelumnya, indeks saham domestik ambles 1,33 persen ke level 5.863,78, pada penutupan perdagangan Kamis (15/10/2026).

IHSG ditutup melemah 79,24 poin dari posisi sebelumnya di level 5.943,02. IHSG dibuka di level 5.917,13, tetapi tak mampu bertahan dan terus bergerak di bawah penutupan hari sebelumnya.

Tekanan jual meluas di pasar saham domestik. Sebanyak 567 saham ditutup melemah, berbanding 108 saham yang menguat. Sementara itu, 120 saham lainnya berakhir stagnan.

Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 35,212 miliar saham dengan nilai Rp 13,436 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 1.690.450 kali. Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 10.298,148 triliun.

Tekanan terhadap IHSG datang dari kombinasi sentimen global dan domestik. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pelemahan rupiah, hingga kenaikan imbal hasil obligasi AS ikut membayangi pergerakan pasar.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G. Hutapea menyinggung kebijakan suku bunga The Fed yang lebih agresif, serta ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi dan tekanan terhadap perekonomian global.

Baca juga : Terkait Dugaan Suap Perizinan Hingga Audit, KPK OTT Bupati Klaten

Selain itu, ketidakpastian konflik Timur Tengah membuat harga minyak dunia bertahan di atas 105 dolar AS per barel. Situasi ini turut meningkatkan risiko fiskal ke depan.

“Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor dua tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).

Menurut Erwin, memburuknya sentimen pasar global mendorong investor menghindari aset berisiko. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap aliran modal portofolio ke negara-negara berkembang, terutama ketika imbal hasil obligasi AS meningkat.

Meski menghadapi tekanan eksternal, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD), atau sejak awal kuartal berjalan, tercatat terbatas sebesar 0,17 persen.

Cadangan devisa Indonesia juga masih terjaga. BI mencatat cadangan devisa mencapai 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar luar negeri (offshore) maupun domestik. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga kelancaran mekanisme pasar.

Baca juga : ‘Rangkulisme’ Prabowo Efektif Jaga Tensi Politik

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan memastikan kecukupan likuiditas. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar turut diintensifkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” papar Erwin.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan pasar global dan Asia. Salah satu pemicunya adalah data inflasi AS pada September 2026 yang tumbuh 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh dari target inflasi The Fed.

Kenaikan inflasi tersebut dinilai berpotensi membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish atau kebijakan moneter ketat. Pasar bahkan memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) sebelum akhir 2026.

Menurut Herditya, arah kebijakan yang lebih ketat berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Kondisi tersebut dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga : Golkar Sumut Rampungkan Pembentukan Badan Saksi

“Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5 persen serta akan meningkatkan outflow dari EM,” ulasnya.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama juga melihat tekanan terhadap IHSG dipicu sentimen negatif dari luar dan dalam negeri. Pelemahan rupiah serta kenaikan imbal hasil US Treasury menjadi salah satu pemicunya.

Menurut Elandry, kondisi tersebut menekan risk appetite atau selera risiko investor global terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Tekanan itu tercermin dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp 182,94 miliar hingga penutupan perdagangan sesi I. Tekanan pasar juga terjadi ketika regulator menjalankan agenda reformasi pasar modal. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, sebelumnya mengungkapkan bahwa potensi penurunan IHSG ke level 5.000-an telah diperhitungkan sejak Februari 2026.

Saat itu, regulator memperkirakan reformasi pasar modal akan memicu koreksi indeks sebagai bagian dari proses normalisasi. Namun, tekanan yang terjadi ternyata tidak hanya berasal dari reformasi, tetapi juga dipengaruhi sentimen eksternal.

“Kami pikir ini akibat reformasi saja, akan terjadi normalisasi sejauh itu,” ucap Hasan dalam acara BIG Market Insights 2026 yang digelar Bisnis Indonesia Group, Kamis (8/10/2026). UMM/MEN

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.