Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Hari Ini Seorang Presiden, Besok Bisa Siapa Saja Kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin beradab. Artificial Intelligence (AI) telah membuka pintu yang beberapa dekade lalu mungkin hanya dapat kita bayangkan. Ia membantu manusia belajar, bekerja, menerjemahkan bahasa, mengolah informasi, mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan mempercepat berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu sangat panjang.
Karena itu, saya tidak ingin menempatkan AI sebagai musuh. AI tidak membenci. AI tidak mempunyai dendam. AI tidak bangun pada pagi hari lalu memutuskan hendak memfitnah seseorang. Manusialah yang menentukan untuk apa teknologi digunakan.
Masalah muncul ketika kecanggihan yang luar biasa ini jatuh ke tangan orang-orang yang menggunakannya untuk memanipulasi kenyataan.
Sebuah wajah dapat direkayasa. Suara dapat ditiru. Foto dapat dibuat seolah-olah autentik. Video dapat memperlihatkan seseorang melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah ia lakukan. Kata-kata dapat ditempelkan ke mulut seseorang yang tidak pernah mengucapkannya.
Di situlah teknologi yang seharusnya membantu peradaban dapat berubah menjadi instrumen penyesatan ketika diperalat oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Bukan Soal Trump, saya tertarik menulis masalah ini setelah melihat bagaimana perkembangan teknologi dapat digunakan dalam pertarungan informasi dan politik.
Tetapi sejak awal saya ingin menegaskan: ini bukan soal apakah kita menyukai atau tidak menyukai Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam demokrasi, seorang presiden boleh dikritik. Kebijakannya boleh diperdebatkan. Pernyataannya boleh dibantah. Bahkan kritik yang keras merupakan bagian dari kehidupan demokratis selama berada dalam koridor hukum dan kebebasan berekspresi.
Namun kritik berbeda dengan pemalsuan kenyataan. Fenomena itu bukan kekhawatiran hipotetis. Dalam kampanye pemilu sela Amerika Serikat 2026, Reuters mendokumentasikan penggunaan video deepfake politik yang realistis tetapi direkayasa. Sejumlah negara bagian Amerika Serikat kemudian berusaha mengatur penggunaan materi AI dalam komunikasi politik, meskipun regulasi tersebut juga memunculkan perdebatan serius mengenai batas antara perlindungan terhadap publik dan kebebasan berbicara.
Karena itu persoalan yang harus kita bicarakan jauh lebih besar daripada Donald Trump.
Hari ini sasaran manipulasi mungkin seorang Presiden Amerika Serikat. Di ruang dan waktu yang berbeda, kebencian politik dapat diarahkan kepada Vladimir Putin, Xi Jinping, Prabowo Subianto, Joko Widodo, pemimpin-pemimpin lainnya, ataupun orang yang sama sekali tidak mempunyai jabatan politik.
Saya menyebut nama-nama tersebut bukan untuk mengatakan bahwa mereka mengalami kasus manipulasi AI yang sama. Setiap tuduhan harus dibuktikan secara tersendiri. Saya menyebutnya untuk mengingatkan satu prinsip: Siapa pun tidak boleh kehilangan hak atas kebenaran hanya karena kita tidak menyukai dirinya atau pandangan politiknya.
Hari ini mungkin seorang presiden. Besok mungkin saya. Lusa mungkin Anda. Dan suatu hari bisa saja anak-anak kita. Saya Pun Pernah Merasakannya.
Persoalan ini terasa dekat bagi saya karena dalam kehidupan di ruang publik saya sendiri berkali-kali menghadapi materi digital yang saya nilai memanipulasi atau menyalahgunakan representasi diri saya.
Pengalaman seperti itu membuat saya semakin memahami satu hal: begitu teknologi mampu menciptakan realitas sintetis yang sangat meyakinkan, korban tidak harus seorang kepala negara.
Baca juga : Kepentingan Nasional Di Atas Segala-galanya
Seorang ulama bisa menjadi korban.Guru, wartawan, pengusaha, pejabat, aktivis, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan seorang anak dapat menjadi korban.
Bayangkan sebuah video palsu dibuat menggunakan wajah seorang guru seolah-olah ia melakukan perbuatan tercela. Bayangkan suara seorang ayah direkayasa lalu dikirim kepada keluarganya. Bayangkan seorang perempuan ditempatkan melalui manipulasi digital dalam gambar yang tidak pernah dibuatnya.
Dalam hitungan menit reputasi yang dibangun puluhan tahun dapat dipertanyakan oleh ribuan orang. Kebohongannya dapat dibuat dalam beberapa menit. Tetapi membersihkan nama seseorang mungkin membutuhkan bertahun-tahun.
Ketika Mata dan Telinga Tidak Lagi Cukup
Inilah perubahan besar yang sedang terjadi. Dahulu kita sering berkata: “Saya percaya karena saya melihatnya sendiri.” Sekarang kalimat itu tidak selalu cukup. Kita juga biasa berkata: “Saya mendengar sendiri suaranya.” Itu pun tidak selalu cukup.
Teknologi generatif memungkinkan penciptaan konten sintetis berupa gambar, video, teks dan suara. UNESCO telah memperingatkan bahwa generative AI membawa manfaat besar sekaligus risiko, antara lain disinformasi, masalah reliabilitas sumber, pelanggaran privasi dan ancaman terhadap integritas proses demokratis.
Maka masyarakat harus memperoleh keterampilan baru.Bukan hanya kemampuan membaca informasi, tetapi kemampuan meragukan secara sehat apa yang tampak terlalu sempurna untuk langsung dipercaya. Dari mana video itu berasal? Siapa yang pertama mengunggahnya? Adakah versi lengkapnya? Apakah media yang kredibel telah memverifikasinya Apakah ada sumber primer? Apakah gambar dan suara tersebut autentik?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sekarang merupakan bagian dari pertahanan masyarakat terhadap manipulasi.
Tabayyun Menjadi Etika Digital
Dalam tradisi Islam terdapat sebuah prinsip yang sangat relevan menghadapi zaman ini: tabayyun.
Periksa kabar sebelum mempercayainya. Jangan tergesa-gesa meneruskannya.
Jangan sampai ketidaktahuan kita menyebabkan orang lain terzalimi, kemudian setelah kebenaran muncul kita hanya dapat menyesal.
Dahulu prinsip itu berlaku terhadap kabar yang dibawa manusia dari mulut ke mulut.
Hari ini tabayyun harus diterapkan terhadap WhatsApp, X, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube dan semua bentuk komunikasi digital—terlebih ketika AI mampu menciptakan materi yang tampak dan terdengar meyakinkan.
UNESCO sendiri menempatkan literasi media dan informasi sebagai salah satu unsur penting dalam menghadapi synthetic media dan generative AI. UNESCO juga menekankan bahwa penanganan disinformasi harus tetap berjalan bersama perlindungan kebebasan berekspresi dan hak masyarakat memperoleh informasi.
Karena itu, tabayyun tidak berarti mencurigai seluruh teknologi. Tabayyun berarti bertanggung jawab sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Jangan Salahkah Teknologinya
Kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak pada kesimpulan bahwa AI adalah sumber seluruh masalah.
Baca juga : Prabowo–Putin Semakin Akrab Bukti Kemajuan Indonesia-Rusia
Pisau dapat digunakan dokter untuk menyelamatkan manusia, tetapi dapat pula digunakan seseorang untuk melukai.
Kamera dapat merekam sejarah, tetapi gambar dapat pula dimanipulasi.
Internet dapat menyebarkan ilmu pengetahuan, tetapi dapat pula menyebarkan kebohongan.
Teknologinya tidak mempunyai moralitas sendiri seperti manusia.
Karena itu pertanyaan terpenting bukan hanya: Seberapa canggih AI yang dapat kita bangun?
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Manusia seperti apa yang akan menggunakan kecanggihan itu?
Di sinilah pendidikan, agama, keluarga, pers, negara, perusahaan teknologi, perguruan tinggi dan masyarakat sipil mempunyai tanggung jawab bersama.
Kita membutuhkan literasi AI. Kita membutuhkan mekanisme verifikasi. Kita membutuhkan transparansi ketika konten sintetis digunakan. Kita membutuhkan media profesional yang tidak ikut mengejar viralitas dengan mengorbankan verifikasi.
Dan perusahaan teknologi pun harus terus meningkatkan mekanisme yang membantu masyarakat membedakan materi autentik dari materi sintetis.
Namun pada akhirnya teknologi secanggih apa pun tidak dapat menggantikan hati nurani manusia.
Kritiklah, Tetapi Jangan Memalsukan
Saya ingin mempertahankan satu garis yang sangat jelas. Kita tidak boleh menggunakan kekhawatiran terhadap deepfake sebagai alasan membungkam kritik.
Presiden, menteri, anggota parlemen, pemimpin partai dan semua pejabat publik harus siap dikritik. Demokrasi membutuhkan kritik. Kekuasaan membutuhkan pengawasan. Pers membutuhkan kebebasan.
Tetapi kebebasan mengkritik tidak sama dengan kebebasan memalsukan kenyataan. Kritiklah siapa pun sekeras yang diperlukan. Bantahlah kebijakannya. Perdebatkan gagasannya. Tetapi jangan menciptakan ucapan yang tidak pernah ia ucapkan, tindakan yang tidak pernah ia lakukan, atau gambar palsu untuk menghancurkan martabatnya.
Prinsip tersebut harus berlaku sama. Untuk orang yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai.
Untuk kawan maupun lawan politik. Untuk penguasa maupun oposisi. Sebab kalau kita membenarkan kebohongan hanya karena hari ini korbannya adalah orang yang kita benci, kita sedang menciptakan senjata yang besok dapat diarahkan kepada diri kita sendiri.
Yang Kita Bela Adalah Kebenaran
Baca juga : Bebas Aktif Dan Strategi Akal Sehat Diplomasi
Dunia sedang memasuki masa ketika kemampuan menciptakan informasi berkembang hampir sama cepatnya dengan kemampuan menciptakan kebohongan.
Ini tantangan besar bagi pers, demokrasi dan kehidupan bermasyarakat. Tetapi saya tetap optimistis terhadap teknologi.
AI dapat menjadi salah satu pencapaian besar manusia apabila ditempatkan untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan produktivitas, membantu pendidikan dan menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan.
Karena itu jangan salahkan AI atas kebencian manusia. Jangan salahkan teknologinya. Lawan penyalahgunaannya.
Dan jangan pula menunggu sampai diri kita sendiri menjadi korban baru menyadari betapa berbahayanya manipulasi digital.
Hari ini mungkin Donald Trump atau tokoh dunia lainnya. Besok mungkin seorang Presiden Indonesia.
Lusa mungkin seorang kepala desa, guru, ulama atau wartawan.
Dan setelah itu mungkin saya atau Anda. Maka yang sedang kita bela sesungguhnya bukan Trump, Putin, Xi Jinping, Prabowo, Jokowi, saya, ataupun tokoh tertentu.
Yang kita bela adalah kebenaran. Sebab ketika masyarakat tidak lagi mampu membedakan antara kenyataan dan fabrikasi, yang runtuh bukan hanya nama baik seseorang.
Yang perlahan-lahan runtuh adalah kepercayaan kita kepada sesama.
Dan ketika kepercayaan itu hilang, masyarakat akan membayar harga yang sangat mahal.
Di zaman ketika mata dapat ditipu oleh gambar dan telinga dapat diperdaya oleh suara buatan, tabayyun bukan lagi sekadar nasihat moral. Ia telah menjadi kebutuhan peradaban.
Prof Ali Mochtar Ngabalin
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri & Hubungan Internasional
Visiting Professor of International Relations, Toms State University (TSU), Siberia Federasi Russia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya