Dark/Light Mode

Menhut: Tren Hotspot Karhutla Menurun, tapi Belum Aman

Senin, 31 Agustus 2026 13:43 WIB
Foto: Kemenhut.
Foto: Kemenhut.

RM.id  Rakyat Merdeka - Tren titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara nasional mulai menunjukkan penurunan.

Namun, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli menegaskan kondisi tersebut belum berarti ancaman Karhutla telah berakhir, sehingga penanganan harus terus dilakukan, terutama di kawasan gambut.

“Secara nasional saya ingin laporkan kepada masyarakat Indonesia, sekali lagi kondisi kita belum aman dari karhutla, namun tren secara nasional juga menurun, membaik,” kata Menhut Raja Juli usai Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026).

Rakor tersebut digelar bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Danrem 044/GAPO, Kejaksaan Tinggi Sumsel, Danlanud SMH Palembang Kolonel Asep Wahyu Wijaya, Danlanal Palembang Kolonel Arry Hendrawan, perwakilan DPRD Provinsi Sumsel, serta para bupati dan wali kota se-Sumatera Selatan.

Baca juga : Cegah Karhutla Meluas, Menhut Tutup Sementara 9 Taman Nasional

Berdasarkan data tren harian hotspot di enam provinsi prioritas pada 29-30 Agustus 2026, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah turun dari 1.116 menjadi 308 titik atau sebesar 72,4 persen.

Penurunan juga terjadi di Kalimantan Barat, dari 899 menjadi 455 titik atau 49,4 persen. Sementara di Kalimantan Selatan turun dari 108 menjadi 18 titik atau 83,3 persen, dan Riau dari tiga menjadi nol titik atau 100 persen.

Namun, kondisi berbeda terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi. Hotspot di Sumatera Selatan naik dari 37 menjadi 39 titik, sedangkan di Jambi meningkat dari satu menjadi dua titik.

Khusus Sumatera Selatan, data hotspot harian dalam lima hari terakhir masih menunjukkan fluktuasi.

Baca juga : Kemenhut Evakuasi Orangutan Lemas Di Ketapang, Diduga Terdampak Asap

Tercatat 62 titik pada 26 Agustus, meningkat menjadi 157 titik pada 27 Agustus, kemudian turun menjadi 81 titik pada 28 Agustus, 37 titik pada 29 Agustus, dan kembali naik menjadi 39 titik pada 30 Agustus.

Menhut Raja Juli mengingatkan bahwa penurunan jumlah hotspot tidak serta-merta berarti persoalan asap telah selesai.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius, khususnya di wilayah gambut yang memiliki karakteristik api bawah permukaan.

“Tapi sekali lagi, hotspot ini tidak menandakan bahwa tidak ada asap, karena nature-nya gambut, meskipun tidak ada apinya, asapnya tetap selalu ada,” ujarnya.

Baca juga : Pemadaman Karhutla Terkendala Air & Angin

Menurut Raja Juli, proses pendinginan dan pembasahan harus dilakukan secara intensif dan berulang. Langkah tersebut penting untuk mencegah titik api kembali muncul.

“Apabila tidak diadakan pendinginan, pembasahan atau pendinginan yang intensif, yang berkali-kali, ini masih berpotensi menjadi fire spot kembali,” tuturnya. 

Raja Juli menegaskan pemerintah akan terus melakukan penanganan Karhutla. Namun, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terlebih Indonesia saat ini menghadapi kondisi El Nino yang sangat kuat.

“Kami berharap kerja sama semua pihak, baik masyarakat, kepala desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, sampai seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama berpartisipasi menyelesaikan masalah ini,” sambung Raja Juli.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.