Dark/Light Mode

Teken Memorandum Badr

Indonesia Bidik Inovasi Teknologi Pertahanan

Sabtu, 24 Oktober 2026 07:20 WIB
Dari kiri, Menteri Pertahanan Nasional Turki Yaşar Güler, Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun, Perdana Menteri sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif, dan Wakil Menteri Pertahanan RI Yusuf Jauhari menandatangani Memorandum Badr untuk memperkuat kerja sama industri pertahanan, di Doha, Qatar, Rabu (21/10/2026). (Foto: X/Defence_Turk_EN)
Dari kiri, Menteri Pertahanan Nasional Turki Yaşar Güler, Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun, Perdana Menteri sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif, dan Wakil Menteri Pertahanan RI Yusuf Jauhari menandatangani Memorandum Badr untuk memperkuat kerja sama industri pertahanan, di Doha, Qatar, Rabu (21/10/2026). (Foto: X/Defence_Turk_EN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia bergabung dengan Qatar, Turki dan Pakistan menandatangani “Memorandum Badr” di Doha, Qatar, pada 21 Oktober 2026.

Memorandum Badr ditandatangani oleh pejabat pertahanan dari empat negara. Wakil Menteri Pertahanan Yusuf Jauhari, Menteri Pertahanan Nasional Turki Yasar Guler, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Negara untuk urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, serta Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif, menjadi penandatangan kesepakatan tersebut.

Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun juga menandatangani kesepakatan tersebut bersama Guler.

Baca juga : Dubes Qatar Sultan bin Mubarak Saad Ingin Ikut Lari Bareng AHY & Garuda Finisher

Memorandum Badr, yang berarti bulan purnama, ditujukan untuk mendorong kerja sama dalam produksi militer, penguatan kapabilitas militer dan dukungan kolaborasi dalam pelatihan, penelitian dan pengembangan militer teknis.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan, Indonesia akan mengoptimalkan kemitraan pertahanan tersebut.

“Dalam hal ini kita bermitra dengan negara-negara yang sudah dipertimbangkan memiliki kualifikasi dan kompatibilitas dalam mendukung peningkatan kemampuan produksi Indonesia,” kata Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl A. Mulachela dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Baca juga : Para Diplomat Kedubes AS Kembali Ngepos Di Timteng

Dia menjelaskan, Memorandum Badr secara khusus mengatur sejumlah bidang kerja sama, antara lain riset dan pengembangan serta alih teknologi.

Kemudian, kolaborasi industri dan manufaktur untuk membuka peluang investasi dari kerja sama pembuatan alutsista yang tangguh dan kompetitif, serta pengembangan sumber daya manusia untuk industri pertahanan.

“Langkah ini akan mendorong inovasi teknologi pertahanan melalui penggabungan kepakaran keempat negara,” terangnya.

Baca juga : Rapat 4 Jam di BPKP, Hashim & Ara Bahas Pembentukan Tim Kawal Investasi Qatar

Menurut Nabyl, Memorandum Badr juga sejalan dengan upaya Indonesia melakukan diversifikasi mitra internasional dalam pengembangan kerja sama pertahanan. “Intinya, kemitraan ini bisa memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global,” tandasnya. [DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.