Dark/Light Mode

Tata Puji Sugiono: Menteri Boleh Berganti, Arah Politik Luar Negeri RI Tetap

Senin, 12 Oktober 2026 22:13 WIB
Menlu Arrmanatha Nasir yang akrab disapa Tata dalam konferensi pers di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Senin (12/10/2026). (Foto: YouTube Kemlu)
Menlu Arrmanatha Nasir yang akrab disapa Tata dalam konferensi pers di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Senin (12/10/2026). (Foto: YouTube Kemlu)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pendahulunya, Sugiono.

Sugiono menjabat Menlu sejak 21 Oktober 2024 hingga 12 Oktober 2026, sebelum menyerahkan jabatan kepada Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, pada Senin (12/10/2026).

"Pagi tadi, saya baru saja melakukan serah terima jabatan dengan Bapak Sugiono yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Karena itu pada kesempatan ini izinkan saya membuka briefing pertama saya dengan satu hal: terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Sugiono," kata Tata dalam konferensi pers di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Dalam pandangannya, dua tahun terakhir bukanlah masa yang mudah. Geopolitik makin rumit. Dunia bergerak dari satu krisis ke krisis berikutnya.

Baca juga : Arrmanatha Nasir Resmi Terima Jabatan Menlu

"Tapi di tengah semua itu, Pak Sugiono memastikan politik luar negeri kita tetap konsisten pada prinsip bebas aktif dan amanat konstitusi. Itulah yang saya akan lanjutkan, saya perkuat dan saya jaga," papar Tata. 

"Ini bukan halaman baru. Ini adalah bab berikutnya di buku yang sama," imbuhnya.

Tata pun menekankan satu hal yang menurutnya paling mendasar: menteri boleh berganti, tapi arah politik luar negeri Indonesia tidak.

"Kompas kita bukan selera pribadi seorang menteri," ujarnya.

Baca juga : Titi Kamal, Pertahankan Gaya Rambut Demi Suami

Menurut Tata, konstitusi 1945 sudah memberikan arah yang sangat jelas: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

"Empat tujuan itu tidak pernah berubah sejak tahun 1945, dan tidak akan berubah besok pagi. Inilah yang kita sebut sebagai Principle Diplomacy. Diplomasi yang berpijak pada prinsip," tutur Tata.

Indonesia Harus Menjadi Kepastian

Tata membeberkan, di dunia yang semakin tidak menentu seperti saat ini, prinsip semakin berperan penting. Ketika banyak hal yang berubah dengan cepat, dunia mencari mitra yang tidak berubah-ubah.

"Di dunia yang serba tidak pasti, Indonesia harus menjadi kepastian. Konsisten itu bukan kaku. Konsisten itu berarti bisa dipegang kata-katanya," tegas Tata.

Baca juga : Prabowo Candai Sugiono: Sudah Betah Jadi Menko PMK Atau Mau Balik Jadi Menlu?

"Negara yang konsisten akan dipercaya, dan negara yang dipercaya akan diandalkan. Kepercayaan adalah modal diplomasi paling mahal, yang telah kita bangun bertahun-tahun," tandasnya.  

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.