Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Arema FC Dibantai Persija, Walisson Maia Minta Maaf kepada Aremania
- Inter Milan Tekuk Shakhtar Donetsk, Carlos Augusto Jadi Penentu
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
RM.id Rakyat Merdeka - Banjir yang melanda sejumlah wilayah Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) telah surut, tetapi dampaknya masih dirasakan warga di Guo, Kecamatan Kuranji, dan Lubuk Minturun.
Rumah yang rusak, usaha yang terganggu, kebutuhan pangan, air bersih, pakaian, hingga listrik menjadi persoalan yang harus dipulihkan warga secara bertahap setelah bencana.
Kedai milik Itra Yoni di depan rumahnya menjadi salah satu gambaran beratnya pemulihan tersebut. Perempuan berusia 40 tahun itu baru dua pekan kembali menata kedainya setelah sebelumnya memperbaiki rumah dan tempat usaha yang rusak akibat banjir pada akhir 2025.
Namun, pada Sabtu (10/10/2026), banjir kembali menerjang Kampung Guo, Kelurahan Kuranji. Kedai yang baru ditata untuk berjualan kembali hanyut, sedangkan etalase yang baru dibeli rusak.
Bagi Itra, bencana bukan hanya membuat rumah dan tempat usaha kembali berantakan, tetapi juga menambah beban biaya dan membuat usaha kecil yang belum sepenuhnya pulih harus dirintis dari awal.
“Alhamdulillah, saya dan keluarga selamat. Untuk makan sehari-hari masih bisa diusahakan, tetapi memperbaiki rumah dan membeli barang yang rusak tidak mudah,” kata Itra.
Baca juga : Banjir Sumatera: Cuaca Sudah Diramal, Hutan Tidak Dijaga
Kesulitan serupa juga dirasakan warga di Lubuk Minturun. Liza Febria mengaku sempat terjebak selama sekitar dua jam sebelum akhirnya diselamatkan tim yang berada di sekitar lokasi.
“Ibu terjebak dua jam sampai ada tim sekitar yang menyelamatkan kami untuk bisa keluar dari banjir,” ujarnya.
Liza juga mengatakan air datang secara mendadak dan sirene peringatan yang diharapkan dapat memberi tanda tidak berbunyi saat banjir terjadi. Setelah berhasil dievakuasi, warga masih harus membersihkan rumah dari lumpur dan material yang terbawa arus.
Banjir bandang tersebut terjadi setelah hujan lebat yang turun sejak sekitar pukul 16.00 WIB. Kondisi itu turut berdampak pada infrastruktur kelistrikan di sejumlah wilayah.
Menurut keterangan PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat, sejumlah tiang listrik roboh atau miring dan jaringan tegangan rendah mengalami kerusakan, terutama di wilayah kerja Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tabing dan ULP Kuranji.
Petugas melakukan pengamanan dan penormalan jaringan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan keselamatan. PLN juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mendukung akses menuju titik terdampak.
Baca juga : Menteri PU Instruksikan Penanganan Banjir Padang & 14 Titik Longsor Tapan-Jambi
“Bagi kami, memastikan listrik kembali menyala harus berjalan seiring dengan memastikan keselamatan masyarakat. Pada rumah yang mengalami kerusakan berat, pasokan listrik sementara kami amankan untuk mencegah risiko yang dapat membahayakan penghuni,” kata General Manager PLN UID Sumatera Barat Ririn Rachmawardini.

Dalam perkembangan penanganan pada 11 Oktober, sebagian besar pelanggan terdampak telah kembali mendapatkan pasokan listrik. Namun, dua rumah pelanggan di wilayah Tabing yang mengalami kerusakan berat masih diisolasi aliran listriknya untuk mencegah bahaya.
Selain pemulihan listrik, bantuan kebutuhan dasar juga disalurkan kepada warga terdampak. PLN UID Sumatera Barat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pada 11 Oktober menyalurkan 150 porsi makanan siap saji bagi warga terdampak di Guo, Kuranji.
“Ketika banjir datang dan membuat masyarakat harus menghadapi berbagai keterbatasan, tentu ada banyak hal yang menjadi kekhawatiran, mulai dari kondisi rumah hingga kebutuhan keluarga sehari-hari. Karena itu, kami ingin hadir dan membantu masyarakat,” ujar Ririn.
Bantuan kemudian berlanjut melalui Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Padang. Pada Minggu (11/10/2026), bantuan berupa nasi bungkus, mi instan, dan minuman hangat disalurkan kepada warga terdampak serta petugas gabungan di Lubuk Minturun dan Guo.
Pada Senin (12/10), PLN UID Sumatera Barat kembali menyalurkan bantuan TJSL berupa sembako, pakaian untuk orang dewasa dan anak-anak, serta air bersih bagi warga di Guo Kuranji dan Lubuk Minturun.
Baca juga : Menteri PU Kerahkan Pompa Dan Ekskavator Tangani Banjir Di Padang
Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar warga ketika aktivitas rumah tangga belum sepenuhnya kembali normal. Namun, kebutuhan warga tidak berhenti pada bantuan darurat karena perbaikan rumah dan pemulihan mata pencaharian membutuhkan waktu dan sumber daya lebih besar.
Kisah Itra menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dapat berlangsung lebih lama dibandingkan masa tanggap darurat. Sementara pengalaman Liza memperlihatkan pentingnya keselamatan, kesiapsiagaan, serta dukungan bagi warga setelah banjir menerjang.
Di Guo dan Lubuk Minturun, pemulihan berlangsung melalui berbagai upaya, mulai dari penyaluran makanan, sembako, pakaian, dan air bersih hingga pengamanan serta perbaikan jaringan listrik.
Banjir dapat datang dalam hitungan jam, tetapi menata kembali kehidupan membutuhkan waktu lebih panjang. Bagi warga terdampak, harapan tumbuh dari hal-hal sederhana, seperti tersedianya makanan, air bersih, rumah yang aman, listrik yang kembali menyala, serta kesempatan untuk kembali bekerja dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya