Dark/Light Mode

Buku The Architecture of Risk: Berani Mengambil Risiko Tak Sama Dengan Nekat

Selasa, 6 Oktober 2026 16:08 WIB
Renaldy Pujiansyah membahas buku The Architecture of Risk yang merekam perjalanan, kegagalan, dan cara memahami risiko dalam mengambil keputusan.
Renaldy Pujiansyah membahas buku The Architecture of Risk yang merekam perjalanan, kegagalan, dan cara memahami risiko dalam mengambil keputusan.

RM.id  Rakyat Merdeka - Apa yang membedakan keberanian mengambil risiko dengan kenekatan? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu benang merah buku The Architecture of Risk, yang merekam perjalanan dan pemikiran Renaldy Pujiansyah melalui tulisan jurnalis Mima Safa serta sejumlah catatan personal Renaldy.

Buku ini tidak disusun sebagai kisah sukses yang bergerak lurus dari kesulitan menuju pencapaian. Sebaliknya, pembaca diajak melihat bagaimana keputusan, keberhasilan, kegagalan, dan pengalaman hidup secara bertahap membentuk cara seseorang memahami risiko.

Dalam bab Risk Taker, Renaldy membedakan keberanian dan kenekatan melalui analogi perjalanan. Menurutnya, orang yang berani tetap mengambil risiko, tetapi memahami tujuan, memetakan jalan, dan memperhitungkan berbagai kemungkinan sebelum melangkah.

Sementara itu, kenekatan digambarkan sebagai keberanian untuk berjalan tanpa persiapan dan perhitungan yang memadai.

Baca juga : Luncurkan Buku, Rifyan Ridwan Saleh Deklarasi Maju Ketum PB HMI

Dari sini, judul The Architecture of Risk menemukan maknanya. Risiko bukan sekadar sesuatu yang diambil, melainkan perlu dibaca, dipetakan, diperhitungkan, kemudian dipilih.

Namun, perhitungan tidak selalu berujung pada kemenangan.

Bab Retak dari Dalam memperlihatkan fase ketika sejumlah hal yang telah dibangun Renaldy justru mengalami keruntuhan. Kegagalan bisnis membawa konsekuensi finansial sekaligus personal.

Pada fase ini, risiko tidak lagi sekadar berbicara tentang keberanian mengambil keputusan. Risiko juga berkaitan dengan keberanian menghadapi konsekuensi ketika keputusan yang diambil ternyata tidak berjalan sesuai harapan.

Baca juga : Bappenas Luncurkan Buku MotoGP Mandalika

Perjalanan Renaldy kemudian berkembang ke berbagai tema, mulai dari kepemimpinan, relasi, spiritualitas hingga pembangunan bisnis.

Pengalaman tersebut melahirkan sejumlah kerangka berpikir, antara lain hierarki data, informasi, strategi, teori hingga kebijaksanaan. Gagasan lain yang dibahas adalah Perception Economy yang muncul dalam pembahasan Opinix.

Salah satu pembeda buku ini adalah penggunaan dua suara. Mima Safa membawa perspektif jurnalistik dalam merekam perjalanan Renaldy. Sementara pada sejumlah bagian, pembaca menemukan tulisan personal Renaldy.

Beberapa di antaranya berjudul Kalau Sudah Besar, Catatan Rantau, Gelap Itu Temanku, Kursi Paling Sepi, hingga Legacy.

Baca juga : Luncurkan Buku Sejarah Dan Risalah, Muzani Ajak Rawat Memori Konstitusi

Perpaduan tersebut membuat The Architecture of Risk tidak sepenuhnya menjadi biografi, buku bisnis, ataupun memoar. Ketiga pendekatan tersebut bertemu dalam satu rangkaian perjalanan hidup dan pemikiran.

Pada akhirnya, setelah mengulas keberanian, kegagalan, bisnis, dan kepemimpinan, buku ini bermuara pada pertanyaan yang lebih sederhana: untuk apa seseorang ingin sukses?

Renaldy menjawabnya dengan kalimat singkat, “Untuk memiliki pilihan.”

Kalimat tersebut sekaligus merangkum gagasan utama The Architecture of Risk. Buku ini tidak menawarkan kehidupan tanpa risiko, tetapi mengajak pembaca memahami risiko agar dapat menentukan pilihan dan mengetahui risiko mana yang layak diperjuangkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.